( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prediksi Puncak Musim Kemarau Tahun 2025 dengan Normalnya 1991 - 2020 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur ( Analisis 6 Bulanan ) Perbandingan Prediksi Puncak Musim Kemarau Tahun 2025 dengan Normalnya 1991 - 2020 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur







NO
ZOM
Daerah/Kabupaten Normal
Durasi
Musim
Kemarau
Normal
Panjang Musim
(Dasarian)
Normal
Curah
Hujan
( mm )
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan. APRIL III - OKTOBER II
( Tanggal 21 April - 20 Oktober )
17 360 - 488
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. MEI I - OKTOBER II
( Tanggal 1 Mei - 20 Oktober )
16 175 - 237
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. MEI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 261 - 353
279 Bagian selatan Trenggalek JUN III - SEPTEMBER III
( Tanggal 21 Juni - 30 September )
9 67 - 91
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 354 - 478
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 234 - 316
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. MEI I - OKTOBER II
( Tanggal 1 Mei - 20 Oktober )
17 165 - 223
283 Bagian barat Ngawi. APRIL III - OKTOBER II
( Tanggal 21 April - 20 Oktober )
18 216 - 292
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 263 - 355
285 Bagian barat Tuban. APRIL II - NOVEMBER II
( Tanggal 11 April - 20 November )
21 307 - 415
286 Bagian tengah Tuban. APRIL II - NOVEMBER II
( Tanggal 11 April - 20 November )
22 347 - 469
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 283 - 383
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 188 - 254
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 281 - 381
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 394 - 532
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. MEI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 179 - 243
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. MEI II - OKTOBER III
( Tanggal 11 Mei - 31 Oktober )
16 227 - 307
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 339 - 459
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 424 - 574
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 349 - 473
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. MEI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 513 - 693
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 1026 - 1388
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 774 - 1048
299 Bagian tenggara Lamongan. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 434 - 587
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. APRIL II - DESEMBER I
( Tanggal 11 April - 10 Desember )
23 419 - 567
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. APRIL II - DESEMBER I
( Tanggal 11 April - 10 Desember )
23 254 - 344
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 173 - 235
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. MEI I - NOVEMBER III
( Tanggal 1 Mei - 30 November )
20 444 - 600
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 601 - 813
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. MEI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 224 - 302
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. MEI II - NOVEMBER II
( Tanggal 11 Mei - 20 November )
18 230 - 312
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. APRIL III - DESEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 Desember )
22 526 - 712
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. MEI II - NOVEMBER I
( Tanggal 11 Mei - 10 November )
17 281 - 381
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 374 - 506
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. MEI II - OKTOBER III
( Tanggal 11 Mei - 31 Oktober )
16 127 - 171
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. MEI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 116 - 156
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. JUNI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Juni - 10 November )
15 38 - 52
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. JULI II - SEPTEMBER III
( Tanggal 11 Juli - 30 September )
7 22 - 30
314 Bagian barat Lumajang. JUNI I - OKTOBER I
( Tanggal 1 Juni - 10 Oktober )
12 54 - 74
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. MEI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 186 - 252
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 803 - 1087
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. APRIL II - DESEMBER II
( Tanggal 11 April - 20 Desember )
24 627 - 849
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. APRIL I - DESEMBER II
( Tanggal 1 April - 20 Desember )
25 646 - 874
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. MEI II - OKTOBER III
( Tanggal 11 Mei - 31 Oktober )
16 506 - 684
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. MEI I - OKTOBER II
( Tanggal 1 Mei - 20 Oktober )
17 264 - 358
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 354 - 478
322 Bagian tenggara Jember. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 364 - 492
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. APRIL III - OKTOBER II
( Tanggal 21 April - 20 Oktober )
18 269 - 365
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 221 - 299
325 Bagian selatan Bondowoso. APRIL III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 234 - 316
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 261 - 353
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. APRIL II - DESEMBER I
( Tanggal 11 April - 10 Desember )
23 348 - 470
328 Bagian utara Situbondo. MARET II - DESEMBER II
( Tanggal 11 Maret - 20 Desember )
27 677 - 917
