( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Januari Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur ( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Bulan Januari Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur

Hasil analisis Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di Sebagian wilayah di Provinsi Jawa Timur pada bulan Januari Tahun 2024 pada umumnya Sebagian Besar : CUKUP .

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman berada di atas 60%.


TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : KURANG

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman KURANG tersebut dimana curah hujan yang terjadi lebih kecil dari evapotranspirasinya sehingga tingkat ketersediaan air tanahnya berada dibawah 40%.

Sebagian kecil : Lamongan, Kota Probolinggo, Probolinggo, Jember, dan Bondowoso.

Sebagian : Situbondo

Sebagian besar : Banyuwangi dan Sumenep

Seluruh : -


TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : SEDANG

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman SEDANG tersebut telah terjadi pengurangan air tanah, akan tetapi tingkat ketersediaan air tanah dibawah 60%.

Sebagian kecil : Lamongan, Gresik, Jember, Lumajang, Pasuruan, Probolinggo, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Sumenep.

Sebagian : -

Sebagian besar : Kota Probolinggo

Seluruh : Kota Pasuruan


TINGKAT Ketersediaan Air Bagi Tanaman : CUKUP

Pada daerah – daerah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman CUKUP tersebut menjadikan tanah dalam kondisi basah dengan tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman berada di atas 60%.

Sebagian kecil : -

Sebagian : -

Sebagian besar : Jawa Timur

Seluruh : -

( Analisis - Bulanan ) Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) Bulan Januari Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur merupakan evaluasi kejadian yang telah terjadi selama bulan Januari Tahun 2024, yang digunakan sebagai masukan dalam pembuatan prediksi tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan berikutnya.



1. Hasil monitoring Suhu Udara Maksimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran 33.1- 35.0 °C.

Suhu Udara Maksimum Absolut merupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Maksimum Absolut Bulan Januari Tahun 2024 (0 C)

  • <27.0 (0 C): -
  • 27.1 – 29.0 (0 C): Tretes Pasuruan
  • 29.1 – 31.0 (0 C): Sawahan Nganjuk
  • 31.1 – 33.0 (0 C): Malang
  • 33.1 – 35.0 (0 C): Madiun, Sangkapura, Malang/ Abdul Rachman Saleh dan Geofisika Malang
  • >35.0 (0 C): Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Maritim Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep dan Banyuwangi


2. Hasil monitoring Suhu Udara Minimum Absolut di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran 21,1 – 25.0°C.

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Monitoring tiap Klasifikasi Suhu Udara Minimum Absolut Bulan Januari Tahun 2024 (0 C)

  • <17.0(0 C): -
  • 17.1 - 19.0 (0 C): -
  • 19.1 – 21.0 (0 C): Malang, Tretes Pasuruan, Malang/ Abdul Rachman Saleh, dan Sawahan Nganjuk
  • 21.1 – 23.0 (0 C): Pacitan, Madiun, Juanda Sidoarjo, Geofisika Malang, dan Banyuwangi
  • 23.1 – 25.0 (0 C): Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Maritim Perak II Surabaya, dan Kalianget Sumenep
  • > 25.0 (0 C): -


3. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Kelembapan Udara Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran 80 - 90 %.

  • <70 %: -
  • 70 – 75 %: Banyuwangi.
  • 75 – 80 %: Perak I Surabaya, Perak II Surabaya dan Tuban
  • 80 – 85 %: Juanda Sidoarjo, Karangploso Malang, Kalianget Sumenep, dan Sawahan Nganjuk
  • 85 – 90 %: Sangkapura Gresik dan Karangkates Malang.
  • >90 %: -


4. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Jumlah Penguapan di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran di atas 126 - 150 mm.

Lokasi pengamatan dengan jumlah penguapan bulanan terendah adalah Tretes Pasuruan (Jawa Timur), dengan nilai jumlah penguapan bulanan sebesar 63,3 mm.

  • 0 - 25 (mm) : -
  • 26 - 50 (mm) : -
  • 51 - 75 (mm) : Tretes Pasuruan
  • 76 - 100 (mm) : Karangkates Malang
  • 101 - 125 (mm) : Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, dan Malang
  • 126 – 150 (mm) : Maritim Perak II Surabaya, dan Kalianget Sumenep
  • 151 – 175 (mm) : Juanda Sidoarjo, dan Sawahan Nganjuk
  • >175 (mm) : Banyuwangi.


5. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Penguapan Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran 4.01 – 5.00 mm.

  • 0.00 – 1.00 (mm) : -
  • 1.01 – 2.00 (mm) : -
  • 2.01 – 3.00 (mm) : Tretes Pasuruan
  • 3.01 – 4.00 (mm) : Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Malang, dan Karangkates Malang
  • 4.01 – 5.00 (mm) : Maritim Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep, dan Sawahan Nganjuk
  • 5.01 – 6.00 (mm) : Juanda Sidoarjo dan Banyuwangi
  • 6.01 – 7.00 (mm) : -
  • 7.01 – 8.00 (mm) : -
  • > 8.00 (mm) : -


6. Hasil monitoring tiap Klasifikasi Lama Penyinaran Rata-Rata Harian di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran 20 – 40%.

