( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prediksi Durasi Musim Hujan Tahun 2024 / 2025 Terhadap Normalnya 1991 - 2020 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prediksi Durasi Musim Hujan Tahun 2024 / 2025 Terhadap Normalnya 1991 - 2020 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur



  • Lebih pendek ≥ 3 dasarian : -

  • Lebih pendek 2 dasarian : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

  • Lebih pendek 1 dasarian : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

  • Sama : 4 ZOM ( 5,4 % dari 74 ZOM )

  • Lebih Panjang 1 dasarian : 12 ZOM ( 16,2 % dari 74 ZOM )

  • Lebih Panjang 2 dasarian : 17 ZOM ( 23,0 % dari 74 ZOM )

  • Lebih Panjang ≥ 3 dasarian : 37 ZOM ( 50,0 % dari 74 ZOM )







No ZOM Daerah Kota/Kabupaten Normal Periode Musim Hujan Normal Panjang Musim
(Dasarian)
Normal Curah Hujan
(mm)
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan. Oktober II - April II
( 11 Oktober - 20 April )
19 1684 - 2278
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Oktober II - April III
( 11 Oktober - 30 April )
20 1241 - 1679
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. November I - April III
( 1 November - 30 April )
18 1103 - 1493
279 Bagian selatan Trenggalek September III - Juni II
( 21 September - 20 Juni )
27 1536 - 2078
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1491 - 2017
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1250 - 1692
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. Oktober III - April III
( 21 Oktober III - 30 April )
19 1328 - 1796
283 Bagian barat Ngawi. Oktober III - April II
( 21 Oktober III - 20 April )
18 1162 - 1572
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 991 - 1341
285 Bagian barat Tuban. November II - April I
( 11 November - 10 April )
15 907 - 1227
286 Bagian tengah Tuban. November III - April I
( 21 November III - 10 April )
14 1106 - 1496
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1276 - 1726
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1266 - 1712
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1619 - 2191
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1839 - 2489
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. November I - April III
( 1 November - 30 April )
18 1312 - 1776
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. Oktober III - Mei I
( 21 Oktober - 10 Mei )
20 1743 - 2359
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1449 - 1961
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1933 - 2615
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1584 - 2142
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. November I - April III
( 1 November - 30 April )
18 1371 - 1855
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1282 - 1734
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1391 - 1881
299 Bagian tenggara Lamongan. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1441 - 1949
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. Desember I - April I
( 1 Desember - 10 April )
13 1176 - 1590
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. Desember I - April I
( 1 Desember - 10 April )
13 820 - 1110
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 859 - 1163
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. November III - April III
( 21 November - 30 April )
16 1649 - 2231
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1488 - 2013
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. November I - April III
( 1 November - 30 April )
18 1155 - 1563
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. November II - Mei I
( 11 November - 10 Mei )
18 1174 - 1588
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Desember I - April II
( 1 Desember - 20 April )
14 1444 - 1954
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. November I - Mei I
( 1 November - 10 Mei )
19 1568 - 2122
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1446 - 1956
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. Oktober III - Mei I
( 21 Oktober - 10 Mei )
20 1437 - 1944
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. November I - April III
( 1 November - 30 April )
18 1184 - 1602
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. November I - Mei III
(1 November - 31 Mei )
21 930 - 1258
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. September III - Juli I
( 21 September - 10 Juli )
29 1296 - 1754
314 Bagian barat Lumajang. Oktober I - Mei III
( 1 Oktober - 31 Mei )
24 1041 - 1409
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. November I - April III
( 1 November - 30 April )
18 1362 - 1842
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1369 - 1852
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Desember II - April I
( 11 Desember - 10 April)
12 996 - 1348
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. Desember II - Maret III
( 11 Desember - 31 Maret )
11 724 - 980
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. Oktober III - Mei I
( 21 Oktober - 10 Mei )
20 1575 - 2131
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Oktober III - April III
( 21 Oktober - 30 April )
19 1051 - 1423
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 1070 - 1448
322 Bagian tenggara Jember. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 989 - 1337
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. Oktober III - April II
( 21 Oktober III - 20 April )
18 1118 - 1512
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 906 - 1226
325 Bagian selatan Bondowoso. November I - April II
( 1 November I - 20 April )
17 965 - 1305
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 992 - 1342
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. Desember I - April I
( 1 Desember - 10 April )
13 791 - 1070
328 Bagian utara Situbondo. Desember II - Maret I
( 11 Desember - 10 Maret )
9 644 - 872
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 901 - 1219
330 Bagian timur Situbondo. Desember II - April I
( 11 Desember - 10 April )
12 642 - 868
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. Desember I - April III
(1 Desember - 30 April )
15 1008 - 1364
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. November I - Juli II
( 1 November - 20 Juli )
26 1512 - 2046
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. November III - Mei I
( 21 November - 10 Mei )
17 1495 - 2023
334 Bagian timur Banyuwangi. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1047 - 1417
335 Bagian barat Banyuwangi. November I - Mei III
(1 November - 31 Mei )
21 1011 - 1367
336 Bagian selatan Banyuwangi. November II - April I
( 11 November - 10 April )
15 1208 - 1634
337 Bagian barat Bangkalan. November III - Mei I 17 1349 - 1825
338 Bagian utara Bangkalan. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1500 - 2030
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. November II - April II
( 11 November - 20 April )
16 1725 - 2333
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. Desember I - April I
( 1 Desember - 10 April )
13 1613 - 2183
341 Bagian timur laut Sampang. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 998 - 1350
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1213 - 1641
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1572 - 2126
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 1325 - 1793
345 Bagian tengah-utara Sumenep. November III - April II
( 21 November - 20 April )
15 908 - 1228
346 Bagian timur Sumenep. Desember I - April I
( 1 Desember - 10 April )
13 1131 - 1531
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. November III - April III
( 21 November - 30 April )
16 1607 - 2174
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. November I - Mei I
( 1 November - 10 Mei )
19 1635 - 2211
349 Kepulauan Bawean, Gresik. November II - Mei I
( 11 November - 10 Mei )
18 1365 - 1847