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 254 - 344
330 Bagian timur Situbondo. APRIL II - DESEMBER II
( Tanggal 11 April - 20 Desember )
24 352 - 476
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. MEI I - DESEMBER I
( Tanggal 1 Mei - 10 Desember )
21 464 - 628
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. JULI III - NOVEMBER I
( Tanggal 21 Juli - 10 November )
10 198 - 268
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. MEI II - NOVEMBER III
( Tanggal 11 Mei - 30 November )
19 469 - 635
334 Bagian timur Banyuwangi. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 593 - 803
335 Bagian barat Banyuwangi. JUNI I - NOVEMBER I
( Tanggal 1 Juni - 10 November )
15 128 - 173
336 Bagian selatan Banyuwangi. APRIL II - NOVEMBER II
( Tanggal 11 April - 20 November )
21 446 - 604
337 Bagian barat Bangkalan. MEI II - NOVEMBER III
( Tanggal 11 Mei - 30 November )
19 643 - 869
338 Bagian utara Bangkalan. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 592 - 800
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. APRIL III - NOVEMBER II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 650 - 880
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. APRIL II - DESEMBER I
( Tanggal 11 April - 10 Desember )
23 860 - 1164
341 Bagian timur laut Sampang. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 182 - 246
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 239 - 323
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 393 - 531
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 222 - 300
345 Bagian tengah-utara Sumenep. APRIL III - NOVEMBER III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 347 - 469
346 Bagian timur Sumenep. APRIL II - DESEMBER I
( Tanggal 11 April - 10 Desember )
23 587 - 794
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. MEI I - NOVEMBER III
( Tanggal 1 Mei - 30 November )
20 762 - 1030
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. MEI II - NOVEMBER I
( Tanggal 11 Mei - 10 November )
17 544 - 736
349 Kepulauan Bawean, Gresik. MEI II - NOVEMBER II
( Tanggal 11 Mei - 20 November )
18 510 - 690









NO
ZOM
Daerah/
Kabupaten
Awal
Musim
Kemarau
Perbandingan
Terhadap
Normal
(dasarian)
Sifat
Hujan
Musim
Kemarau
Curah
Hujan
Musim
Kemarau
(mm)
Puncak
Musim
Kemarau
Perbandingan
Puncak
terhadap
Normal
(bulan)
Panjang
Musim
(dasarian)
Perbandingan
Panjang
Musim
terhadap
Normal
(dasarian)
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 15 LEBIH PENDEK 2
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. MEI I SAMA Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 15 LEBIH PENDEK 1
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. MEI I SAMA Atas Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PENDEK 1
279 Bagian selatan Trenggalek MEI II MAJU >=3 Bawah Normal 301-400 JULI MAJU 1 16 LEBIH PANJANG >=3
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. MEI I MUNDUR 1 Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PENDEK 2
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. MEI I MUNDUR 1 Atas Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 1
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. MEI I SAMA Atas Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PANJANG 1
283 Bagian barat Ngawi. MEI I MUNDUR 1 Atas Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. MEI I MUNDUR 1 Atas Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 1
285 Bagian barat Tuban. APRIL II SAMA Atas Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 20 LEBIH PENDEK 1
286 Bagian tengah Tuban. APRIL III MUNDUR 1 Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK >=3
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. APRIL III SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK 1
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 1
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 1
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. MEI I MUNDUR 1 Atas Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 2
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. MEI I SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 SAMA
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. MEI II SAMA Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PANJANG 1
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 2
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. APRIL III SAMA Atas Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 19 SAMA
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. MEI I SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 SAMA
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS MAJU 1 18 LEBIH PENDEK 2
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 2
299 Bagian tenggara Lamongan. APRIL III SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK 1
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. APRIL III MUNDUR 1 Normal 301-400 SEPTEMBER SAMA 19 LEBIH PENDEK >=3
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. APRIL II SAMA Normal 401-500 SEPTEMBER SAMA 23 SAMA
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. APRIL III SAMA Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK 2
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. APRIL III MAJU 1 Normal 301-400 AGUSTUS MAJU 1 19 LEBIH PENDEK 1
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. APRIL III SAMA Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK 2
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. MEI I SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 SAMA
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. MEI II SAMA Normal 301-400 SEPTEMBER SAMA 17 LEBIH PENDEK 1
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 21 LEBIH PENDEK 1