  • 0 – 20 %: Tretes Pasuruan
  • 20 – 40 %: Sangkapura Bawean - Gresik, Pelabuhan Tanjung Perak I - Surabaya, Bandara Juanda - Sidoarjo, Pelabuhan Tanjung Perak II - Surabaya, Karangploso - Malang, Karangkates - Malang, Kalianget - Sumenep, Sawahan - Nganjuk
  • 40 – 60 %: Banyuwangi
  • 60 – 80 %: -
  • >80 %: -


7. Hasil analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (ETp) di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 umumnya pada kisaran 101 – 125 mm.

Lokasi pengamatan dengan jumlah evapotranspirasi potensial terendah di Indonesia pada Bulan Januari 2024 adalah Tretes Pasuruan (Jawa Timur) dengan nilai ETp sebesar 50,7 mm.

Analisis tiap Klasifikasi Jumlah Evapotranspirasi Potensial (mm) Bulan Januari Tahun 2024

  • 0 – 25 mm : -
  • 26 – 50 mm : Tretes Pasuruan
  • 51 – 75 mm : -
  • 76 – 100 mm : Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Malang, dan Karangkates Malang
  • 101 – 125 mm : Juanda Sidoarjo, Maritim Perak II Surabaya, Kalianget Sumenep, dan Sawahan Nganjuk
  • 126 – 150 mm : Banyuwangi
  • 151 – 175 mm : -
  • >175 mm : -


8. Hasil analisis tiap Klasifikasi Surplus dan Defisit di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 sebagian mengalami Surplus

  • TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KATEGORI : Defisit

    Meliputi Daerah : Banyuwangi.

    Pada daerah tersebut terjadi penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan Curah Hujan (CH) < evapotranspirasi potensial (ETp), sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

  • TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KATEGORI : Pengisian

    Meliputi Daerah : Kalianget Sumenep

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Pengisian di wilayah Jawa Timur meliputi : Malang.

    Pada daerah tersebut terjadi peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat kapasitas lapang (KL).

  • TINGKAT KETERSEDIAAN AIR TANAH KATEGORI : Surplus

    Meliputi Daerah : Pacitan, Madiun, Sangkapura Gresik, Perak I Surabaya, Juanda Sidoarjo, Perak II Surabaya, Malang, Tretes Pasuruan, Abdul Rahmansaleh Malang, Karangkates Malang, dan Sawahan Nganjuk.

    Daerah dengan Tingkat Ketersediaan air tanah Surplus di wilayah Jawa Timur meliputi : Karangkates Malang

    Pada daerah tersebut kandungan air tanah sudah melebihi kapasitas lapang (KL).




9 Hasil analisis tiap Klasifikasi Tingkat Kekeringan dengan Indeks Thornthwaite and Mather di wilayah Indonesia pada bulan Januari Tahun 2024 : Ringan/Tidak ada

  • RINGAN/ TIDAK ADA/NORMAL (<16.77) :

    Sebagian kecil : -

    Sebagian : -

    Sebagian besar : Jawa Timur

    Seluruh : -

  • SEDANG (16.77 – 33.33) :

    Sebagian kecil : Banyuwangi

    Sebagian : -

    Sebagian besar : -

    Seluruh : -

  • BERAT (>33.33) :

    Sebagian kecil : Banyuwangi

    Sebagian :

    Sebagian besar : -

    Seluruh : -


Data Kandungan Air Tanah (KAT) bulan Januari Tahun 2024 beberapa tempat di Jawa Timur

  • Pacitan : 300
  • Madiun : 300
  • Stamet Sangkapura Gresik : 350
  • Stamet Tuban : 350
  • Stamet Juanda Sidoarjo : 350
  • Stamet Surabaya : 350
  • Staklim Jawa Timur : 350
  • Stageof Tretes Pasuruan : 300
  • Malang/ Abdul Rachman Saleh : 350
  • Stageof Karangkates Malang : 350
  • Stamet Kalianget Sumenep : 124
  • Stageof Sawahan Nganjuk : 300
  • Stamet Banyuwangi : 48

ISTILAH – ISTILAH

Suhu Udara Minimum Absolut merupakan suhu minimum harian terendah yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Suhu Udara Maksimum Absolut merupakan suhu maksimum harian tertinggi yang diamati selama satu bulan pada periode waktu tertentu.

Kelembapan Udara Relatif Rata-Rata (Relative Humidity, RH) merupakan perbandingan antara jumlah uap air yang terkandung dalam udara pada suatu waktu tertentu dengan jumlah uap air maksimal yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada tekanan dan temperatur yang sama.

