( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur

Prediksi sifat hujan bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur adalah :

Bawah Normal sebesar : -

Normal sebesar : 0,4 %

Atas Normal sebesar : 99,6 %


Sifat Hujan

Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

  1. Atas Normal (AN)
    Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
  2. Normal (N)
    Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
  3. Bawah Normal (BN)
    Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %

Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya sampai dengan awal Bulan Juni Tahun 2025 dapat diprediksikan Sifat Hujan pada Bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:





Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Blega.
BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Modung.
BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Geger, Kamal, dan Tragah.
BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Labang dan Tanah Merah.
BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Blega, Galis, Kokop, Kwanyar, dan Modung.
BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Konang.
BANGKALAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Galis dan Kwanyar.
BANGKALAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Kokop.
BANGKALAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Geger, Kamal, Labang, Tanah Merah, dan Tragah.
BANGKALAN Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Burneh, Klampis, Sepulu, Socah, dan Tanjungbumi.
BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )
Sebagian Kecil: Purwoharjo dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Kecil: Cluring, Kalipuro, Muncar, Purwoharjo, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Gambiran, Glagah, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Cluring, Giri, Kalipuro, Pesanggaran, dan Tegalsari.
BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Banyuwangi, Muncar, Purwoharjo, Siliragung, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )
Seluruh: Bangorejo.
BANYUWANGI Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Banyuwangi, Muncar, dan Siliragung.
BANYUWANGI Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Cluring, Gambiran, Giri, Glagah, Kalipuro, Licin, Pesanggaran, Tegalsari, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Genteng, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, dan Srono.
BANYUWANGI Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Glagah dan Licin.
BANYUWANGI Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Wongsorejo.
BLITAR Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
BOJONEGORO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Kasiman, Kepoh Baru, dan Malo.
BOJONEGORO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Baureno, Kanor, dan Kedewan.
BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Kedewan.
BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Baureno dan Kanor.
BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Kasiman, Kepoh Baru, dan Malo.
BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Balen, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kapas, Kedungadem, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Prajekan.
BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Cermee.
BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Jambesari Darus Sholah dan Maesan.
BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Cermee, Grujugan, Prajekan, Pujer, dan Tlogosari.
BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Binakal, Bondowoso, Botolinggo, Curah Dami, Klabang, Pakem, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Wonosari, dan Wringin.
BONDOWOSO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Grujugan dan Tlogosari.
BONDOWOSO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Pujer.
BONDOWOSO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Jambesari Darus Sholah dan Maesan.
BONDOWOSO Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Tamanan.
GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Driyorejo, Dukun, dan Kedamean.
GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Balongpanggang dan Sidayu.
GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Benjeng, Bungah, Cerme, Gresik, Manyar, dan Menganti.
GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Duduksampeyan, Kebomas, Sangkapura, dan Tambak.
GRESIK Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Cerme, Gresik, dan Manyar.
GRESIK Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Benjeng, Bungah, dan Menganti.
GRESIK Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Balongpanggang, Driyorejo, Dukun, Kedamean, dan Sidayu.
GRESIK Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Panceng, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Puger, Semboro, dan Sumber Baru.
JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Wuluhan.
JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Kalisat, Mayang, Mumbulsari, dan Pakusari.
JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Arjasa, Jelbuk, dan Sumberjambe.
JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Ajung, Jenggawah, Ledokombo, Panti, Patrang, Puger, Semboro, Silo, Sumber Baru, Sumbersari, Tempurejo, dan Wuluhan.
JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Ambulu, Balung, Bangsalsari, Gumuk Mas, Jombang, Kaliwates, Kencong, Rambipuji, Sukorambi, Tanggul, dan Umbulsari.
JEMBER Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Ajung, Ledokombo, Panti, Patrang, dan Sumbersari.
JEMBER Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Jenggawah, Silo, dan Tempurejo.
JEMBER Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Arjasa, Jelbuk, Kalisat, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, dan Sumberjambe.
JEMBER Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Sukowono.
JOMBANG Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Badas, Kandangan, Kepung, Mojo, dan Pare.
KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Ringinrejo dan Wates.
KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Kandat, Kras, dan Ngadiluwih.
KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Kandat.
KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Kras dan Ngadiluwih.
KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Badas, Kandangan, Kepung, Mojo, Pare, Ringinrejo, dan Wates.
KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kayen Kidul, Kunjang, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Semen, dan Tarokan.
KOTA BATU Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Batu.
KOTA BATU Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Junrejo.
KOTA BATU Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Junrejo.
KOTA BATU Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Batu.
KOTA BATU Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bumiaji.
KOTA BLITAR Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
