Prediksi sifat hujan bulan JULI Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur adalah :
Bawah Normal sebesar : 0,3 %
Normal sebesar : 2,2 %
Atas Normal sebesar : 97,5 %
Sifat Hujan
Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
- Atas Normal (AN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 % - Normal (N)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 % - Bawah Normal (BN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %
Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya sampai dengan awal Bulan Mei Tahun 2025 dapat diprediksikan Sifat Hujan pada Bulan JULI Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Arosbaya, Klampis, Modung, Sepulu, dan Tanjungbumi. BANGKALAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Geger. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Bangkalan, Galis, dan Kokop. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Blega, Burneh, Modung, dan Tanah Merah. BANGKALAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Arosbaya, Geger, Klampis, Sepulu, dan Tanjungbumi. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Geger, Labang, Sepulu, dan Tanjungbumi. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Bangkalan, Burneh, dan Modung. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Blega, Galis, Kokop, Tanah Merah, dan Tragah. BANGKALAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Konang dan Kwanyar. BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Kokop dan Tragah. BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Burneh dan Socah. BANGKALAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Bangkalan, Kamal, dan Labang. BANGKALAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Bangkalan dan Kamal. BANGKALAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Socah. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Glagah, Kabat, Kalipuro, Licin, Rogojampi, Singojuruh, dan Songgon. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Glenmore, Kabat, Kalibaru, dan Sempu. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Giri, Kalipuro, dan Rogojampi. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Glagah, Licin, Singojuruh, dan Songgon. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Gambiran, Licin, dan Songgon. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Genteng, Glagah, Pesanggaran, Rogojampi, Singojuruh, Tegalsari, dan Wongsorejo. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Giri, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Muncar, Sempu, Siliragung, dan Srono. BANYUWANGI Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Purwoharjo dan Tegaldlimo. BANYUWANGI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Giri, Glagah, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Muncar, Sempu, dan Srono. BANYUWANGI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Glenmore dan Siliragung. BANYUWANGI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Gambiran, Genteng, Pesanggaran, Tegalsari, dan Wongsorejo. BLITAR Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Doko, Gandusari, Sanankulon, Talun, Wlingi, dan Wonotirto. BLITAR Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Bakung, Kademangan, Ponggok, dan Srengat. BLITAR Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Udanawu dan Wonodadi. BLITAR Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Bakung dan Srengat. BLITAR Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Kademangan dan Ponggok. BLITAR Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Doko, Gandusari, Sanankulon, Talun, Wlingi, dan Wonotirto. BLITAR Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Binangun, Garum, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Selopuro, Selorejo, Sutojayan, dan Wates. BOJONEGORO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Kanor dan Kepoh Baru. BOJONEGORO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Baureno, Kasiman, dan Malo. BOJONEGORO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Kedewan. BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Kedewan. BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Baureno, Kanor, Kasiman, Kepoh Baru, dan Malo. BOJONEGORO Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Balen, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kapas, Kedungadem, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk. BONDOWOSO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Sempol, Sumber Wringin, Taman Krocok, dan Tapen. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Jambesari Darus Sholah, Prajekan, Pujer, Tamanan, dan Wringin. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Cermee, Grujugan, Klabang, dan Tegalampel. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Botolinggo, Curah Dami, Maesan, Sempol, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tapen, Tenggarang, dan Tlogosari. BONDOWOSO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bondowoso, Sukosari, dan Wonosari. BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Botolinggo, Sempol, dan Tenggarang. BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Curah Dami, Maesan, Taman Krocok, dan Tlogosari. BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Cermee, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Prajekan, Pujer, Tamanan, Tegalampel, dan Wringin. BONDOWOSO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Binakal dan Pakem. BONDOWOSO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Prajekan, Tamanan, dan Wringin. GRESIK Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Manyar. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Dukun dan Ujungpangkah. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Balongpanggang. GRESIK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Bungah, Duduksampeyan, Manyar, dan Sidayu. GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Manyar. GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Bungah, Duduksampeyan, Sidayu, dan Wringinanom. GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Balongpanggang, Driyorejo, Dukun, Kedamean, dan Ujungpangkah. GRESIK Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Benjeng, Cerme, Gresik, Kebomas, Menganti, Panceng, Sangkapura, dan Tambak. GRESIK Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Driyorejo dan Kedamean. GRESIK Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Wringinanom. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Ledokombo. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Kalisat dan Silo. JEMBER Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Ledokombo. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Jelbuk, Sumber Baru, Sumberjambe, dan Tempurejo. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Mayang, Pakusari, dan Silo. JEMBER Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Kalisat dan Ledokombo. JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Ajung, Jombang, Ledokombo, Mumbulsari, Sumbersari, dan Umbulsari. JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Balung, Kalisat, Rambipuji, Semboro, dan Tempurejo. JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Bangsalsari, Jelbuk, Kaliwates, Mayang, Pakusari, Patrang, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, dan Tanggul. JEMBER Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Arjasa dan Panti. JEMBER Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Bangsalsari, Mayang, Pakusari, Patrang, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, dan Tanggul. JEMBER Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Kaliwates dan Sumberjambe. JEMBER Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Ajung, Balung, Jombang, Mumbulsari, Rambipuji, Semboro, Sumbersari, Tempurejo, dan Umbulsari. JEMBER Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Ambulu, Gumuk Mas, Jenggawah, Kencong, Puger, dan Wuluhan. JOMBANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Bareng. JOMBANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Wonosalam. JOMBANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Bareng dan Wonosalam. JOMBANG Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, dan Tembelang. KEDIRI Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Mojo dan Semen. KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Ngancar dan Plosoklaten. KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Grogol, Gurah, dan Ngasem. KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Banyakan, Mojo, Semen, dan Wates. KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Kandat, Kras, Ngadiluwih, dan Ringinrejo. KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Wates. KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Banyakan. KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Grogol, Gurah, Ngancar, Ngasem, dan Plosoklaten. KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Badas, Gampengrejo, Kandangan, Kayen Kidul, Kepung, Kunjang, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Puncu, Purwoasri, dan Tarokan. KOTA BATU Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Bumiaji. KOTA BATU Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Batu. KOTA BATU Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Junrejo. KOTA BATU Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Junrejo. KOTA BATU Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Batu dan Bumiaji. KOTA BLITAR Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. KOTA KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Kota Kediri dan Mojoroto. KOTA KEDIRI Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Pesantren. KOTA KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Kota Kediri. KOTA KEDIRI Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Mojoroto. KOTA MADIUN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman. KOTA MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun. KOTA MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo. KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Kanigaran. KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Kademangan, Kedopok, dan Wonoasih. KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Kademangan, Kedopok, dan Wonoasih. KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Kanigaran. KOTA PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Mayangan. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Jambangan, Suko Manunggal, dan Tambaksari. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Asemrowo, Gubeng, dan Wonocolo. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Kenjeran dan Sawahan. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bubutan, Genteng, Krembangan, Pabean Cantian, Semampir, Simokerto, Tegalsari, dan Wonokromo. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Kenjeran dan Sawahan. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Asemrowo, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Gubeng, Jambangan, Suko Manunggal, Tambaksari, dan Wonocolo. KOTA SURABAYA Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Benowo, Gunung Anyar, Karang Pilang, Lakarsantri, Mulyorejo, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sukolilo, Tandes, Tenggilis Mejoyo, dan Wiyung. LAMONGAN Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Kedungpring. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Karangbinangun, Kembangbahu, Mantup, Modo, Ngimbang, dan Sugio. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kedungpring, Sarirejo, Tikung, dan Turi. LAMONGAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Deket, Glagah, dan Lamongan. LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Deket, Glagah, Lamongan, Ngimbang, dan Sambeng. LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Kedungpring dan Solokuro. LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Karang Geneng, Karangbinangun, Kembangbahu, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Paciran, Sarirejo, Sekaran, Sugio, Tikung, dan Turi. LAMONGAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Babat, Brondong, Kalitengah, Pucuk, dan Sukodadi. LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Karang Geneng, Maduran, Mantup, dan Sekaran. LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Laren, Modo, dan Paciran. LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Ngimbang, Sambeng, dan Solokuro. LAMONGAN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bluluk