Berkisar antara 22 – 830 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Agustus Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur
Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan September Tahun 2025 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Agustus Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Burneh dan Tanah Merah. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian: Galis dan Kokop. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bangkalan, Konang, Kwanyar, Modung, dan Tragah. BANGKALAN 101 - 150 mm Seluruh: Blega, Kamal, Labang, dan Socah. BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kwanyar dan Modung. BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian: Bangkalan, Konang, dan Tragah. BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Arosbaya, Burneh, Galis, Geger, Klampis, Kokop, Sepulu, dan Tanah Merah. BANGKALAN 151 - 200 mm Seluruh: Tanjungbumi. BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Burneh, Sepulu, dan Tanah Merah. BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian: Arosbaya, Geger, dan Klampis. BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Wongsorejo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kalipuro, Purwoharjo, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Wongsorejo. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Glagah, Licin, Pesanggaran, Singojuruh, Srono, dan Wongsorejo. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Bangorejo, Cluring, Giri, Kalipuro, Rogojampi, dan Siliragung. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kabat, Muncar, Purwoharjo, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI 101 - 150 mm Seluruh: Banyuwangi. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gambiran, Licin, Muncar, Purwoharjo, Sempu, Siliragung, Songgon, dan Tegalsari. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Bangorejo, Glagah, Kabat, Kalipuro, Pesanggaran, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Cluring, Giri, Rogojampi, Singojuruh, dan Srono. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bangorejo, Cluring, Giri, Kabat, Kalipuro, Singojuruh, dan Srono. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian: Glagah dan Siliragung. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gambiran, Glenmore, Kalibaru, Licin, Pesanggaran, Sempu, Songgon, dan Tegalsari. BANYUWANGI 201 - 300 mm Seluruh: Genteng. BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kalibaru, Licin, dan Songgon. BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian: Glenmore. BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Garum, Kanigoro, Sanankulon, Sutojayan, dan Talun. BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ponggok dan Srengat. BLITAR 151 - 200 mm Seluruh: Udanawu dan Wonodadi. BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gandusari dan Srengat. BLITAR 201 - 300 mm Sebagian: Doko, Ponggok, dan Wlingi. BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Besar: Garum, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Sanankulon, Selopuro, Sutojayan, dan Talun. BLITAR 201 - 300 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Kademangan, Panggungrejo, Selorejo, Wates, dan Wonotirto. BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kesamben, Nglegok, Selopuro, dan Talun. BLITAR 301 - 400 mm Sebagian: Garum. BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Besar: Doko, Gandusari, dan Wlingi. BLITAR 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Wlingi. BLITAR 401 - 500 mm Sebagian: Gandusari. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Balen, Bojonegoro, dan Kepoh Baru. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian: Baureno dan Kanor. BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bubulan, Kedungadem, Sugihwaras, Sukosewu, dan Tambakrejo. BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian: Dander, Padangan, dan Sekar. BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Balen, Baureno, Bojonegoro, Gondang, Kanor, Kapas, Kepoh Baru, Ngasem, Purwosari, Sumberejo, dan Temayang. BOJONEGORO 151 - 200 mm Seluruh: Gayam, Kalitidu, Kasiman, Kedewan, Malo, dan Trucuk. BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gondang, Kepoh Baru, dan Sumberejo. BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian: Balen, Kapas, Ngasem, Purwosari, dan Temayang. BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bubulan, Dander, Kedungadem, Padangan, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, dan Tambakrejo. BOJONEGORO 201 - 300 mm Seluruh: Margomulyo, Ngambon, dan Ngraho. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sempol. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Prajekan. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Cermee. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pakem dan Taman Krocok. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Botolinggo, Cermee, Klabang, Sempol, dan Wringin. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Prajekan. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Cermee, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Prajekan, Pujer, Sukosari, dan Sumber Wringin. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian: Botolinggo dan Sempol. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Klabang, Pakem, Taman Krocok, Tapen, Tenggarang, Wonosari, dan Wringin. BONDOWOSO 151 - 200 mm Seluruh: Tegalampel. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Taman Krocok, dan Tenggarang. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian: Botolinggo, Pakem, Sempol, Tapen, dan Wonosari. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Pujer, Sukosari, dan Sumber Wringin. BONDOWOSO 201 - 300 mm Seluruh: Maesan, Tamanan, dan Tlogosari. GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Driyorejo. GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Driyorejo, Dukun, dan Panceng. GRESIK 101 - 150 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Duduksampeyan, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Sidayu, Ujungpangkah, dan Wringinanom. GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Panceng. GRESIK 151 - 200 mm Sebagian: Dukun. GRESIK 201 - 300 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Balung, Gumuk Mas, Silo, dan Tempurejo. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian: Ambulu, Kencong, dan Puger. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Besar: Wuluhan. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Semboro, Silo, dan Tanggul. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian: Ajung, Bangsalsari, Jombang, Mumbulsari, Puger, Rambipuji, dan Wuluhan. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ambulu, Balung, Gumuk Mas, Jenggawah, Kencong, Tempurejo, dan Umbulsari. JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jenggawah, Kencong, dan Sumber Baru. JEMBER 201 - 300 mm Sebagian: Puger, Tempurejo, dan Umbulsari. JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ajung, Bangsalsari, Jombang, Mumbulsari, Rambipuji, Semboro, Silo, dan Tanggul. JEMBER 201 - 300 mm Seluruh: Arjasa, Jelbuk, Kalisat, Kaliwates, Ledokombo, Mayang, Pakusari, Panti, Patrang, Sukorambi, Sukowono, Sumberjambe, dan Sumbersari. JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Puger dan Semboro. JEMBER 301 - 400 mm Sebagian: Tanggul. JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Besar: Sumber Baru. JEMBER 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Sumber Baru. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ngoro dan Wonosalam. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian: Megaluh, Ngusikan, dan Tembelang. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bandar Kedung Mulyo, Diwek, Gudo, Kesamben, Mojoagung, Mojowarno, Perak, dan Peterongan. JOMBANG 101 - 150 mm Seluruh: Jogo Roto, Jombang, dan Sumobito. JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Diwek, Mojoagung, Perak, dan Peterongan. JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian: Bandar Kedung Mulyo, Gudo, Kesamben, dan Mojowarno. JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Megaluh, Ngoro, Ngusikan, Tembelang, dan Wonosalam. JOMBANG 151 - 200 mm Seluruh: Bareng, Kabuh, Kudu, Plandaan, dan Ploso. JOMBANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Wonosalam. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gurah, Kras, Semen, dan Wates. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian: Banyakan, Grogol, Kunjang, Ringinrejo, dan Tarokan. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kandat, Kayen Kidul, Ngadiluwih, Ngasem, Pagu, dan Plemahan. KEDIRI 101 - 150 mm Seluruh: Gampengrejo, Papar, dan Purwoasri. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kandat, Kayen Kidul, Ngancar, Ngasem, dan Pagu. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian: Banyakan, Kepung, Mojo, Ngadiluwih, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, dan Semen. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Grogol, Gurah, Kandangan, Kras, Kunjang, Ringinrejo, Tarokan, dan Wates. KEDIRI 151 - 200 mm Seluruh: Badas dan Pare. KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Grogol dan Kras. KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian: Banyakan dan Kandangan. KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kepung, Mojo, Ngancar, Plosoklaten, Puncu, dan Semen. KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kepung, Ngancar, dan Puncu. KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bumiaji. KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian: Batu. KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Besar: Junrejo. KOTA BATU 201 - 300 mm Sebagian: Junrejo. KOTA BATU 201 - 300 mm Sebagian Besar: Batu dan Bumiaji. KOTA BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sukorejo. KOTA BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kepanjenkidul dan Sananwetan. KOTA BLITAR 201 - 300 mm Sebagian: Kepanjenkidul dan Sananwetan. KOTA BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Besar: Sukorejo. KOTA KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Mojoroto dan Pesantren. KOTA KEDIRI 101 - 150 mm Seluruh: Kota Kediri. KOTA KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Mojoroto. KOTA KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian: Pesantren. KOTA MADIUN 151 - 200 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman. KOTA MALANG 201 - 300 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun. KOTA MOJOKERTO 101 - 150 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Bugulkidul dan Gadingrejo. KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Panggungrejo dan Purworejo. KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Panggungrejo. KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Purworejo. KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bugulkidul dan Gadingrejo. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Mayangan. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Kanigaran. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kademangan dan Kedopok. KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kademangan. KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Kedopok. KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kanigaran, Mayangan, dan Wonoasih. KOTA PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Wonoasih. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sambikerep dan Tambaksari. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian: Genteng, Lakarsantri, Mulyorejo, dan Suko Manunggal. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Besar: Sawahan, Sukolilo, Tegalsari, dan Wiyung. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Seluruh: Dukuh Pakis, Gayungan, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Rungkut, Tenggilis Mejoyo, Wonocolo, dan Wonokromo. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sukolilo, Tegalsari, dan Wiyung. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian: Sawahan. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Besar: Genteng, Lakarsantri, Mulyorejo, Sambikerep, Suko Manunggal, dan Tambaksari. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, Pakal, Semampir, Simokerto, dan Tandes. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Maduran, Sambeng, Sekaran, dan Sugio. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian: Laren dan Pucuk. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Brondong, Kalitengah, Karang Geneng, Kembangbahu, Mantup, Solokuro, dan Sukodadi. LAMONGAN 101 - 150 mm Seluruh: Deket, Glagah, Karangbinangun, Lamongan, Paciran, Sarirejo, Tikung, dan Turi. LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Brondong, Karang Geneng, Solokuro, dan Sukodadi. LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian: Kalitengah, Kembangbahu, dan Mantup. LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bluluk, Laren, Maduran, Pucuk, Sambeng, Sekaran, Sugio, dan Sukorame. LAMONGAN 151 - 200 mm Seluruh: Babat, Kedungpring, Modo, dan Ngimbang. LAMONGAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bluluk. LAMONGAN 201 - 300 mm Sebagian: Sukorame. LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Yosowilangun. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gucialit, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Padang, Randuagung, dan Senduro. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian: Lumajang dan Ranuyoso. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Jatiroto, Sukodono, Tekung, dan Yosowilangun. LUMAJANG 201 - 300 mm Seluruh: Rowokangkung. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Pasrujambe dan Yosowilangun. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian: Jatiroto, Senduro, Sukodono, Tekung, dan Tempeh. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Gucialit, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang, Randuagung, Ranuyoso, dan Sumbersuko. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Candipuro, Klakah, Pronojiwo, dan Ranuyoso. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian: Gucialit, Padang, dan Sumbersuko. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Pasirian, Pasrujambe, Senduro, dan Tempeh. LUMAJANG > 500 mm Sebagian Kecil: Senduro. LUMAJANG > 500 mm Sebagian: Pasirian dan Pasrujambe. LUMAJANG > 500 mm Sebagian Besar: Candipuro dan Pronojiwo. LUMAJANG > 500 mm Seluruh: Tempursari. MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kare dan Mejayan. MADIUN 101 - 150 mm Sebagian: Gemarang. MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pilangkenceng. MADIUN 151 - 200 mm Sebagian: Sawahan. MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Gemarang, Jiwan, Kare, Madiun, Mejayan, Saradan, dan Wonoasri. MADIUN 151 - 200 mm Seluruh: Dagangan, Dolopo, Geger, Kebonsari, dan Wungu. MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Saradan. MADIUN 201 - 300 mm Sebagian: Jiwan, Madiun, Mejayan, dan Wonoasri. MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pilangkenceng dan Sawahan. MADIUN 201 - 300 mm Seluruh: Balerejo. MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian: Lembeyan. MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bendo. MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian: Kawedanan. MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Lembeyan, Parang, dan Takeran. MAGETAN 151 - 200 mm Seluruh: Nguntoronadi. MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Takeran. MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian: Parang. MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bendo dan Kawedanan. MAGETAN 201 - 300 mm Seluruh: Barat, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo, dan Sukomoro. MALANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Dau dan Singosari. MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gedangan dan Sumbermanjing. MALANG 201 - 300 mm Sebagian: Wajak. MALANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bantur, Dau, Ngantang, Poncokusumo, Singosari, dan Turen. MALANG 201 - 300 mm Seluruh: Bululawang, Donomulyo, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Pujon, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, Wagir, dan Wonosari. MALANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Ampelgading dan Bantur. MALANG 301 - 400 mm Sebagian: Ngantang, Poncokusumo, Sumbermanjing, Tirto Yudo, dan Turen. MALANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Dampit, Gedangan, dan Wajak. MALANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Poncokusumo. MALANG 401 - 500 mm Sebagian: Ampelgading, Dampit, Gedangan, dan Tirto Yudo. MALANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Sumbermanjing. MALANG > 500 mm Sebagian Kecil: Dampit. MALANG > 500 mm Sebagian: Tirto Yudo. MALANG > 500 mm Sebagian Besar: Ampelgading. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngoro. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pacet. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian: Gondang dan Trawas. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Jatirejo dan Ngoro. MOJOKERTO 101 - 150 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Pungging, Puri, Sooko, dan Trowulan. MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian: Jatirejo. MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Gondang, Pacet, dan Trawas. MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gondang, Jatirejo, dan Pacet. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gondang, Rejoso, dan Wilangan. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian: Baron, Berbek, dan Loceret. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bagor, Kertosono, Pace, dan Tanjunganom. NGANJUK 101 - 150 mm Seluruh: Nganjuk, Ngronggot, Prambon, dan Sukomoro. NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kertosono dan Tanjunganom. NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian: Bagor dan Pace. NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Baron, Berbek, Gondang, Loceret, Ngetos, Rejoso, Sawahan, dan Wilangan. NGANJUK 151 - 200 mm Seluruh: Jatikalen, Lengkong, Ngluyu, dan Patianrowo. NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Loceret, Ngetos, dan Sawahan. NGAWI 201 - 300 mm Sebagian: Sine. NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Karanganyar, Ngrambe, dan Widodaren. NGAWI 201 - 300 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Ngawi, Padas, Pangkur, Paron, dan Pitu. NGAWI 301 - 400 mm Sebagian: Karanganyar, Ngrambe, dan Widodaren. NGAWI 301 - 400 mm Sebagian Besar: Sine. NGAWI 301 - 400 mm Seluruh: Mantingan. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Arjosari. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian: Punung. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bandar, Donorojo, Nawangan, dan Tegalombo. PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Bandar, Nawangan, Ngadirojo, Sudimoro, dan Tulakan. PACITAN 301 - 400 mm Sebagian: Donorojo dan Tegalombo. PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Besar: Arjosari, Pringkuku, dan Punung. PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Arjosari dan Tegalombo. PACITAN 401 - 500 mm Sebagian: Pringkuku dan Sudimoro. PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Besar: Ngadirojo dan Tulakan. PACITAN 401 - 500 mm Seluruh: Kebonagung dan Pacitan. PACITAN > 500 mm Sebagian Kecil: Ngadirojo dan Tulakan. PACITAN > 500 mm Sebagian Besar: Sudimoro. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Larangan. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian: Galis. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pegantenan. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Galis, Kadur, Larangan, Palengaan, dan Proppo. PAMEKASAN 51 - 100 mm Seluruh: Pademawu, Pamekasan, dan Tlanakan. PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Proppo. PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian: Kadur dan Palengaan. PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pegantenan. PAMEKASAN 101 - 150 mm Seluruh: Batu Marmar, Pakong, Pasean, dan Waru. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Grati, Kraton, Lekok, dan Nguling. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kejayan, Pandaan, Pasrepan, Purwosari, dan Sukorejo. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Gempol dan Lumbang. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Beji, Grati, Kraton, Lekok, Nguling, Rembang, dan Winongan. PASURUAN 51 - 100 mm Seluruh: Bangil, Gondang Wetan, Pohjentrek, dan Rejoso. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Beji, Kraton, Nguling, Prigen, Purwodadi, Puspo, dan Tosari. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian: Rembang dan Winongan. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Gempol, Kejayan, Lumbang, Pandaan, Pasrepan, Purwosari, dan Sukorejo. PASURUAN 101 - 150 mm Seluruh: Wonorejo. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kejayan, Lumbang, Pandaan, Sukorejo, dan Tutur. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian: Pasrepan, Purwodadi, Purwosari, dan Tosari. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Prigen dan Puspo. PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pasrepan dan Purwosari. PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian: Puspo. PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Purwodadi, Tosari, dan Tutur. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Balong, Bungkal, Pulung, dan Sampung. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian: Jenangan, Kauman, Sambit, Sawoo, dan Sukorejo. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Babadan, Jetis, Mlarak, dan Siman. PONOROGO 101 - 150 mm Seluruh: Ponorogo. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jetis, Mlarak, Ngrayun, dan Siman. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian: Babadan dan Pudak. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Kauman, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Slahung, Sooko, dan Sukorejo. PONOROGO 151 - 200 mm Seluruh: Ngebel. PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Pulung, Sambit, dan Sooko. PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian: Slahung. PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ngrayun dan Pudak. PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian: Ngrayun. PONOROGO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Ngrayun. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kraksaan, Krejengan, Paiton, dan Pajarakan. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Besuk, Gending, Maron, Pakuniran, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Kotaanyar, Kraksaan, dan Krejengan. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Paiton, Pajarakan, Sumberasih, dan Tongas. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Leces, Paiton, Pajarakan, Sukapura, dan Sumberasih. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Bantaran, Besuk, Dringu, Gending, Krejengan, Kuripan, Maron, Pakuniran, dan Tongas. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kotaanyar, Kraksaan, Lumbang, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Kraksaan, Lumbang, Sumber, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian: Bantaran, Gading, Krejengan, Kuripan, Maron, dan Sukapura. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Besuk, Dringu, Gending, Leces, dan Pakuniran. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bantaran, Dringu, Gending, Pakuniran, dan Tiris. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian: Kuripan, Leces, Maron, dan Sukapura. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Banyuanyar, Gading, Krucil, Sumber, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Sukapura, Sumber, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian: Krucil dan Tiris. PROBOLINGGO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Krucil. PROBOLINGGO 401 - 500 mm Sebagian: Tiris. SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Camplong, Omben, Sampang, dan Torjun. SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Banyuates, Camplong, Omben, Sampang, dan Torjun. SAMPANG 101 - 150 mm Seluruh: Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Pangarengan, Robatal, Sokobanah, Sreseh, dan Tambelangan. SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Banyuates. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Wonoayu. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian: Tulangan. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Krembung, Sidoarjo, Sukodono, dan Taman. SIDOARJO 51 - 100 mm Seluruh: Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Porong, Sedati, Tanggulangin, dan Waru. SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sidoarjo, Sukodono, dan Taman. SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian: Krembung. SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Tulangan dan Wonoayu. SIDOARJO 101 - 150 mm Seluruh: Balong Bendo, Krian, Prambon, dan Tarik. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Mlandingan, dan Panji. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Kapongan dan Suboh. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyuputih dan Mangaran. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Banyuglugur dan Jatibanteng. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian: Banyuputih, Bungatan, Mangaran, Mlandingan, dan Suboh. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Besuki, Kapongan, Kendit, dan Panji. SITUBONDO 51 - 100 mm Seluruh: Jangkar, Panarukan, dan Situbondo. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Asembagus dan Besuki. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian: Arjasa, Kendit, Suboh, dan Sumbermalang. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Banyuglugur, Bungatan, Jatibanteng, dan Mlandingan. SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Arjasa dan Mlandingan. SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian: Jatibanteng. SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Sumbermalang. SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sumbermalang. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Batuan dan Ganding. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Kalianget, Pragaan, dan Talango. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bluto, Lenteng, dan Raas. SUMENEP 51 - 100 mm Seluruh: Gayam, Giligenteng, Nonggunong, dan Saronggi. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bluto, Kangayan, dan Raas. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian: Lenteng. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Besar: Batuan, Ganding, Kalianget, Pragaan, Sapeken, dan Talango. SUMENEP 101 - 150 mm Seluruh: Ambunten, Batang Batang, Batuputih, Dasuk, Dungkek, Gapura, Guluk Guluk, Kota Sumenep, Manding, Masalembu, Pasongsongan, dan Rubaru. SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sapeken. SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kangayan. SUMENEP 151 - 200 mm Seluruh: Arjasa. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pogalan, Pule, dan Suruh. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian: Bendungan dan Karangan. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Trenggalek. TRENGGALEK 151 - 200 mm Seluruh: Tugu. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Dongko, Kampak, dan Watulimo. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian: Pule dan Trenggalek. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bendungan, Karangan, Pogalan, dan Suruh. TRENGGALEK 201 - 300 mm Seluruh: Durenan dan Gandusari. TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Panggul dan Suruh. TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian: Pule dan Watulimo. TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Besar: Dongko dan Kampak. TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian: Dongko, Kampak, Munjungan, dan Watulimo. TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian Besar: Panggul. TRENGGALEK > 500 mm Sebagian Kecil: Kampak, Panggul, dan Watulimo. TRENGGALEK > 500 mm Sebagian Besar: Munjungan. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jatirogo, Parengan, dan Widang. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian: Plumpang. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bancar, Grabagan, Kerek, Montong, Palang, Rengel, Semanding, Soko, dan Tambakboyo. TUBAN 101 - 150 mm Seluruh: Jenu, Merakurak, dan Tuban. TUBAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bancar, Grabagan, Kerek, Rengel, Semanding, dan Tambakboyo. TUBAN 151 - 200 mm Sebagian: Montong, Palang, dan Soko. TUBAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Jatirogo, Parengan, Plumpang, dan Widang. TUBAN 151 - 200 mm Seluruh: Bangilan, Kenduruan, Senori, dan Singgahan. TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kalidawir, Kauman, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian: Karangrejo, Kedungwaru, Ngantru, dan Ngunut. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Besuki. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian: Sendang dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bandung, Campur Darat, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sumbergempol, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Seluruh: Boyolangu dan Gondang. TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Bandung, Pager Wojo, dan Pakel. TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian: Campur Darat. TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Besuki, Sendang, dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Sendang.
( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Agustus Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan OKTOBER ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III OKTOBER dan berakhir pada Dasarian I Oktober.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.