Standardized Precipitation Index (SPI)
SPI adalah indeks yang digunakan untuk menentukan penyimpangan curah hujan terhadap normalnya, dalam suatu periode waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dst). Nilai SPI dihitung menggunakan metoda statistik probabilistik distribusi gamma. Berdasarkan nilai SPI ditentukan tingkat kekeringan dan kebasahan dengan kategori sebagai berikut :
a. Tingkat Kekeringan :
- Sangat Kering : Jika nilai SPI ≤ -2,00 dengan probabilitas 2,3%
- Kering : Jika nilai SPI -1,50 s/d -1,99 dengan probabilitas 4,4%
- Agak Kering : Jika nilai SPI -1,00 s/d -1,49 dengan probabilitas 9,2%
b. Normal : Jika nilai SPI -0,99 s/d 0,99 dengan probabilitas 68,2%
c. Tingkat Kebasahan :
- Sangat Basah : Jika nilai SPI ≥ 2,00 dengan probabilitas 2,3%
- Basah : Jika nilai SPI 1,50 s/d 1,99 dengan probabilitas 4,4%
- Agak Basah : Jika nilai SPI 1,00 s/d 1,49 dengan probabilitas 9,2%
Kekeringan Meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya dalam jangka waktu yang panjang (bulanan, dua bulanan, tiga bulanan dan seterusnya).
Curah Hujan Tiga Bulanan adalah jumlah curah hujan selama tiga bulan, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung nilai SPI.
Analisis Indeks Kekeringan Dan Kebasahan Meteorologis Bulan Juli Sampai September 2016
Berdasarkan data-data yang kami terima dari 197 stasiun (pos hujan) sampai dengan awal bulan November 2016, maka analisis kekeringan dan kebasahan dengan metode SPI bulan Agustus - September - Oktober 2016 adalah sebagai berikut :
| KRITERIA | KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN |
| Sangat Kering | Tidak terjadi. |
| Kering | Tidak terjadi. |
| Agak Kering | Tidak terjadi. |
| Normal | Terjadi di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi : Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Malang, Lumajang, Probolinggo, Jember, Banyuwangi, dan Bangkalan. |
Analisis Kebasahan dengan metode SPI bulan Agustus - September - Oktober 2016 adalah sebagai berikut :
| KRITERIA | KABUPATEN / BAGIAN DARI KABUPATEN |
| Agak Basah | Terjadi di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi : Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Jombang, Nganjuk, Madiun, Ngawi, Lamongan, Gresik, Surabaya, Jombang, Batu, Blitar, Kediri, Pasuruan, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Sampang, dan Pamekasan. |
| Terjadi di sebagian hingga sebagian besar kabupaten/kota meliputi : Bojonegoro, Tuban, Malang, Banyuwangi, dan Bangkalan. Serta terjadi di seluruh P. Bawean dan P. Kangean. | |
| Basah | Terjadi di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi : Ponorogo, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Batu, Bangkalan, dan Sampang. |
| Terjadi di sebagian hingga sebagian besar kabupaten/kota meliputi : Pacitan, Trenggalek, Madiun, Nganjuk, Tuban, Lamongan, Gresik, Pasuruan, Malang, Kediri, Blitar, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Sumenep, Banyuwangi, Bangkalan, Sampang, dan Sumenep. | |
| Sangat Basah | Terjadi di sebagian kecil kabupaten/kota meliputi : Madiun, Bojonegoro, Trenggalek, Ponorogo, Tulungagung, Blitar, Surabaya, Pasuruan, Batu, Jember, Situbondo, Banyuwangi, Sampang, dan Pamekasan. |
Kesimpulan :
Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Periode Bulan Agustus - September - Oktober 2016
Monitoring Tingkat Kekeringan dan Kebasahan Meteorologis bulan Agustus - September - Oktober 2016 Provinsi Jawa Timur dengan kriteria : normal (7,10%), agak basah (26,23%), basah (37,16%) dan sangat basah (29,51%).