( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur

Prediksi sifat hujan bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur adalah :

Bawah Normal sebesar : 0,1 %

Normal sebesar : 0,1 %

Atas Normal sebesar : 99,8 %


Sifat Hujan

Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.

Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:

  1. Atas Normal (AN)
    Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 %
  2. Normal (N)
    Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 %
  3. Bawah Normal (BN)
    Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %

Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya sampai dengan awal Bulan Mei Tahun 2025 dapat diprediksikan Sifat Hujan pada Bulan AGUSTUS Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:





Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Arosbaya, Blega, Burneh, Galis, Kokop, dan Tanah Merah.
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian: Kamal, Klampis, Labang, dan Sepulu.
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Geger, Kwanyar, Modung, dan Tanjungbumi.
BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Modung dan Tanjungbumi.
BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian: Geger dan Kwanyar.
BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arosbaya, Blega, Burneh, Galis, Kamal, Klampis, Kokop, Labang, Sepulu, dan Tanah Merah.
BANGKALAN 21 - 50 mm Seluruh: Bangkalan, Konang, Socah, dan Tragah.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Purwoharjo dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Tegaldlimo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Tegalsari.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Songgon dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Bangorejo, Licin, Pesanggaran, Purwoharjo, dan Siliragung.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Glagah, Glenmore, Kabat, Kalipuro, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Tegaldlimo, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Seluruh: Banyuwangi, Cluring, Gambiran, Genteng, Giri, Kalibaru, Muncar, dan Srono.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Glenmore, Kabat, Kalipuro, dan Rogojampi.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Glagah, Sempu, dan Singojuruh.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Licin dan Songgon.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Licin dan Songgon.
BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Doko, Gandusari, dan Wlingi.
BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Besar: Garum, Kesamben, Nglegok, Selopuro, Selorejo, dan Talun.
BLITAR 21 - 50 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Kademangan, Kanigoro, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Srengat, Sutojayan, Udanawu, Wates, Wonodadi, dan Wonotirto.
BLITAR 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kesamben, Selopuro, dan Selorejo.
BLITAR 51 - 100 mm Sebagian: Garum, Nglegok, dan Talun.
BLITAR 51 - 100 mm Sebagian Besar: Doko, Gandusari, dan Wlingi.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Balen, Bojonegoro, Bubulan, Padangan, Purwosari, Sumberejo, Tambakrejo, dan Temayang.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian: Dander dan Ngasem.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gayam, Gondang, Kanor, Kasiman, Kepoh Baru, Malo, Ngambon, Sekar, dan Trucuk.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Seluruh: Baureno, Kalitidu, dan Kedewan.
BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Gondang, Kasiman, Malo, Ngambon, dan Sekar.
BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian: Gayam, Kanor, Kepoh Baru, dan Trucuk.
BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balen, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Ngasem, Padangan, Purwosari, Sumberejo, Tambakrejo, dan Temayang.
BOJONEGORO 51 - 100 mm Seluruh: Kapas, Kedungadem, Margomulyo, Ngraho, Sugihwaras, dan Sukosewu.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Cermee, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Prajekan, Taman Krocok, dan Wringin.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian: Binakal, Curah Dami, dan Klabang.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bondowoso, Tegalampel, dan Tenggarang.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bondowoso dan Sempol.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Sumber Wringin, Tegalampel, dan Tenggarang.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Binakal, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Prajekan, Sukosari, Taman Krocok, Tlogosari, dan Wringin.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Seluruh: Maesan, Pakem, Pujer, Tamanan, Tapen, dan Wonosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Botolinggo, Cermee, dan Sukosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Tlogosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Sempol dan Sumber Wringin.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sempol.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kebomas.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian: Gresik, Kedamean, dan Menganti.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Wringinanom.
GRESIK 0 - 20 mm Seluruh: Driyorejo.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian: Wringinanom.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gresik, Kebomas, Kedamean, dan Menganti.
GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Duduksampeyan, Dukun, Manyar, Panceng, Sidayu, dan Ujungpangkah.
GRESIK 51 - 100 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Balung, Jombang, Ledokombo, Mayang, dan Tempurejo.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian: Kalisat, Pakusari, Puger, dan Umbulsari.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Besar: Ambulu, Gumuk Mas, Kencong, dan Wuluhan.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Wuluhan.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Ambulu, Gumuk Mas, Kencong, dan Puger.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Besar: Balung, Jombang, Kalisat, Ledokombo, Mayang, Pakusari, Silo, Sukowono, Sumberjambe, Tempurejo, dan Umbulsari.
