( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2023 di Provinsi Jawa Timur ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Juni Tahun 2023 di Provinsi Jawa Timur

Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Sebagian wilayah di Provinsi Jawa Timur pada bulan Juni Tahun 2023 pada umumnya Sebagian CUKUP .



TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : Sebagian CUKUP di Terjadi di Sebagian wilayah Jawa Timur

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman berada di atas 60%.


TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : SEDANG

Kota Madiun dan Kota Jember

Sebagian kecil : Magetan, Nganjuk, Blitar, Jombang, Malang, Mojokerto, Kota Surabaya, Gresik, Banyuwangi, Bangkalan, Sampang, dan Sumenep.

Sebagian : Kediri, Tuban, Pasuruan, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Pamekasan

Sebagian besar : Ngawi, Madiun, Kota Kediri, Bojonegoro, Lumajang dan Jember

Seluruh : Kota Madiun dan Kota Jember

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.


TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : KURANG

Lamongan, Kota Mojokerto, Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo

Sebagian kecil : Bojonegoro, Nganjuk, Kediri, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Bondowoso.

Sebagian : Tuban, Mojokerto, Kota Surabaya, Situbondo

Sebagian besar : Jombang, Gresik, Banyuwangi, Sumenep

Seluruh : Lamongan, Kota Mojokerto, Sidoarjo, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.


( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) Bulan Juni Tahun 2023 di Provinsi Jawa Timur merupakan evaluasi kejadian yang telah terjadi selama bulan Juni Tahun 2023, yang digunakan sebagai masukan dalam pembuatan prediksi tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan berikutnya.



1. Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 31.1 – 35.0°C.

Suhu Udara Maksimum Absolut merupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Juni Tahun 2023 (0 C)

  • <27.0 (0 C): -
  • 27.1 – 29.0 (0 C): -
  • 29.1 – 31.0 (0 C): Malang, Tretes Pasuruan, dan Sawahan Nganjuk.
  • 31.1 – 33.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Malang, Kalianget Sumenep, dan Banyuwangi.
  • 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, dan Karangkates Malang.
  • >35.0 (0 C): -


2. Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 21.1 – 25.0°C.

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Juni Tahun 2023 (0 C)

  • <17.0(0 C): -
  • 17.1 - 19.0 (0 C): Klimatologi Malang, Malang, dan Sawahan.
  • 19.1 – 21.0 (0 C): Pacitan, dan Karangkates Malang.
  • 21.1 – 23.0 (0 C): Madiun, Perak I Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi.
  • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo dan Perak II Surabaya.
  • > 25.0 (0 C): -


3. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembapan Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 80 – 85%.

  • <70 : -
  • 70 – 75 %: Perak I Surabaya, Perak II Surabaya dan Tuban.
  • 75 – 80 %: Sangkapura Gresik, Juanda Sidoarjo, Karangploso Malang, Sawahan Nganjuk dan Banyuwangi.
  • 80 – 85 %: Tretes Pasuruan, Karangkates Malang, dan Kalianget Sumenep.
  • 85 – 90 %: -
  • >90 %: -


4. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

  • 0 - 25 (mm) : -
  • 26 - 50 (mm) : -
  • 51 - 75 (mm) : -
  • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
  • 101 - 125 (mm) : Karangploso Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 126 – 150 (mm) : Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi.
  • 151 – 175 (mm) : -
  • >175 (mm) : -


5. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 4.01 – 5.00 mm.

  • 0.00 – 1.00 (mm) : -
  • 1.01 – 2.00 (mm) : -
  • 2.01 – 3.00 (mm) : Karangkates Malang
  • 3.01 – 4.00 (mm) : Karangploso Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 4.01 – 5.00 (mm) : Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep, dan Banyuwangi.
  • 5.01 – 6.00 (mm) : -.
  • 6.01 – 7.00 (mm) : -
  • 7.01 – 8.00 (mm) : -
  • > 8.00 (mm) : -


6. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 40 – 60%.

lokasi pengamatan dengan lama penyinaran rata-rata harian terendah adalah Tretes (Jawa Timur) sebesar 23%.

  • 0 – 20 %: -
  • 20 – 40 %: Tretes Pasuruan.
  • 40 – 60 %: Malang, Karangkates Malang dan Sawahan Nganjuk
  • 60 – 80 %: Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Maritim Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi.
  • >80 %: -


7. Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 umumnya pada kisaran 76 – 100 mm.

Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Juni Tahun 2023

  • 0 – 25 mm : -
  • 26 – 50 mm : -
  • 51 – 75 mm : Karangploso Malang dan Karangkates Malang.
  • 76 – 100 mm : Tuban, Tretes Pasuruan dan Sawahan Nganjuk.
  • 101 – 125 mm : Pacitan, Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi.
  • 126 – 150 mm : Madiun.
  • 151 – 175 mm : -
  • >175 mm : -


8. Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 sebagian besar mengalami Surplus.

  • Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah DEFISIT di wilayah Jawa Timur meliputi : Madiun, Sawahan Nganjuk, Pacitan, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Tretes Pasuruan, Malang, Banyuwangi dan Kalianget Sumenep

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan Curah Hujan (CH) < evapotranspirasi potensial (ETp), sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

  • Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah PENGISIAN di wilayah Jawa Timur meliputi : -

    Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).

  • Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah SURPLUS di wilayah Jawa Timur meliputi : Madiun, Sangkapura Gresik, Perak II Surabaya, Malang dan Karangkates Malang

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).




9 Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Juni Tahun 2023 : Ringan/Tidak ada

  • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) :

    Sebagian kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian besar : -

    Seluruh : -

  • SEDANG (16.77 – 33.33) :

    Sebagian kecil : Tuban, Bojonegoro, Nganjuk, Pasuruan, Situbondo dan Banyuwangi.

    Sebagian : Sumenep

    Sebagian besar : Jombang, Mojokerto dan Kota Surabaya.

    Seluruh : Lamongan, Gresik, Sidoarjo dan Kota Pasuruan

  • BERAT (>33.33) :

    Sebagian kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian besar : -

    Seluruh : -


Data Kandungan Air Tanah (KAT) bulan Juni Tahun 2023 beberapa tempat di Jawa Timur

  • Pacitan : 350
  • Madiun : 350
  • Stamet Sangkapura Gresik : 350
  • Stamet Tuban : 350
  • Stamet Juanda Sidoarjo : 350
  • Stamet Surabaya : 300
  • Staklim Jawa Timur : 300
  • Stageof Tretes Pasuruan : 316
  • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 292
  • Stageof Karangkates Malang : 300
  • Stamet Kalianget Sumenep : 204
  • Stageof Sawahan Nganjuk : 242
  • Stamet Banyuwangi : 166

ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolut merupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembapan Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembapan udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang
    : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang
    : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup
    : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

Ia = (D/PE)x100.

Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

Tingkat Kekeringan :

  1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
  2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
  3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembapan Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = Kelembapan udara pada bulan ke t-1