Prediksi sifat hujan bulan FEBRUARI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Desember Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur adalah :
Bawah Normal sebesar : 18,8 %
Normal sebesar : 81,1 %
Atas Normal sebesar : 0,1 %
Sifat Hujan
Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
- Atas Normal (AN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 % - Normal (N)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 % - Bawah Normal (BN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %
Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya sampai dengan awal Bulan Januari Tahun 2026 dapat diprediksikan Sifat Hujan pada Bulan FEBRUARI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Desember Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Galis, Kamal, dan Kokop. BANGKALAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Blega. BANGKALAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Konang. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Konang. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Blega, Galis, Kamal, dan Kokop. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Burneh, Geger, Klampis, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Glenmore. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Kalibaru. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Cluring, Glenmore, Kalibaru, Purwoharjo, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bangorejo, Banyuwangi, Gambiran, Genteng, Giri, Glagah, Kabat, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Rogojampi, Sempu, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegalsari, dan Wongsorejo. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Cluring, Glenmore, Purwoharjo, dan Tegaldlimo. BLITAR Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Garum, Kanigoro, Nglegok, Sanankulon, Udanawu, dan Wonotirto. BLITAR Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Selorejo dan Wonodadi. BLITAR Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Kademangan. BLITAR Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Bakung. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Kademangan. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Garum, Kanigoro, Nglegok, Sanankulon, Selorejo, Udanawu, Wonodadi, dan Wonotirto. BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Binangun, Doko, Gandusari, Kesamben, Panggungrejo, Ponggok, Selopuro, Srengat, Sutojayan, Talun, Wates, dan Wlingi. BOJONEGORO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk. BONDOWOSO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Binakal, Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Pujer, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Tlogosari, Wonosari, dan Wringin. GRESIK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Gresik. GRESIK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Bungah. GRESIK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Balongpanggang, Duduksampeyan, Kebomas, Manyar, dan Wringinanom. GRESIK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Benjeng, Cerme, Driyorejo, Kedamean, Menganti, Sangkapura, dan Tambak. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Balongpanggang, Duduksampeyan, dan Kebomas. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Manyar dan Wringinanom. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bungah dan Gresik. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Dukun, Panceng, Sidayu, dan Ujungpangkah. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Silo. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Silo. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Gumuk Mas, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Puger, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Sumbersari, Tanggul, Tempurejo, Umbulsari, dan Wuluhan. JOMBANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Mojoagung. JOMBANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Mojoagung. JOMBANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam. KEDIRI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Ringinrejo. KEDIRI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Mojo. KEDIRI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Kras. KEDIRI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Kras. KEDIRI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Mojo dan Ringinrejo. KEDIRI Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Kunjang, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Semen, Tarokan, dan Wates. KOTA BATU Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Batu. KOTA BATU Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Junrejo. KOTA BATU Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Junrejo. KOTA BATU Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Batu. KOTA BATU Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bumiaji. KOTA BLITAR Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Sananwetan dan Sukorejo. KOTA BLITAR Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Kepanjenkidul. KOTA BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Sananwetan. KOTA BLITAR Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Sukorejo. KOTA KEDIRI Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren. KOTA MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman. KOTA MALANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun. KOTA MOJOKERTO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo. KOTA PROBOLINGGO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih. KOTA SURABAYA Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Gunung Anyar. KOTA SURABAYA Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Rungkut. KOTA SURABAYA Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Mulyorejo, Sukolilo, dan Tenggilis Mejoyo. KOTA SURABAYA Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Pabean Cantian, Pakal, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo. KOTA SURABAYA Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Mulyorejo dan Tenggilis Mejoyo. KOTA SURABAYA Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Sukolilo. KOTA SURABAYA Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Gunung Anyar dan Rungkut. LAMONGAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Deket, Kembangbahu, Mantup, Paciran, Solokuro, dan Tikung. LAMONGAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Brondong dan Glagah. LAMONGAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Sarirejo. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Sarirejo. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Brondong, Deket, Glagah, Kembangbahu, Mantup, Paciran, Solokuro, dan Tikung. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Babat, Bluluk, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Lamongan, Laren, Maduran, Modo, Ngimbang, Pucuk, Sambeng, Sekaran, Sugio, Sukodadi, Sukorame, dan Turi. LUMAJANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang, Pasirian, Pasrujambe, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, Rowokangkung, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Tempursari, dan Yosowilangun. MADIUN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Saradan. MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Saradan. MADIUN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu. MAGETAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Kawedanan dan Parang. MAGETAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Lembeyan. MAGETAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Lembeyan. MAGETAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Kawedanan dan Parang. MAGETAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Dau, Kalipare, dan Wonosari. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Kromengan dan Sumber Pucung. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Kromengan dan Sumber Pucung. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Dau, Kalipare, dan Wonosari. MALANG Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Ampelgading, Bantur, Bululawang, Dampit, Donomulyo, Gedangan, Gondanglegi, Jabung, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Singosari, Sumbermanjing, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, Turen, Wagir, dan Wajak. MOJOKERTO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Trowulan. MOJOKERTO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Dawar Blandong. MOJOKERTO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Dawar Blandong dan Trowulan. MOJOKERTO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, dan Trawas. NGANJUK Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan. NGAWI Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren. PACITAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Donorojo dan Tegalombo. PACITAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Bandar, Punung, dan Tulakan. PACITAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Arjosari, Kebonagung, Nawangan, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, dan Sudimoro. PACITAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Tulakan. PACITAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Bandar dan Punung. PACITAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Donorojo dan Tegalombo. PAMEKASAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru. PASURUAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Balong, Bungkal, Pulung, Sampung, Siman, dan Sukorejo. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Ngrayun dan Sawoo. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Jetis, Mlarak, dan Sambit. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Mlarak. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Jetis dan Sambit. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Balong, Bungkal, Ngrayun, Pulung, Sampung, Sawoo, Siman, dan Sukorejo. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Babadan, Badegan, Jambon, Jenangan, Kauman, Ngebel, Ponorogo, Pudak, Slahung, dan Sooko. PROBOLINGGO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto. SAMPANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Banyuates, Robatal, dan Sreseh. SAMPANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Sokobanah, dan Tambelangan. SAMPANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Camplong, Omben, Pangarengan, Sampang, dan Torjun. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Sokobanah, dan Tambelangan. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Banyuates, Robatal, dan Sreseh. SIDOARJO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Prambon, Sukodono, Tarik, dan Waru. SIDOARJO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Balong Bendo dan Wonoayu. SIDOARJO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Taman. SIDOARJO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Krian. SIDOARJO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Taman. SIDOARJO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Balong Bendo, Prambon, Sukodono, Tarik, Waru, dan Wonoayu. SIDOARJO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Porong, Sedati, Sidoarjo, Tanggulangin, dan Tulangan. SITUBONDO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Kapongan. SITUBONDO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Mangaran. SITUBONDO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Arjasa, Mlandingan, dan Sumbermalang. SITUBONDO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Asembagus dan Panarukan. SITUBONDO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Banyuglugur, Banyuputih, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Mangaran, Panji, Situbondo, dan Suboh. SITUBONDO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Besuki. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Jangkar dan Kapongan. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Banyuglugur, Banyuputih, Jatibanteng, Panji, Situbondo, dan Suboh. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Mlandingan, Panarukan, dan Sumbermalang. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bungatan dan Kendit. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Gapura, Kalianget, dan Kangayan. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Batang Batang, Batuan, Batuputih, Kota Sumenep, Manding, Raas, dan Talango. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Ambunten, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Lenteng, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, dan Saronggi. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Batang Batang, Batuan, Batuputih, Manding, dan Raas. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Kota Sumenep dan Talango. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Gapura, Kalianget, dan Kangayan. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Arjasa dan Sapeken. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Bendungan dan Munjungan. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Kampak, Suruh, dan Trenggalek. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Karangan, Panggul, Pogalan, dan Watulimo. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Durenan dan Gandusari. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Pogalan. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Karangan, Panggul, dan Watulimo. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Bendungan, Kampak, Munjungan, Suruh, dan Trenggalek. TRENGGALEK Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Dongko, Pule, dan Tugu. TUBAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Jenu dan Montong. TUBAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Merakurak. TUBAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Jatirogo, Kenduruan, dan Kerek. TUBAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Jatirogo, Kenduruan, dan Kerek. TUBAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Jenu, Merakurak, dan Montong. TUBAN Normal
( 85 - 115 % )Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Ngunut, Pager Wojo, Rejotangan, dan Sendang. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Pakel, Pucang Laban, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Ngunut, Pager Wojo, dan Rejotangan. TULUNGAGUNG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Sendang.
( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan FEBRUARI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Desember Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari FEBRUARI sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan DESEMBER ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III DESEMBER dan berakhir pada Dasarian I DESEMBER.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.