Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Keragaman iklim Indonesia juga dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain, fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena regional, seperti sirkulasi angin monsun Asia – Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
-
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi prakiraan musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prakiraan musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prakiraan Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
Penentuan awal musim dilakukan untuk tipe ZOM dengan lebih dari 1 musim sedangkan ZOM dengan tipe 1 musim tidak ditentukan awal musim.
Meskipun begitu, pada edisi buku PMH 2023/2024 ini, terdapat beberapa ZOM dengan kondisi hujan sepanjang tahun 2023 belum mendapatkan kemarau yang disebut dengan Musim Hujan Sepanjang 2023 dan beberapa ZOM dengan kondisi hujan per Juli 2023 sudah memasuki musim hujan yang disebut dengan Sudah Masuk Musim Hujan.
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Dilakukan untuk parameter prakiraan awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing- masing parameter prakiraan tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu prakiraan datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu prakiraan datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu prakiraan datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu prakiraan durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu prakiraan durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu prakiraan durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
No Zom Daerah Kota/Kabupaten Normal Awal Musim Hujan Normal Panjang Musim
(Dasarian)Normal Curah Hujan
(mm) -
No ZOM Daerah Kota/Kabupaten Normal Awal Musim Hujan Normal Panjang Musim
(Dasarian)Normal Curah Hujan
(mm)Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard276 Bagian barat Pacitan. Oktober I - Oktober III
( Tanggal 1 - 31 Oktober )19 1576 - 2132 277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Oktober I - Oktober III
( Tanggal 1 - 31 Oktober )20 1733 - 2345 278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 1548 - 2094 279 Bagian selatan Trenggalek Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 2040 - 2760 280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1164 - 1574 281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1176 - 1592 282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )19 1552 - 2100 283 Bagian barat Ngawi. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )18 1346 - 1820 284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1167 - 1579 285 Bagian barat Tuban. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )15 881 - 1191 286 Bagian tengah Tuban. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )14 893 - 1209 287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1054 - 1426 288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1320 - 1786 289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1414 - 1914 290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1251 - 1693 291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 1596 - 2160 292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )20 1766 - 2390 293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1125 - 1523 294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1076 - 1456 295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1296 - 1754 296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 1544 - 2090 297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1216 - 1646 298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1238 - 1676 299 Bagian tenggara Lamongan. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1100 - 1488 300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )13 851 - 1151 301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )13 836 - 1132 302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 1158 - 1566 303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )16 1292 - 1748 304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 1206 - 1632 305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 1663 - 2249 306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )18 1945 - 2631 307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )14 1184 - 1602 308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )19 1710 - 2314 309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1502 - 2032 310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )20 2094 - 2832 311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 1634 - 2210 312 Bagian selatan Kabupaten Malang. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )21 1476 - 1998 313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. September II - Oktober I
( Tanggal 11 September - 10 Oktober )29 2074 - 2806 314 Bagian barat Lumajang. September III - Oktober II
( Tanggal 21 September - 20 Oktober )24 1845 - 2497 315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )18 1552 - 2100 316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 1290 - 1746 317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Desember I - Desember III
( Tanggal 1 - 31 Desember )12 782 - 1058 318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. Desember I - Desember III
( Tanggal 1 - 31 Desember )11 719 - 973 319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )20 1873 - 2533 320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )19 1761 - 2383 321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1124 - 1520 322 Bagian tenggara Jember. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1125 - 1521 323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. Oktober II - November I
( Tanggal 11 Oktober - 10 November )18 1704 - 2306 324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1493 - 2019 325 Bagian selatan Bondowoso. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )17 1446 - 1956 326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1319 - 1785 327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )13 1032 - 1396 328 Bagian utara Situbondo. Desember I - Desember III
( Tanggal 1 - 31 Desember )9 660 - 892 329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 1086 - 1470 330 Bagian timur Situbondo. Desember I - Desember III
( Tanggal 1 - 31 Desember )12 830 - 1124 331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )15 1289 - 1743 332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )26 1913 - 2589 333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )17 1244 - 1682 334 Bagian timur Banyuwangi. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 915 - 1237 335 Bagian barat Banyuwangi. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )24 1631 - 2207 336 Bagian selatan Banyuwangi. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )15 934 - 1264 337 Bagian barat Bangkalan. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )17 1086 - 1470 338 Bagian utara Bangkalan. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 954 - 1290 339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )16 1053 - 1425 340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )13 768 - 1038 341 Bagian timur laut Sampang. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 896 - 1212 342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 953 - 1289 343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 893 - 1208 344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 1003 - 1357 345 Bagian tengah-utara Sumenep. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )15 901 - 1219 346 Bagian timur Sumenep. November III - Desember II
( Tanggal 21 November - 20 Desember )13 691 - 935 347 Kepulauan Kangean, Sumenep. November II - Desember I
( Tanggal 11 November - 10 Desember )16 1057 - 1431 348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. Oktober III - November II
( Tanggal 21 Oktober - 20 November )19 1274 - 1724 349 Kepulauan Bawean, Gresik. November I - November III
( Tanggal 1 - 30 November )21 1560 - 2110