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. MEI II SAMA Normal 301-400 SEPTEMBER SAMA 17 SAMA
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. MEI II MUNDUR 2 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 16 LEBIH PENDEK >=3
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. MEI I MAJU 1 Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PANJANG 1
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. MEI I SAMA Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. APRIL III MAJU >=3 Normal >500 AGUSTUS SAMA 16 LEBIH PANJANG 1
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. JUNI I MAJU >=3 Bawah Normal 301-400 JULI MAJU 1 13 LEBIH PANJANG >=3
314 Bagian barat Lumajang. MEI II MAJU 2 Normal >500 AGUSTUS SAMA 14 LEBIH PANJANG 2
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. MEI II MUNDUR 1 Bawah Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 16 LEBIH PENDEK 2
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. MEI I MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK >=3
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. APRIL III MUNDUR 1 Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 22 LEBIH PENDEK 2
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. APRIL I SAMA Normal 301-400 SEPTEMBER SAMA 24 LEBIH PENDEK 1
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. MEI I MAJU 1 Atas Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PANJANG 1
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. MEI II MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 15 LEBIH PENDEK 2
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. APRIL III SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 19 SAMA
322 Bagian tenggara Jember. APRIL III SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK 1
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. APRIL III SAMA Atas Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 SAMA
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. MEI I MUNDUR 1 Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PENDEK 2
325 Bagian selatan Bondowoso. MEI I MUNDUR 1 Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 18 LEBIH PENDEK 1
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. MEI I MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 17 LEBIH PENDEK >=3
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. APRIL II SAMA Normal >500 AGUSTUS SAMA 26 LEBIH PANJANG >=3
328 Bagian utara Situbondo. APRIL I MUNDUR 2 Atas Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 24 LEBIH PENDEK >=3
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. APRIL III SAMA Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 19 LEBIH PENDEK 2
330 Bagian timur Situbondo. APRIL II SAMA Atas Normal >500 AGUSTUS MAJU 1 26 LEBIH PANJANG 2
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. APRIL III MAJU 1 Normal 301-400 SEPTEMBER SAMA 22 LEBIH PANJANG 1
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. MEI II MAJU >=3 Bawah Normal 301-400 JULI MAJU 2 17 LEBIH PANJANG >=3
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. MEI I MAJU 1 Normal 301-400 JULI MAJU >=3 18 LEBIH PENDEK 1
334 Bagian timur Banyuwangi. APRIL II MAJU 1 Normal >500 AGUSTUS MAJU 1 21 SAMA
335 Bagian barat Banyuwangi. MEI II MAJU 2 Bawah Normal 401-500 JULI MAJU 1 16 LEBIH PANJANG 1
336 Bagian selatan Banyuwangi. APRIL II SAMA Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 20 LEBIH PENDEK 1
337 Bagian barat Bangkalan. MEI I MAJU 1 Bawah Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 19 SAMA
338 Bagian utara Bangkalan. MARET III MAJU >=3 Normal >500 AGUSTUS SAMA 23 LEBIH PANJANG 2
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. APRIL III SAMA Bawah Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 20 SAMA
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. APRIL I MAJU 1 Normal 401-500 AGUSTUS SAMA 22 LEBIH PENDEK 1
341 Bagian timur laut Sampang. APRIL III SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 20 LEBIH PENDEK 1
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. APRIL II MAJU 1 Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 21 SAMA
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. APRIL III SAMA Normal 201-300 AGUSTUS SAMA 20 LEBIH PENDEK 1
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. APRIL III SAMA Normal 301-400 AGUSTUS SAMA 20 LEBIH PENDEK 1
345 Bagian tengah-utara Sumenep. APRIL II MAJU 1 Normal 301-400 AGUSTUS MAJU 1 21 SAMA
346 Bagian timur Sumenep. MARET III MAJU 2 Normal 401-500 AGUSTUS MAJU 1 25 LEBIH PANJANG 2
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. APRIL II MAJU 2 Normal >500 AGUSTUS MAJU 1 21 LEBIH PANJANG 1
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. APRIL I MAJU >=3 Normal >500 AGUSTUS MAJU 1 20 LEBIH PANJANG >=3
349 Kepulauan Bawean, Gresik. APRIL I MAJU >=3 Bawah Normal 401-500 SEPTEMBER SAMA 20 LEBIH PANJANG 2


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia Sirkulasi Monsun Asia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  4. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  5. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  6. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan Juli ).

  7. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  8. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  9. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991 - 2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  10. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III Juni dan berakhir pada Dasarian I Oktober.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  11. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.