JEMBER 21 - 50 mm Seluruh: Ajung, Arjasa, Bangsalsari, Jelbuk, Jenggawah, Kaliwates, Mumbulsari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, Sumber Baru, Sumbersari, dan Tanggul.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Puger, Sukowono, dan Tempurejo.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian: Ledokombo, Silo, dan Sumberjambe.
JOMBANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Sumobito.
JOMBANG 0 - 20 mm Sebagian: Kesamben.
JOMBANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kesamben, Plandaan, dan Sumobito.
JOMBANG 21 - 50 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Ploso, Tembelang, dan Wonosalam.
JOMBANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Plandaan.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Grogol, Mojo, dan Ngasem.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian: Gampengrejo, Kepung, dan Tarokan.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gurah, Ngadiluwih, Ngancar, Pagu, Plosoklaten, dan Puncu.
KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Badas, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kras, Kunjang, Papar, Pare, Plemahan, Purwoasri, Ringinrejo, dan Wates.
KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Gurah, Ngadiluwih, Pagu, dan Plosoklaten.
KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian: Ngancar dan Puncu.
KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Gampengrejo, Grogol, Kepung, Mojo, Ngasem, dan Tarokan.
KEDIRI 51 - 100 mm Seluruh: Banyakan dan Semen.
KOTA BATU 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bumiaji.
KOTA BATU 21 - 50 mm Seluruh: Batu dan Junrejo.
KOTA BATU 51 - 100 mm Sebagian: Bumiaji.
KOTA BLITAR 21 - 50 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kota Kediri.
KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pesantren.
KOTA KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian: Pesantren.
KOTA KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kota Kediri.
KOTA KEDIRI 51 - 100 mm Seluruh: Mojoroto.
KOTA MADIUN 21 - 50 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Blimbing dan Lowokwaru.
KOTA MALANG 21 - 50 mm Seluruh: Kedungkandang, Klojen, dan Sukun.
KOTA MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Lowokwaru.
KOTA MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Blimbing.
KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Magersari.
KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Prajurit Kulon.
KOTA MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Magersari.
KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Wonocolo.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian: Gayungan, Jambangan, Pakal, Tegalsari, dan Tenggilis Mejoyo.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Besar: Benowo, Dukuh Pakis, Genteng, Gubeng, Karang Pilang, Mulyorejo, Rungkut, Sawahan, Sukolilo, dan Wiyung.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Seluruh: Asemrowo, Bubutan, Bulak, Gunung Anyar, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Pabean Cantian, Sambikerep, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Tambaksari, dan Tandes.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Benowo, Genteng, Karang Pilang, Mulyorejo, Rungkut, Sukolilo, dan Wiyung.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian: Dukuh Pakis, Gubeng, dan Sawahan.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gayungan, Jambangan, Pakal, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Seluruh: Wonokromo.
LAMONGAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Sukodadi.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Sukorame.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian: Bluluk.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Laren, Modo, Paciran, Solokuro, dan Sukodadi.
LAMONGAN 21 - 50 mm Seluruh: Babat, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Maduran, Mantup, Ngimbang, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Sugio, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Laren dan Paciran.
LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian: Modo dan Solokuro.
LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bluluk dan Sukorame.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gucialit, Kunir, Lumajang, dan Sukodono.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kedungjajang, Randuagung, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 21 - 50 mm Seluruh: Jatiroto, Klakah, Ranuyoso, dan Rowokangkung.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Randuagung dan Yosowilangun.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Candipuro, Kedungjajang, dan Tekung.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Gucialit, Kunir, Lumajang, Pasirian, Pasrujambe, dan Sukodono.
LUMAJANG 51 - 100 mm Seluruh: Padang, Senduro, Sumbersuko, dan Tempeh.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian: Pasirian, Pasrujambe, dan Pronojiwo.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Candipuro dan Tempursari.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Candipuro.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian: Pronojiwo dan Tempursari.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Candipuro dan Tempursari.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian: Pronojiwo.
MADIUN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Jiwan, Kare, dan Kebonsari.
MADIUN 21 - 50 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MADIUN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Jiwan, Kare, dan Kebonsari.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Barat, Bendo, Kartoharjo, dan Nguntoronadi.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian: Maospati.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Takeran.
MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian: Magetan dan Takeran.
MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Barat, Bendo, Kartoharjo, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Plaosan, dan Sidorejo.