dan Sukorame. LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Jatiroto, Lumajang, Padang, Randuagung, Ranuyoso, Sumbersuko, dan Yosowilangun. LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Candipuro, Gucialit, Pasrujambe, Senduro, Tekung, dan Tempeh. LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Pasirian dan Rowokangkung. LUMAJANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Pasirian, Rowokangkung, dan Yosowilangun. LUMAJANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Lumajang, Padang, Pasrujambe, Randuagung, Ranuyoso, Senduro, Sumbersuko, Tekung, dan Tempeh. LUMAJANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Kedungjajang, Klakah, Kunir, Pronojiwo, Sukodono, dan Tempursari. LUMAJANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Yosowilangun. MADIUN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Dolopo dan Kare. MADIUN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Dolopo dan Kare. MADIUN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Balerejo, Dagangan, Geger, Gemarang, Jiwan, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu. MAGETAN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran. MALANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Poncokusumo dan Tumpang. MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Donomulyo, Gondanglegi, Kepanjen, Ngajum, Pagak, dan Pagelaran. MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Karangploso dan Lawang. MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Bantur, Bululawang, Dau, Gedangan, Pakisaji, Poncokusumo, Singosari, Sumbermanjing, Tumpang, Turen, dan Wagir. MALANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Ampelgading, Dampit, Jabung, Pakis, Tajinan, Tirto Yudo, dan Wajak. MALANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Bantur, Dau, Gedangan, Pakisaji, Sumbermanjing, dan Wagir. MALANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Bululawang, Singosari, dan Turen. MALANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Donomulyo, Gondanglegi, Karangploso, Kepanjen, Lawang, Ngajum, Pagak, dan Pagelaran. MALANG Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Kalipare, Kasembon, Kromengan, Ngantang, Pujon, Sumber Pucung, dan Wonosari. MOJOKERTO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Dawar Blandong. MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Jetis. MOJOKERTO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Dawar Blandong. MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Dawar Blandong. MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Jetis. MOJOKERTO Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan. NGANJUK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Loceret, Ngetos, dan Sawahan. NGANJUK Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Loceret, Ngetos, dan Sawahan. NGANJUK Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Nganjuk, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan. NGAWI Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren. PACITAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Punung. PACITAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Nawangan dan Tulakan. PACITAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Arjosari, Bandar, Kebonagung, Ngadirojo, Pringkuku, dan Tegalombo. PACITAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Pacitan dan Sudimoro. PACITAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Arjosari, Bandar, Kebonagung, Ngadirojo, dan Tegalombo. PACITAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Pringkuku. PACITAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Nawangan, Punung, dan Tulakan. PACITAN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Donorojo. PAMEKASAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Pasean. PAMEKASAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Pasean. PAMEKASAN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru. PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Pasrepan dan Sukorejo. PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Purwodadi, Purwosari, Puspo, dan Tosari. PASURUAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Tutur. PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Tutur. PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Pasrepan, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Sukorejo, dan Tosari. PASURUAN Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pohjentrek, Prigen, Rejoso, Rembang, Winongan, dan Wonorejo. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Jambon, Sambit, Sampung, dan Sawoo. PONOROGO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Badegan. PONOROGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Bungkal dan Ngrayun. PONOROGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Jambon dan Sampung. PONOROGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Badegan, Jetis, Mlarak, Sambit, dan Sawoo. PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Badegan, Mlarak, dan Sambit. PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Jetis, Sampung, Sawoo, dan Sukorejo. PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Babadan, Bungkal, Jambon, Jenangan, Ngebel, Ngrayun, Pudak, dan Pulung. PONOROGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Balong, Kauman, Ponorogo, Siman, Slahung, dan Sooko. PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Jenangan, Pudak, dan Pulung. PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Babadan, Ngebel, dan Sampung. PONOROGO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Sukorejo. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Besuk, Gading, Krucil, Lumbang, dan Sumber. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Gending, Maron, dan Sumberasih. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Banyuanyar, Dringu, Kuripan, Tegalsiwalan, Tiris, dan Wonomerto. PROBOLINGGO Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Bantaran dan Leces. PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Banyuanyar, Tegalsiwalan, dan Tiris. PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Dringu, Kuripan, Lumbang, Tongas, dan Wonomerto. PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Besuk, Gading, Gending, Kotaanyar, Krucil, Maron, Paiton, Pakuniran, Sukapura, Sumber, dan Sumberasih. PROBOLINGGO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Kraksaan, Krejengan, dan Pajarakan. PROBOLINGGO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Kotaanyar, Paiton, dan Pakuniran. PROBOLINGGO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Sukapura. PROBOLINGGO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Lumbang dan Tongas. SAMPANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Sreseh. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Banyuates. SAMPANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Sreseh. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Tambelangan. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Banyuates dan Jrengik. SAMPANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Sreseh. SAMPANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Kedungdung, Omben, dan Sreseh. SAMPANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Banyuates dan Camplong. SAMPANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Jrengik, Sampang, Tambelangan, dan Torjun. SAMPANG Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Pangarengan. SAMPANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Sampang, Tambelangan, dan Torjun. SAMPANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Banyuates. SAMPANG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Camplong, Kedungdung, dan Omben. SAMPANG Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Karang Penang, Ketapang, Robatal, dan Sokobanah. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Buduran. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Sukodono. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Gedangan, Sedati, dan Taman. SIDOARJO Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Waru. SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Taman. SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Gedangan dan Sedati. SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Buduran dan Sukodono. SIDOARJO Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Balong Bendo, Candi, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sidoarjo, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, dan Wonoayu. SITUBONDO Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Arjasa, Asembagus, Kapongan, dan Panji. SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Banyuglugur, Jatibanteng, Panarukan, dan Suboh. SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Banyuputih, Bungatan, Kapongan, dan Kendit. SITUBONDO Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Jangkar, Mlandingan, Panji, Situbondo, dan Sumbermalang. SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Sumbermalang. SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Asembagus, Jangkar, Kapongan, Mlandingan, Panji, dan Situbondo. SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Banyuglugur, Banyuputih, Bungatan, Jatibanteng, Kendit, Panarukan, dan Suboh. SITUBONDO Atas Normal
( > 200 % )Seluruh: Besuki dan Mangaran. SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Bluto, Manding, Rubaru, dan Talango. SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Gapura, Lenteng, dan Saronggi. SUMENEP Atas Normal
( 116 - 150 % )Seluruh: Batuan, Kalianget, dan Kota Sumenep. SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Kecil: Guluk Guluk dan Saronggi. SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Dasuk, Gapura, dan Lenteng. SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Ambunten, Bluto, Ganding, Manding, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, dan Talango. SUMENEP Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Arjasa, Batang Batang, Batuputih, Dungkek, Gayam, Giligenteng, Kangayan, Masalembu, Nonggunong, Raas, dan Sapeken. SUMENEP Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Ambunten dan Pasongsongan. SUMENEP Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Ganding dan Pragaan. SUMENEP Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Besar: Dasuk dan Guluk Guluk. TRENGGALEK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Karangan. TRENGGALEK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Pule dan Suruh. TRENGGALEK Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Tugu. TRENGGALEK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Tugu. TRENGGALEK Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Karangan, Pule, dan Suruh. TRENGGALEK Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Bendungan, Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Munjungan, Panggul, Pogalan, Trenggalek, dan Watulimo. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Montong. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kenduruan dan Singgahan. TUBAN Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Besar: Jatirogo. TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian: Jatirogo. TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Kenduruan, Montong, Parengan, Plumpang, Rengel, Singgahan, Soko, dan Widang. TUBAN Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jenu, Kerek, Merakurak, Palang, Semanding, Senori, Tambakboyo, dan Tuban. TUBAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Plumpang dan Widang. TUBAN Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Parengan, Rengel, dan Soko. TULUNGAGUNG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Ngunut dan Pucang Laban. TULUNGAGUNG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian: Kalidawir. TULUNGAGUNG Atas Normal
( 151 - 200 % )Sebagian Besar: Kalidawir, Ngunut, Pager Wojo, Pucang Laban, Rejotangan, dan Sendang. TULUNGAGUNG Atas Normal
( 151 - 200 % )Seluruh: Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Pakel, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian Kecil: Pager Wojo dan Rejotangan. TULUNGAGUNG Atas Normal
( > 200 % )Sebagian: Sendang.
( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan JULI Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan Juli ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III JULI dan berakhir pada Dasarian I Oktober.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.