KOTA MADIUN Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
KOTA MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Besar: Bugulkidul, Gadingrejo, dan Purworejo.
KOTA PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )
Seluruh: Panggungrejo.
KOTA PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Purworejo.
KOTA PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Bugulkidul dan Gadingrejo.
KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Kanigaran dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Kademangan.
KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Kademangan.
KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Kanigaran dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Mayangan dan Wonoasih.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Bulak, Karang Pilang, dan Wiyung.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Kenjeran, Mulyorejo, dan Sukolilo.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Asemrowo, Dukuh Pakis, Gayungan, Gunung Anyar, Jambangan, Rungkut, Semampir, Suko Manunggal, dan Tambaksari.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )
Seluruh: Bubutan, Genteng, Gubeng, Krembangan, Pabean Cantian, Sawahan, Simokerto, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wonocolo, dan Wonokromo.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Gayungan, Gunung Anyar, Semampir, dan Tambaksari.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Asemrowo, Dukuh Pakis, Jambangan, Rungkut, dan Suko Manunggal.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Bulak, Karang Pilang, Kenjeran, Lakarsantri, Mulyorejo, Sukolilo, dan Wiyung.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Benowo, Pakal, Sambikerep, dan Tandes.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Karang Pilang.
KOTA SURABAYA Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Lakarsantri.
LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Babat, Karang Geneng, Mantup, Sekaran, dan Sugio.
LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Kalitengah dan Kembangbahu.
LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Karangbinangun, Pucuk, Sarirejo, dan Tikung.
LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Deket, Glagah, Lamongan, Sukodadi, dan Turi.
LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Pucuk dan Sarirejo.
LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Karangbinangun dan Tikung.
LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Babat, Kalitengah, Karang Geneng, Kembangbahu, Mantup, Sekaran, dan Sugio.
LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bluluk, Brondong, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Ngimbang, Paciran, Sambeng, Solokuro, dan Sukorame.
LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Gucialit dan Padang.
LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Candipuro, Pasrujambe, Senduro, dan Tempeh.
LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Pasirian.
LUMAJANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Pasirian.
LUMAJANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Candipuro, Gucialit, Padang, Pasrujambe, Senduro, dan Tempeh.
LUMAJANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, Rowokangkung, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempursari, dan Yosowilangun.
MADIUN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Kare.
MADIUN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Kare.
MADIUN Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MAGETAN Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Jabung dan Wajak.
MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Poncokusumo.
MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Tumpang.
MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Bantur dan Ngajum.
MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Karangploso, Kepanjen, dan Tumpang.
MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Dau, Gedangan, Jabung, Lawang, Pagelaran, Poncokusumo, Singosari, Wagir, dan Wajak.
MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Ampelgading, Bululawang, Dampit, Gondanglegi, Pakis, Pakisaji, Sumbermanjing, Tajinan, Tirto Yudo, dan Turen.
MALANG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Pagelaran.
MALANG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Dau, Gedangan, Lawang, Singosari, dan Wagir.
MALANG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Bantur, Karangploso, Kepanjen, dan Ngajum.
MALANG Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Donomulyo, Kalipare, Kasembon, Kromengan, Ngantang, Pagak, Pujon, Sumber Pucung, dan Wonosari.
MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Dawar Blandong dan Ngoro.
MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Dawar Blandong dan Ngoro.
MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
NGANJUK Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGAWI Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
PACITAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Arjosari dan Sudimoro.
PACITAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Bandar, Nawangan, dan Tegalombo.
PACITAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Nawangan.
PACITAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Bandar dan Tegalombo.
PACITAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Arjosari dan Sudimoro.
PACITAN Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, dan Tulakan.
PAMEKASAN Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Kecil: Larangan dan Pademawu.
PAMEKASAN Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Besar: Galis.
PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Kadur, Palengaan, Pegantenan, dan Tlanakan.
PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Galis dan Pamekasan.
PAMEKASAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Larangan dan Pademawu.
PAMEKASAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Larangan dan Pademawu.
PAMEKASAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Kadur, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, dan Tlanakan.
PAMEKASAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Batu Marmar, Pakong, Pasean, Proppo, dan Waru.
PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Kecil: Gondang Wetan, Kraton, Pohjentrek, dan Rejoso.
PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Bangil, Gempol, Grati, Pasrepan, Purwodadi, Rembang, Sukorejo, dan Winongan.
PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Kejayan dan Wonorejo.
PASURUAN Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Gondang Wetan, Kraton, Lekok, Pohjentrek, Purwosari, dan Rejoso.
PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Gondang Wetan, Kraton, dan Prigen.
PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Lekok dan Purwosari.
PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Bangil, Gempol, Grati, Kejayan, Pandaan, Pasrepan, Purwodadi, Rembang, Sukorejo, Winongan, dan Wonorejo.
PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Beji, Lumbang, Nguling, Puspo, Tosari, dan Tutur.
PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Purwodadi.
PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Gempol dan Pandaan.
PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Prigen.
PONOROGO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Jetis, Mlarak, Sambit, dan Sawoo.
PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Jambon, Kauman, Ngebel, dan Ponorogo.
PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Jenangan dan Pudak.
PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Balong, Jetis, Mlarak, Ngrayun, Pulung, Sambit, Sawoo, dan Siman.
PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Bungkal, Slahung, dan Sooko.
PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Ngrayun dan Siman.
PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Balong dan Pulung.
PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Jambon, Jenangan, Kauman, Ngebel, Ponorogo, dan Pudak.
PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Babadan, Badegan, Sampung, dan Sukorejo.
PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Sumberasih.
PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Sumberasih.
PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto.
SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Sreseh.
SAMPANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Banyuates dan Sreseh.
SAMPANG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Tambelangan, dan Torjun.
SAMPANG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Banyuates.
SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Gedangan, Jabon, dan Tanggulangin.
SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Porong dan Sedati.
SIDOARJO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Waru.
SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Sukodono dan Tulangan.
SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Krembung, Taman, dan Waru.
SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Porong, Sedati, Sidoarjo, dan Tanggulangin.
SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Buduran, Candi, dan Tanggulangin.
SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Sidoarjo.
SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Krembung, Sukodono, Taman, dan Tulangan.
SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Balong Bendo, Krian, Prambon, Tarik, dan Wonoayu.
SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Kecil: Asembagus, Banyuputih, dan Panji.
SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian: Kapongan.
SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )
Sebagian Besar: Mangaran.
SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Banyuputih.
SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Arjasa, Asembagus, Kendit, dan Mangaran.
SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Besar: Jangkar, Kapongan, Panarukan, Panji, dan Situbondo.
SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Jangkar dan Panarukan.
SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Banyuputih, Jatibanteng, dan Situbondo.
SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Besuki, Kendit, Suboh, dan Sumbermalang.
SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Bungatan dan Mlandingan.
SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Asembagus, Suboh, dan Sumbermalang.
SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Banyuglugur dan Besuki.
SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Banyuputih dan Jatibanteng.
SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Bluto, Kalianget, dan Pragaan.
SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Saronggi.
SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Rubaru.
SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Ambunten, Bluto, Dasuk, Ganding, Kalianget, Lenteng, Pasongsongan, Pragaan, dan Saronggi.
SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Dungkek, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kangayan, Kota Sumenep, Manding, Masalembu, Nonggunong, Raas, Sapeken, dan Talango.
SUMENEP Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Dasuk, Ganding, Lenteng, dan Pasongsongan.
SUMENEP Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Ambunten.
SUMENEP Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Rubaru.
TRENGGALEK Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian Kecil: Dongko, Karangan, Pule, dan Suruh.
TRENGGALEK Atas Normal
( 116 - 150 % )
Sebagian: Trenggalek dan Tugu.
TRENGGALEK Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Bendungan, Dongko, Karangan, Panggul, Pule, Suruh, Trenggalek, dan Tugu.
TRENGGALEK Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Durenan, Gandusari, Kampak, Munjungan, Pogalan, dan Watulimo.
TRENGGALEK Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Bendungan.
TRENGGALEK Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Panggul.
TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Widang.
TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Palang, Parengan, Plumpang, dan Soko.
TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Grabagan, Rengel, Semanding, dan Senori.
TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Bancar, Bangilan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Singgahan, Tambakboyo, dan Tuban.
TUBAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Grabagan, Rengel, Semanding, dan Senori.
TUBAN Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Palang, Parengan, Plumpang, Soko, dan Widang.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Kecil: Karangrejo dan Kedungwaru.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian: Kalidawir.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Sebagian Besar: Boyolangu, Kauman, Pager Wojo, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( 151 - 200 % )
Seluruh: Bandung, Besuki, Campur Darat, Gondang, Pakel, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Kecil: Kauman.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian: Boyolangu, Pager Wojo, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( > 200 % )
Sebagian Besar: Kalidawir, Karangrejo, dan Kedungwaru.
TULUNGAGUNG Atas Normal
( > 200 % )
Seluruh: Ngantru, Ngunut, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, dan Sumbergempol.


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan

    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan

    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  4. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  5. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan AGUSTUS ).

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III AGUSTUS dan berakhir pada Dasarian I Oktober.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  12. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.