NO
ZOM
Daerah / Kabupaten Awal Musim Hujan Perbandingan Thd Normal
(Dasarian)
Sifat Hujan Musim Hujan Curah Hujan Musim Hujan (mm) Puncak Musim Hujan Perbandingan Puncak Thd Normal
(bulan)
Panjang Musim
(dasarian)
Perbandingan Panjang Musim Thd Normal
(dasarian)
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter →di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 DESEMBER 2024 MAJU > 1 21 LEBIH PANJANG 2
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 22 LEBIH PANJANG 2
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1501-2000 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 22 LEBIH PANJANG >=3
279 Bagian selatan Trenggalek OKTOBER I 2024
( 1 - 10 OKTOBER 2024 )
MUNDUR 1 NORMAL 2001-2500 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 25 LEBIH PENDEK 2
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1501-2000 JANUARI 2025 MAJU 1 21 LEBIH PANJANG >=3
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1501-2000 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 22 LEBIH PANJANG >=3
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 20 LEBIH PANJANG 1
283 Bagian barat Ngawi OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 1501-2000 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 20 LEBIH PANJANG 2
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1501-2000 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 20 LEBIH PANJANG >=3
285 Bagian barat Tuban NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 DESEMBER 2024 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
286 Bagian tengah Tuban NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1001-1500 DESEMBER 2024 MAJU > 1 19 LEBIH PANJANG >=3
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 1501-2000 JANUARI 2025 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG >=3
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 1501-2000 JANUARI 2025 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG >=3
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 2001-2500 JANUARI 2025 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG >=3
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1501-2000 JANUARI 2025 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG >=3
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 2001-2500 JANUARI 2025 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG 2
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. OKTOBER I 2024
( 1 - 10 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 2001-2500 DESEMBER 2024 MAJU > 1 23 LEBIH PANJANG >=3
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 1501-2000 DESEMBER 2024 MAJU > 1 19 LEBIH PANJANG >=3
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1501-2000 DESEMBER 2024 MAJU > 1 21 LEBIH PANJANG >=3
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1501-2000 DESEMBER 2024 MAJU > 1 21 LEBIH PANJANG >=3
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 2001-2500 DESEMBER 2024 MAJU > 1 20 LEBIH PANJANG 2
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG 2
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG 2
299 Bagian tenggara Lamongan. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG 2
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PANJANG 2
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PANJANG 1
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG >=3
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 19 LEBIH PANJANG 1
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 2501-5000 FEBRUARI 2025 SAMA 19 LEBIH PANJANG 1
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG >=3
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 JANUARI 2025 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG 1
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 19 LEBIH PANJANG 2
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2501-5000 FEBRUARI 2025 SAMA 23 LEBIH PANJANG >=3
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 20 LEBIH PANJANG 2
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. OKTOBER II 2024
( 11 - 20 OKTOBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1501-2000 NOVEMBER 2024 MAJU 1 22 LEBIH PANJANG 1
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. SEPTEMBER III 2024
( 21 - 30 SEPTEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2501-5000 NOVEMBER 2024 MAJU 1 29 SAMA
314 Bagian barat Lumajang. OKTOBER I 2024
( 1 - 10 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 28 LEBIH PANJANG >=3
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 19 LEBIH PANJANG 1
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG >=3
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU > 3 ATAS NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG >=3
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. NOVEMBER III 2024
( 21 - 30 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 14 LEBIH PANJANG >=3
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 20 SAMA
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 NOVEMBER 2024 MAJU > 1 20 LEBIH PANJANG 1
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MUNDUR 1 NORMAL 1001-1500 DESEMBER 2024 MAJU > 1 16 LEBIH PENDEK 1
322 Bagian tenggara Jember. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PANJANG 1
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MUNDUR 1 ATAS NORMAL 2501-5000 FEBRUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PENDEK 1
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. OKTOBER III 2024
( 21 - 31 OKTOBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 20 LEBIH PANJANG >=3
325 Bagian selatan Bondowoso. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 19 LEBIH PANJANG 2
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG 2
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU > 3 ATAS NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PANJANG >=3
328 Bagian utara Situbondo. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU > 3 ATAS NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 14 LEBIH PANJANG >=3
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 16 LEBIH PANJANG 1
330 Bagian timur Situbondo. DESEMBER I 2024
( 1 - 10 DESEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 13 LEBIH PANJANG 1
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU > 3 NORMAL 1501-2000 JANUARI 2025 MAJU 1 22 LEBIH PANJANG >=3
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MUNDUR 1 NORMAL 2001-2500 JANUARI 2025 SAMA 24 LEBIH PENDEK 2
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1501-2000 FEBRUARI 2025 SAMA 17 SAMA
334 Bagian timur Banyuwangi. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PANJANG 2
335 Bagian barat Banyuwangi. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 FEBRUARI 2025 SAMA 21 SAMA
336 Bagian selatan Banyuwangi. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA ATAS NORMAL 1001-1500 FEBRUARI 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG >=3
337 Bagian barat Bangkalan. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG 1
338 Bagian utara Bangkalan. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG >=3
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MUNDUR 1 18 LEBIH PANJANG 2
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
341 Bagian timur laut Sampang. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
MAJU 2 ATAS NORMAL 1001-1500 DESEMBER 2024 MAJU > 1 17 LEBIH PANJANG 2
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
345 Bagian tengah-utara Sumenep. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG >=3
346 Bagian timur Sumenep. NOVEMBER III 2024
( 21 - 30 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 NORMAL 1001-1500 JANUARI 2025 SAMA 17 LEBIH PANJANG >=3
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
MAJU 1 ATAS NORMAL 1501-2000 DESEMBER 2024 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG 2
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. NOVEMBER I 2024
( 1 - 10 NOVEMBER 2024 )
SAMA ATAS NORMAL 2001-2500 DESEMBER 2024 MAJU 1 25 LEBIH PANJANG >=3
349 Kepulauan Bawean, Gresik. NOVEMBER II 2024
( 11 - 20 NOVEMBER 2024 )
SAMA NORMAL 2001-2500 DESEMBER 2024 MAJU 1 24 LEBIH PANJANG >=3