Kelembapan udara relatif dihitung sesuai dengan laporan FKlim dengan persamaan:

RH rata-rata harian = ((2 X RH(07WS)) + RH(13WS) + RH(18WS)) / 4

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air cukup tersedia atau kapasitas lapang.

Evapotranspirasi Aktual (Eta) merupakan evapotranspirasi yang terjadi pada saat air yang tersedia terbatas atau dibawah kapasitas lapang.

Kapasitas lapang (KL) adalah keadaan tanah dalam kondisi jenuh, menunjukkan jumlah air maksimum yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi.

Titik Layu Permanen (TLP) merupakan batas bawah ketersediaan air dalam tanah untuk tanaman, dimana akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air untuk pertumbuhannya.

Ketersediaan Air Bagi Tanaman (ATi) adalah banyaknya air di dalam tanah yang tersedia bagi tanaman yaitu berada pada kisaran antara kapasitas lapang dan titik layu permanen (TLP).

Tingkat ketersediaan air tanah dihitung dengan persamaan :

((KAT-TLP)/(KL-TLP)) x 100%

dengan kriteria sebagai berikut :

  1. Kurang
    : jika ketersediaan air tanah < 40%
  2. Sedang
    : jika ketersediaan air tanah 40% - 60%
  3. Cukup
    : jika ketersediaan air tanah > 60%

Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan, yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan dan kehilangan air dari lahan melalui proses evapotranspirasi. Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan hanya berasal dari curah hujan dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter dengan kondisi tanah homogen.

Surplus merupakan air berlebih dari curah hujan setelah kandungan air tanah mencapai Kapasitas Lapang (KL). Dihitung berdasarkan curah hujan dikurangi evapotranspirasi dan perubahan kandungan air tanah (CH-ETp-Dkat).

Pengisian air tanah merupakan kondisi terjadinya peningkatan kandungan air tanah sampai mencapai tingkat Kapasitas Lapang (KL).

Defisit merupakan kondisi terjadinya penurunan kandungan air tanah dan berkurangnya air untuk keperluan evapotranspirasi potensial (ETp) yang disebabkan CH < ETp, sehingga terdapat perbedaan/selisih evapotranspirasi potensial dan evapotranspirasi Aktual (ETa).

Tingkat Kekeringan Berdasarkan Indeks Thornthwaite and Mather adalah tingkat kekeringan dari perhitungan empiris neraca air lahan dengan variabel curah hujan dan evapotranspirasi (ETp).

Indeks kekeringan dihitung dengan nilai prosentase perbandingan antara nilai Defisit dan Evaporasi Potensial (PE) dengan persamaan :

Ia = (D/PE)x100.

Berdasarkan nilai indeks kekeringan dikategori sebagai berikut:

Tingkat Kekeringan :

  1. Berat : Jika indeks kekeringan < 16.77
  2. Sedang : Jika indeks kekeringan 16.77 – 33.33
  3. Ringan : Jika indeks kekeringan > 33.

Tingkat Ketersediaan Air Bagi Tanaman Lahan Gambut di suatu wilayah dihitung berdasarkan neraca air lahan yang merupakan selisih antara jumlah air yang diterima lahan gambut dan kehilangan air dari lahan gambut melalui proses evapotranspirasi dimana evapotranspirasi * 1.1 (nilai koefisien tanaman gambut).

Asumsi dalam perhitungan neraca air adalah bahwa air yang diterima lahan gambut hanya berasal dari curah hujan dimana curah hujan *0.164 (nilai intersepsi lahan gambut) dan kedalaman tinjau tanah adalah 1 meter atau pada kedalaman gambut dangkal.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit tular vektor yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi virus Dengue (DENV). DBD termasuk salah satu penyakit berbasis lingkungan yang sering mewabah di wilayah Jawa Timur.

Kecocokan Iklim untuk perkembangan nyamuk DBD merupakan kondisi iklim yang menggambarkan kecocokan iklim untuk perkembangan nyamuk penyebar penyakit DBD.

Parameter iklim yang digunakan adalah Kelembapan Udara Relatif (RH) dengan batasan RH>75%.

Angka Insiden (AI) / Incident Rate (IR) menunjukkan jumlah kasus DBD per 100.000 penduduk di suatu wilayah dengan persamaan :

AI = (Jumlah kasus DBD/jumlah penduduk)*100.000

Prakiraan Angka Insiden (AI) dihitung dengan menggunakan persamaan Regresi Binomial Negatif dengan persamaan sebagai berikut :

ln (Yt) = a ln(Yt-1) + b ln(Yt-2) + c RHt-1

dimana:

Yt = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t

Yt-1 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-1

Yt-2 = banyaknya kejadian/kasus DBD pada bulan t-2

RHt-1 = Kelembapan udara pada bulan ke t-1