Prediksi sifat hujan bulan JULI Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur adalah :
Bawah Normal sebesar : 1,4 %
Normal sebesar : 40,5 %
Atas Normal sebesar : 58,1 %
Sifat Hujan
Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
- Atas Normal (AN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 % - Normal (N)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 % - Bawah Normal (BN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %
Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya sampai dengan awal Bulan April Tahun 2025 dapat diprediksikan Sifat Hujan pada Bulan JULI Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Kamal, Kokop, dan Labang. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Galis, Konang, Kwanyar, dan Modung. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Blega. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Konang dan Modung. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Galis dan Kwanyar. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Bangkalan, Kamal, Kokop, Labang, dan Socah. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Arosbaya, Burneh, Geger, Klampis, Sepulu, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah. BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Bangkalan. BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Socah. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Licin, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Songgon, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Wongsorejo. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Genteng. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Gambiran, Glagah, Glenmore, dan Kalibaru. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Cluring, Giri, Kabat, Kalipuro, Licin, Pesanggaran, Purwoharjo, Sempu, Siliragung, Songgon, Srono, Tegaldlimo, Tegalsari, dan Wongsorejo. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bangorejo, Banyuwangi, Muncar, Rogojampi, dan Singojuruh. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Cluring, Giri, Kabat, Kalipuro, Siliragung, Srono, dan Tegalsari. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Licin, Pesanggaran, dan Sempu. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Gambiran, Genteng, Glagah, Glenmore, dan Kalibaru. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Doko, Ponggok, Talun, Wates, dan Wlingi. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Binangun, Gandusari, dan Kademangan. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bakung, Srengat, dan Udanawu. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Wonodadi. BLITAR Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Udanawu. BLITAR Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Bakung dan Srengat. BLITAR Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Binangun, Doko, Gandusari, Kademangan, Ponggok, Talun, Wates, dan Wlingi. BLITAR Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Garum, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Sutojayan, dan Wonotirto. BOJONEGORO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Balen, Bojonegoro, Kanor, Kapas, dan Sugihwaras. BOJONEGORO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Kepoh Baru dan Sukosewu. BOJONEGORO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Baureno. BOJONEGORO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Baureno. BOJONEGORO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Balen, Bojonegoro, Kanor, Kapas, Kepoh Baru, Sugihwaras, dan Sukosewu. BOJONEGORO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk. BONDOWOSO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Binakal, Grujugan, Maesan, dan Wringin. BONDOWOSO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Cermee, Curah Dami, Jambesari Darus Sholah, Pujer, Tamanan, Tegalampel, dan Tlogosari. BONDOWOSO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bondowoso, Botolinggo, Klabang, Prajekan, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tapen, Tenggarang, dan Wonosari. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Cermee, Jambesari Darus Sholah, Pujer, Tamanan, Tegalampel, dan Tlogosari. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Curah Dami. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Binakal, Grujugan, Maesan, dan Wringin. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Pakem. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Balongpanggang, Bungah, Driyorejo, dan Kedamean. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Benjeng, Cerme, Gresik, Kebomas, Manyar, dan Menganti. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Duduksampeyan. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Cerme, Kebomas, dan Menganti. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Benjeng, Gresik, dan Manyar. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Balongpanggang, Bungah, Driyorejo, dan Kedamean. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Dukun, Panceng, Sangkapura, Sidayu, Tambak, Ujungpangkah, dan Wringinanom. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Kalisat. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Ledokombo. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Ajung, Ambulu, Jelbuk, Jenggawah, Kaliwates, dan Mayang. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Panti, Patrang, Silo, dan Sukorambi. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bangsalsari, Kalisat, Ledokombo, Rambipuji, Sukowono, Sumberjambe, Tanggul, dan Wuluhan. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Balung, Gumuk Mas, Jombang, Kencong, Puger, Semboro, Sumber Baru, dan Umbulsari. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Bangsalsari, Ledokombo, Sukowono, Tanggul, dan Wuluhan. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kalisat, Rambipuji, Sumberjambe, dan Sumbersari. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Ajung, Ambulu, Jelbuk, Jenggawah, Kaliwates, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Silo, dan Sukorambi. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Arjasa dan Tempurejo. JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Ajung, Kaliwates, Mayang, Mumbulsari, dan Pakusari. JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Sumbersari. JOMBANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Diwek, Megaluh, Mojoagung, dan Ngusikan. JOMBANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kabuh, Mojowarno, dan Perak. JOMBANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Bandar Kedung Mulyo, Gudo, dan Plandaan. JOMBANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bareng, Ngoro, dan Wonosalam. JOMBANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Bandar Kedung Mulyo dan Gudo. JOMBANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Plandaan. JOMBANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Diwek, Kabuh, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngusikan, dan Perak. JOMBANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Jogo Roto, Jombang, Kesamben, Kudu, Peterongan, Ploso, Sumobito, dan