Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di wilayah Jawa Timur pada bulan September 2022 pada umumnya KURANG .
TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : CUKUP di Terjadi di Sebagian kecil wilayah Jawa Timur
Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman berada di atas 60%.
TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : SEDANG
Sebagian kecil : Tuban, Bojonegoro, Ngawi, Magetan, Nganjuk, Ponorogo, Trenggalek, Jombang, Mojokerto, Malang, Kota Batu, Kota Surabaya, Sidoarjo dan Sumenep
Sebagian : Blitar dan Bondowoso
Sebagian besar : Madiun, Tulungagung, Kediri, Kota Kediri, Pasuruan, Lumajang, Kota Probolinggo, Jember, Situbondo dan Banyuwangi
Seluruh : Probolinggo
Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.
TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : KURANG
Sebagian kecil : Madiun, Kediri, Kota Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan Kota Probolinggo
Sebagian : -
Sebagian besar : Tuban, Bojonegoro, Nganjuk, Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, Kota Surabaya, Sumenep
Seluruh : Lamongan, Gresik, Kota Mojokerto, Kota Pasuruan, Bangkalan, Sampang dan Pamekasan
Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.
( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) Bulan September Tahun 2022 di Provinsi Jawa Timur merupakan evaluasi kejadian yang telah terjadi selama bulan September 2022, yang digunakan sebagai masukan dalam pembuatan prediksi tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan berikutnya.
1. Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 33.1 – 35.0°C.
Suhu Udara Maksimum Absolut merupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.
Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan September 2022 (0 C)
- <27.0 (0 C): -
- 27.1 – 29.0 (0 C): -
- 29.1 – 31.0 (0 C): Tretes Pasuruan dan Banyuwangi
- 31.1 – 33.0 (0 C): Pacitan, Sangkapura Gresik, Malang, Malang/ Abdul Rachman Saleh dan Sawahan Nganjuk
- 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Juanda Sidoarjo, Geofisika Malang dan Kalianget Sumenep
- >35.0 (0 C): Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya
2. Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 21.1 – 23.0°C.
Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.
Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan September 2022 (0 C)
- <17.0(0 C): Malang, Tretes Pasuruan
- 17.1 - 19.0 (0 C): Malang/ Abdul Rachman Saleh, Sawahan Nganjuk
- 19.1 – 21.0 (0 C): Geofisika Malang dan Banyuwangi
- 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Maritim Perak II Surabaya
- 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik
- > 25.0 (0 C): -
3. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembaban Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 80 – 90%.
lokasi pengamatan dengan kelembapan udara rata-rata harian terendah di Indonesia pada bulan september tahun 2022 adalah Pelabuhan Tanjung Perak I - Surabaya (Jawa Timur), dengan kelembapan rata-rata sebesar 70.2%.
- <70 : -
- 70 – 75 %: Tanjung Perak I Surabaya, Tanjung Perak II Surabaya, Tuban, Kalianget Sumenep dan Sawahan Nganjuk
- 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Malang dan Banyuwangi
- 80 – 85 %: Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
- 85 – 90 %: -
- >90 %: -
4. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 101 – 150 mm.
- 0 - 25 (mm) : -
- 26 - 50 (mm) : -
- 51 - 75 (mm) : -
- 76 - 100 (mm) : -
- 101 - 125 (mm) : Klimatologi Malang dan Karang Kates Malang
- 126 – 150 (mm) : Sangkapura Gresik, Maritim Perak II Surabaya dan Sawahan Nganjuk
- 151 – 175 (mm) : Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi.
- >175 (mm) : Kalianget Sumenep
5. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 3.01 – 5.00 mm.
- 0.00 – 1.00 (mm) : -
- 1.01 – 2.00 (mm) : -
- 2.01 – 3.00 (mm) : -
- 3.01 – 4.00 (mm) : Karangkates Malang
- 4.01 – 5.00 (mm) : Sangkapura Gresik, Maritim Perak II Surabaya, Klimatologi Malang dan Sawahan Nganjuk.
- 5.01 – 6.00 (mm) : Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi.
- 6.01 – 7.00 (mm) : Kalianget Sumenep
- 7.01 – 8.00 (mm) : -
- > 8.00 (mm) : -
6. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 20 – 60%.
- 0 – 20 %: -
- 20 – 40 %: -
- 40 – 60 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan dan Karangkates Malang
- 60 – 80 %: Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
- >80 %: -
7. Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 umumnya pada kisaran 76 – 125 mm.
Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan September 2022
- 0 – 25 mm : -
- 26 – 50 mm : -
- 51 – 75 mm : -
- 76 – 100 mm : Pacitan, Tanjung Perak II Surabaya, Tuban dan Geofisika Malang
- 101 – 125 mm : Madiun, Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
- 126 – 150 mm : Perak I Surabaya dan Tretes Pasuruan
- 151 – 175 mm : Kalianget Sumenep
- >175 mm : -
8. Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 sebagian besar mengalami Surplus.
-
Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT di wilayah Jawa Timur meliputi : Madiun, Tretes Pasuruan, Kalianget Sumenep, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi
Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan Curah Hujan (CH) < evapotranspirasi potensial (ETp), sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).
-
Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN di wilayah Jawa Timur meliputi : Sangkapura Gresik, Tuban, Surabaya, Malang/ Abdul Rahmansaleh
Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).
-
Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS di wilayah Jawa Timur meliputi : Pacitan, Juanda Sidoarjo, Malang, Karangkates Malang
Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).
9 Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan September 2022 : Ringan
- RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) :
Sebagian kecil : -
Sebagian : -
Sebagian besar : Jawa Timur
Seluruh : -
- SEDANG (16.77 – 33.33) :
Sebagian kecil : Tuban, Bojonegoro, Jombang, Bangkalan, dan Banyuwangi
Sebagian : Gresik dan Sampang,
Sebagian besar : Lamongan, Pamekasan dan Sumenep,
Seluruh : -
- BERAT (>33.33) :
Sebagian kecil : Lamongan dan Gresik
Sebagian : Sumenep
Sebagian besar : -
Seluruh : -
Data Kandungan Air Tanah bulan September 2022 beberapa tempat di Jawa Timur
- Pacitan : 300
- Madiun : 230
- Stamet Sangkapura Gresik : 243
- Stamet Tuban : 180
- Stamet Juanda Sidoarjo : 350
- Stamet Surabaya : 198
- Staklim Malang : 302
- Stageof Tretes Pasuruan : 210
- Malang/ Abdul Rachman Saleh : 297
- Stageof Karangkates Malang : 350
- Stamet Kalianget Sumenep : 152
- Stageof Sawahan Nganjuk : 211
- Stamet Banyuwangi : 207
ISTILAH – ISTILAH
Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.
Suhu Udara Maksimum Absolut merupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.
Kelembaban Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.
Kelembaban udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:
RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4
Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.
Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.
Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.
Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.
Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).
Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :
((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%
dengan kriteria sebagai berikut :
- Kurang
: jika ketersediaan air tanah < 40%
- Sedang
: jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
- Cukup
: jika ketersediaan air tanah > 60%
Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.
Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).
Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).
Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).
Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).
Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :
Ia = (D/PE)x100.
Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:
Tingkat Kekeringan :
- Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
- Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
- Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.
Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).
Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.
Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.
Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembaban Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.
Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :
AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000
Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :
ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1
dimana:
Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t
Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1
Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2
RHt-1 = kelembaban udara pada bulan ke t-1