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Keragaman iklim Indonesia juga dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain, fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), fenomena regional, seperti sirkulasi angin monsun Asia – Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    1. El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.

    2. Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

    3. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.

    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi Prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

      Penentuan awal musim dilakukan untuk tipe ZOM dengan lebih dari 1 musim sedangkan ZOM dengan tipe 1 musim tidak ditentukan awal musim.

      Meskipun begitu, pada edisi buku PMH 2024 / 2025 ini, terdapat beberapa ZOM dengan kondisi hujan sepanjang tahun 2023 belum mendapatkan kemarau yang disebut dengan Musim Hujan Sepanjang 2023 dan beberapa ZOM dengan kondisi hujan per Juli 2023 sudah memasuki musim hujan yang disebut dengan Sudah Masuk Musim Hujan.

  4. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  5. Puncak Musim Hujan

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

  6. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  7. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  8. Perbandingan Terhadap Normalnya

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  9. Satu Periode Musim

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).






Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Tahun 2024 / 2025 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Tahun 2024 / 2025 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur



Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Tahun 2024 / 2025 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Tahun 2024 / 2025 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur



Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 dalam satuan milimeter di Zona Musim Jawa Timur Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 dalam satuan milimeter di Zona Musim Jawa Timur



Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 dalam satuan milimeter di Zona Musim Jawa Timur Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 dalam satuan milimeter di Zona Musim Jawa Timur