Tembelang. KEDIRI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Mojo dan Ngadiluwih. KEDIRI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Kandat, Kras, dan Ringinrejo. KEDIRI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Kras. KEDIRI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kandat dan Ringinrejo. KEDIRI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Mojo dan Ngadiluwih. KEDIRI Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kayen Kidul, Kepung, Kunjang, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Semen, Tarokan, dan Wates. KOTA BATU Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Batu dan Junrejo. KOTA BATU Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Batu, Bumiaji, dan Junrejo. KOTA BATU Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Bumiaji. KOTA BLITAR Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. KOTA KEDIRI Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren. KOTA MADIUN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman. KOTA MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Blimbing. KOTA MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Kedungkandang, Klojen, dan Sukun. KOTA MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Kedungkandang. KOTA MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Klojen dan Sukun. KOTA MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Blimbing. KOTA MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Lowokwaru. KOTA MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo. KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih. KOTA SURABAYA Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Lakarsantri. KOTA SURABAYA Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Lakarsantri. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Babat, Karangbinangun, Kembangbahu, Ngimbang, Sugio, dan Sukodadi. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Modo, Tikung, dan Turi. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Deket, Glagah, Kedungpring, Lamongan, dan Sarirejo. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Deket, Lamongan, dan Sarirejo. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Glagah dan Kedungpring. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Babat, Karangbinangun, Kembangbahu, Modo, Ngimbang, Sambeng, Sugio, Sukodadi, Tikung, dan Turi. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bluluk, Brondong, Kalitengah, Karang Geneng, Laren, Maduran, Mantup, Paciran, Pucuk, Sekaran, Solokuro, dan Sukorame. LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Sambeng. LUMAJANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Candipuro, Gucialit, Padang, Pasrujambe, dan Senduro. LUMAJANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Candipuro, Gucialit, Padang, Pasrujambe, Ranuyoso, Senduro, dan Tempursari. LUMAJANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Pasirian, Pronojiwo, Randuagung, Rowokangkung, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, dan Yosowilangun. LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Ranuyoso. LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Tempursari. MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Gemarang dan Wungu. MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Geger dan Kebonsari. MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Dagangan dan Kare. MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Dolopo. MADIUN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Kare. MADIUN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Dagangan. MADIUN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Geger, Gemarang, Kebonsari, dan Wungu. MADIUN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Balerejo, Jiwan, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, dan Wonoasri. MAGETAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Parang. MAGETAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Parang. MAGETAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Poncokusumo dan Tumpang. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Bululawang, Donomulyo, Kalipare, Pagak, Pakisaji, Singosari, Sumbermanjing, Turen, dan Wagir. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Gedangan dan Lawang. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bantur, Dampit, Pakis, Poncokusumo, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, dan Wajak. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Ampelgading dan Jabung. MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Pakis, Tajinan, Tirto Yudo, dan Wajak. MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Bantur dan Dampit. MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Bululawang, Donomulyo, Gedangan, Kalipare, Lawang, Pagak, Pakisaji, Singosari, Sumbermanjing, Turen, dan Wagir. MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Dau, Gondanglegi, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Ngajum, Ngantang, Pagelaran, Pujon, Sumber Pucung, dan Wonosari. MOJOKERTO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Kemlagi, Ngoro, Puri, dan Trawas. MOJOKERTO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Gondang dan Jetis. MOJOKERTO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Dawar Blandong, Dlanggu, dan Jatirejo. MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Dawar Blandong. MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Dlanggu dan Jatirejo. MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Gondang, Jetis, Kemlagi, Ngoro, Pacet, Puri, dan Trawas. MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Bangsal, Gedek, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Pungging, Sooko, dan Trowulan. MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Gondang. MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Pacet. NGANJUK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Gondang dan Ngetos. NGANJUK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Sawahan. NGANJUK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Gondang, Jatikalen, Ngetos, dan Sawahan. NGANJUK Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan. NGANJUK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Jatikalen. NGAWI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Kedunggalar, Ngawi, Paron, dan Pitu. NGAWI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Kedunggalar, Ngawi, Paron, dan Pitu. NGAWI Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngrambe, Padas, Pangkur, Sine, dan Widodaren. PACITAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Arjosari, Bandar, Donorojo, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, Tegalombo, dan Tulakan. PAMEKASAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Batu Marmar, Pamekasan, dan Pegantenan. PAMEKASAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Waru. PAMEKASAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Kadur, Larangan, dan Pademawu. PAMEKASAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Galis dan Pakong. PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Kadur dan Larangan. PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Pademawu. PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Batu Marmar, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, Proppo, dan Waru. PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Pasean dan Tlanakan. PAMEKASAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Palengaan dan Proppo. PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Puspo, Sukorejo, dan Wonorejo. PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Purwodadi dan Tosari. PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Purwosari dan Tutur. PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Purwosari dan Tutur. PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Gempol, Prigen, Purwodadi, Puspo, Sukorejo, Tosari, dan Wonorejo. PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bangil, Beji, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Rejoso, Rembang, dan Winongan. PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Prigen. PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Gempol. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Bungkal dan Ngrayun. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Jetis dan Mlarak. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Sambit dan Sawoo. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Sambit dan Sawoo. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Babadan, Bungkal, Jetis, Mlarak, Ngrayun, Sampung, dan Sukorejo. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Badegan, Balong, Jambon, Jenangan, Kauman, Ngebel, Ponorogo, Pudak, Pulung, Siman, Slahung, dan Sooko. PONOROGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Babadan dan Sampung. PONOROGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Sukorejo. PROBOLINGGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Wonomerto. PROBOLINGGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Bantaran, Krucil, Kuripan, Leces, dan Sukapura. PROBOLINGGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Banyuanyar, Sumber, Tegalsiwalan, dan Tiris. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Sumber dan Tiris. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Banyuanyar dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Bantaran, Krucil, Kuripan, Leces, Sukapura, dan Wonomerto. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sumberasih, dan Tongas. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Robatal. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Camplong dan Omben. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Kedungdung dan Tambelangan. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Jrengik, Pangarengan, Sampang, Sreseh, dan Torjun. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Tambelangan. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kedungdung. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Camplong, Omben, dan Robatal. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Banyuates, Karang Penang, Ketapang, dan Sokobanah. SIDOARJO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Buduran dan Sukodono. SIDOARJO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Gedangan, Sedati, dan Taman. SIDOARJO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Waru. SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Gedangan, Krembung, dan Sedati. SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Porong dan Taman. SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Balong Bendo, Buduran, Jabon, Prambon, Sukodono, Tanggulangin, Tarik, dan Tulangan. SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Candi, Krian, Sidoarjo, dan Wonoayu. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Balong Bendo, Jabon, Tanggulangin, dan Tulangan. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Prambon dan Tarik. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Krembung dan Porong. SITUBONDO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Banyuputih. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Besuki. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Mlandingan dan Suboh. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Arjasa, Banyuputih, Bungatan, Kapongan, dan Panji. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Asembagus, Jangkar, Kendit, Mangaran, Panarukan, dan Situbondo. SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Arjasa, Banyuputih, Bungatan, Kapongan, dan Panji. SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Besuki, Mlandingan, dan Suboh. SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Banyuglugur, Jatibanteng, dan Sumbermalang. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Ganding, Kangayan, dan Pragaan. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Guluk Guluk dan Raas. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Sapeken. SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Ganding, Guluk Guluk, Kangayan, Pragaan, dan Raas. SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Ambunten, Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Gapura, Gayam, Giligenteng, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Rubaru, Saronggi, dan Talango. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Bendungan dan Pogalan. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Pule dan Suruh. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Karangan, Trenggalek, dan Tugu. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Tugu. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Karangan dan Trenggalek. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bendungan, Munjungan, Pogalan, Pule, dan Suruh. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Panggul, dan Watulimo. TRENGGALEK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Munjungan. TUBAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Kenduruan, Kerek, Montong, Palang, Parengan, Semanding, dan Widang. TUBAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Jatirogo, Plumpang, dan Tambakboyo. TUBAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bancar, Grabagan, Rengel, dan Soko. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Rengel dan Soko. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Bancar dan Grabagan. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Jatirogo, Kenduruan, Kerek, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Semanding, Tambakboyo, dan Widang. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bangilan, Jenu, Merakurak, Senori, Singgahan, dan Tuban. TULUNGAGUNG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Rejotangan dan Sendang. TULUNGAGUNG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pakel, Pucang Laban, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Sendang. TULUNGAGUNG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Rejotangan.
( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan JULI Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan Juli ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III JULI dan berakhir pada Dasarian I Oktober.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.