MAGETAN 51 - 100 mm Seluruh: Karangrejo, Karas, Kawedanan, Lembeyan, Parang, Poncol, dan Sukomoro.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Panekan dan Plaosan.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian: Ngariboyo dan Sidorejo.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Magetan.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gedangan, Lawang, Singosari, dan Sumbermanjing.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian: Bantur, Kasembon, Poncokusumo, Turen, dan Wajak.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Karangploso, Pagak, Pakis, Pujon, dan Wonosari.
MALANG 21 - 50 mm Seluruh: Bululawang, Dau, Donomulyo, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Kepanjen, Kromengan, Ngajum, Pagelaran, Pakisaji, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, dan Wagir.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ampelgading, Karangploso, Pagak, Pakis, dan Wonosari.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Pujon dan Tirto Yudo.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bantur, Dampit, Gedangan, Kasembon, Lawang, Poncokusumo, Singosari, Sumbermanjing, Turen, dan Wajak.
MALANG 51 - 100 mm Seluruh: Ngantang.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Dampit dan Poncokusumo.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Ampelgading dan Tirto Yudo.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ampelgading.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Mojoanyar, Ngoro, Puri, dan Trowulan.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian: Kemlagi dan Pungging.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Jetis, Mojosari, dan Sooko.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Gedek.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pacet.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian: Jetis, Mojosari, Sooko, dan Trawas.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gondang, Kemlagi, Mojoanyar, Ngoro, Pungging, Puri, dan Trowulan.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Jatirejo, dan Kutorejo.
MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian: Gondang.
MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Pacet dan Trawas.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ngetos.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian: Loceret dan Sawahan.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Berbek, Lengkong, Ngluyu, Pace, dan Prambon.
NGANJUK 21 - 50 mm Seluruh: Bagor, Baron, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Nganjuk, Ngronggot, Patianrowo, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Berbek dan Lengkong.
NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian: Ngluyu, Pace, dan Prambon.
NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Loceret, Ngetos, dan Sawahan.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Padas.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian: Bringin dan Kwadungan.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pangkur.
NGAWI 21 - 50 mm Seluruh: Karangjati.
NGAWI 51 - 100 mm Sebagian: Pangkur.
NGAWI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bringin, Karanganyar, Kwadungan, Mantingan, Padas, dan Widodaren.
NGAWI 51 - 100 mm Seluruh: Geneng, Gerih, Jogorogo, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Ngawi, Ngrambe, Paron, Pitu, dan Sine.
NGAWI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Karanganyar dan Widodaren.
NGAWI 101 - 150 mm Sebagian: Mantingan.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Arjosari.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian: Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bandar dan Nawangan.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian: Bandar dan Nawangan.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Arjosari, Tegalombo, dan Tulakan.
PACITAN 51 - 100 mm Seluruh: Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, dan Sudimoro.
PACITAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Tulakan.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Pasean.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Waru.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, Proppo, dan Tlanakan.
PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian: Waru.
PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pasean.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kejayan, Pandaan, Pasrepan, Puspo, dan Sukorejo.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian: Gempol.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Beji, Kraton, Lumbang, Rembang, dan Winongan.
PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bangil, Gondang Wetan, Grati, Lekok, Nguling, Pohjentrek, dan Rejoso.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Beji, Kraton, Lumbang, Prigen, dan Winongan.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Rembang.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gempol, Kejayan, Pandaan, Pasrepan, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Sukorejo, dan Tosari.
PASURUAN 21 - 50 mm Seluruh: Tutur dan Wonorejo.
PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pandaan, Purwosari, Sukorejo, dan Tosari.
PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Purwodadi.
PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Prigen.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian: Ngrayun dan Pudak.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pulung, Sampung, Slahung, dan Sukorejo.
PONOROGO 21 - 50 mm Seluruh: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Sambit, Sawoo, Siman, dan Sooko.
PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pulung dan Slahung.
PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian: Sampung dan Sukorejo.
PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ngrayun dan Pudak.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gading, Krejengan, dan Sukapura.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Kraksaan, Lumbang, dan Pakuniran.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Besuk dan Tongas.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Kotaanyar dan Paiton.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Besuk.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Tongas.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gading, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Lumbang, Pakuniran, Sukapura, dan Sumber.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Bantaran, Banyuanyar, Dringu, Gending, Kuripan, Leces, Maron, Pajarakan, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Krucil dan Sukapura.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Sumber.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Robatal.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian: Banyuates, Kedungdung, dan Pangarengan.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Karang Penang, Ketapang, Omben, Sokobanah, Sreseh, dan Torjun.
SAMPANG 0 - 20 mm Seluruh: Camplong dan Sampang.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Karang Penang, Ketapang, Omben, dan Sokobanah.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian: Sreseh dan Torjun.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyuates, Kedungdung, Pangarengan, dan Robatal.
SAMPANG 21 - 50 mm Seluruh: Jrengik dan Tambelangan.
SIDOARJO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Tarik.
SIDOARJO 0 - 20 mm Sebagian: Prambon.
SIDOARJO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Balong Bendo, Krembung, dan Tulangan.
SIDOARJO 0 - 20 mm Seluruh: Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krian, Porong, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Waru, dan Wonoayu.
SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Tulangan.
SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian: Balong Bendo dan Krembung.
SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Prambon dan Tarik.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian: Sumbermalang.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Jatibanteng, Kapongan, Mlandingan, Panji, dan Situbondo.
SITUBONDO 0 - 20 mm Seluruh: Banyuglugur, Besuki, Bungatan, Jangkar, Kendit, Mangaran, Panarukan, dan Suboh.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Banyuputih, Jatibanteng, Kapongan, Mlandingan, Panji, dan Situbondo.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Arjasa dan Asembagus.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Sumbermalang.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Arjasa.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Ganding.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian: Batuputih, Guluk Guluk, dan Manding.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Besar: Batuan, Bluto, Kota Sumenep, Lenteng, Nonggunong, Pragaan, dan Raas.
SUMENEP 0 - 20 mm Seluruh: Batang Batang, Dungkek, Gapura, Gayam, Giligenteng, Kalianget, Saronggi, dan Talango.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bluto, Kangayan, Nonggunong, Raas, dan Sapeken.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian: Batuan, Kota Sumenep, Lenteng, dan Pragaan.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ambunten, Batuputih, Ganding, Guluk Guluk, Manding, dan Rubaru.
SUMENEP 21 - 50 mm Seluruh: Dasuk, Masalembu, dan Pasongsongan.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ambunten dan Raas.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Rubaru.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kangayan dan Sapeken.
SUMENEP 51 - 100 mm Seluruh: Arjasa.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pogalan dan Suruh.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Karangan dan Pule.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bendungan dan Trenggalek.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Seluruh: Tugu.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Munjungan.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Bendungan dan Trenggalek.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dongko, Kampak, Karangan, Pogalan, Pule, Suruh, dan Watulimo.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Seluruh: Durenan, Gandusari, dan Panggul.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Dongko dan Kampak.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian: Watulimo.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Munjungan.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Munjungan.
TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangilan, Parengan, Senori, Singgahan, dan Soko.
TUBAN 21 - 50 mm Seluruh: Bancar, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Plumpang, Rengel, Semanding, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
TUBAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bangilan, Parengan, Singgahan, dan Soko.
TUBAN 51 - 100 mm Sebagian: Senori.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Campur Darat, Gondang, Sendang, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Boyolangu, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Ngantru, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Seluruh: Kedungwaru, Ngunut, Pucang Laban, Rejotangan, dan Sumbergempol.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngantru dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian: Boyolangu, Kalidawir, Karangrejo, dan Kauman.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Campur Darat, Gondang, Sendang, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Seluruh: Bandung, Besuki, Pager Wojo, dan Pakel.


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia Sirkulasi Monsun Asia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan

    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan

    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  4. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  5. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan AGUSTUS ).

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III AGUSTUS dan berakhir pada Dasarian I Oktober.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  12. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.