( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan DESEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Oktober Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan DESEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Oktober Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 142 – 663 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan DESEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Oktober Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan November Tahun 2025 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan DESEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Oktober Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Tanjungbumi.
BANGKALAN 201 - 300 mm Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, dan Tragah.
BANGKALAN 301 - 400 mm Sebagian: Tanjungbumi.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Cluring, Glagah, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Giri dan Purwoharjo.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Banyuwangi.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Glenmore.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian: Banyuwangi dan Songgon.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Cluring, Genteng, Giri, Glagah, Licin, Pesanggaran, Purwoharjo, Sempu, Siliragung, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Seluruh: Bangorejo, Gambiran, Kabat, Kalipuro, Muncar, Rogojampi, Singojuruh, Srono, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Genteng dan Siliragung.
BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian: Licin, Pesanggaran, Sempu, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Besar: Glenmore dan Songgon.
BANYUWANGI 301 - 400 mm Seluruh: Kalibaru.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Binangun, Garum, Kesamben, Nglegok, Selopuro, Talun, dan Wates.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kanigoro, Panggungrejo, Ponggok, dan Sutojayan.
BLITAR 201 - 300 mm Seluruh: Bakung, Kademangan, Sanankulon, Srengat, Udanawu, Wonodadi, dan Wonotirto.
BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kanigoro, Ponggok, dan Sutojayan.
BLITAR 301 - 400 mm Sebagian: Gandusari dan Panggungrejo.
BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Besar: Binangun, Doko, Garum, Kesamben, Nglegok, Selopuro, Talun, Wates, dan Wlingi.
BLITAR 301 - 400 mm Seluruh: Selorejo.
BLITAR 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Doko, Garum, Nglegok, dan Talun.
BLITAR 401 - 500 mm Sebagian: Wlingi.
BLITAR 401 - 500 mm Sebagian Besar: Gandusari.
BOJONEGORO 201 - 300 mm Seluruh: Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian: Cermee.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sumber Wringin dan Tlogosari.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian: Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Pujer, dan Sukosari.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Binakal, Botolinggo, Cermee, Curah Dami, Pakem, Sempol, dan Tapen.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Seluruh: Bondowoso, Klabang, Prajekan, Taman Krocok, Tegalampel, Tenggarang, Wonosari, dan Wringin.
BONDOWOSO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Binakal, Botolinggo, Curah Dami, dan Tapen.
BONDOWOSO 301 - 400 mm Sebagian: Pakem dan Sempol.
BONDOWOSO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Pujer, Sukosari, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 301 - 400 mm Seluruh: Maesan dan Tamanan.
GRESIK 201 - 300 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
GRESIK 401 - 500 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jenggawah, Mayang, Sumber Baru, Sumbersari, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian: Bangsalsari dan Rambipuji.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ambulu dan Semboro.
JEMBER 201 - 300 mm Seluruh: Balung, Gumuk Mas, Jombang, Kencong, Puger, Umbulsari, dan Wuluhan.
JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Ambulu.
JEMBER 301 - 400 mm Sebagian: Semboro.
JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Besar: Bangsalsari, Jenggawah, Kaliwates, Mayang, Patrang, Rambipuji, Sumber Baru, Sumbersari, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 301 - 400 mm Seluruh: Ajung, Arjasa, Jelbuk, Kalisat, Ledokombo, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Silo, Sukorambi, Sukowono, dan Sumberjambe.
JEMBER 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Kaliwates dan Patrang.
JOMBANG 201 - 300 mm Sebagian: Bareng dan Ngoro.
JOMBANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gudo, Mojowarno, dan Wonosalam.
JOMBANG 201 - 300 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Diwek, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, dan Tembelang.
JOMBANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Gudo dan Mojowarno.
JOMBANG 301 - 400 mm Sebagian: Wonosalam.
JOMBANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Bareng dan Ngoro.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Banyakan, Grogol, Gurah, Kepung, Mojo, Ngancar, Plemahan, Plosoklaten, dan Semen.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian: Gampengrejo dan Pagu.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kunjang, Ngasem, Purwoasri, dan Wates.
KEDIRI 201 - 300 mm Seluruh: Kandat, Kras, Ngadiluwih, dan Ringinrejo.
KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Ngasem dan Wates.
KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian: Kunjang, Purwoasri, dan Semen.
KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian Besar: Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kepung, Mojo, Ngancar, Pagu, Plemahan, Plosoklaten, dan Puncu.
KEDIRI 301 - 400 mm Seluruh: Badas, Kandangan, Kayen Kidul, Papar, Pare, dan Tarokan.
KEDIRI 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Grogol, Kepung, Ngancar, dan Puncu.
KEDIRI 401 - 500 mm Sebagian: Banyakan, Mojo, dan Semen.
KEDIRI > 500 mm Sebagian Kecil: Mojo dan Semen.
KOTA BATU 201 - 300 mm Sebagian: Bumiaji.
KOTA BATU 201 - 300 mm Sebagian Besar: Batu dan Junrejo.
KOTA BATU 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Junrejo.
KOTA BATU 301 - 400 mm Sebagian: Batu.
KOTA BATU 301 - 400 mm Sebagian Besar: Bumiaji.
KOTA BLITAR 201 - 300 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Mojoroto dan Pesantren.
KOTA KEDIRI 201 - 300 mm Seluruh: Kota Kediri.
KOTA KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Pesantren.
KOTA KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian: Mojoroto.
KOTA MADIUN 201 - 300 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Klojen dan Sukun.
KOTA MALANG 201 - 300 mm Sebagian: Blimbing.
KOTA MALANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Lowokwaru.
KOTA MALANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Lowokwaru.
KOTA MALANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Blimbing, Klojen, dan Sukun.
KOTA MALANG 301 - 400 mm Seluruh: Kedungkandang.
KOTA MOJOKERTO 201 - 300 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bugulkidul, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bugulkidul, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PASURUAN 201 - 300 mm Seluruh: Gadingrejo.
KOTA PROBOLINGGO 201 - 300 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
KOTA SURABAYA 201 - 300 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
LAMONGAN 201 - 300 mm Seluruh: Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian: Klakah dan Ranuyoso.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Jatiroto, Pasrujambe, Randuagung, dan Senduro.
LUMAJANG 201 - 300 mm Seluruh: Candipuro, Gucialit, Kedungjajang, Kunir, Lumajang, Padang, Pasirian, Pronojiwo, Rowokangkung, Sukodono, Sumbersuko, Tekung, Tempeh, Tempursari, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Jatiroto, Pasrujambe, dan Senduro.
LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian: Randuagung.
LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Klakah dan Ranuyoso.
MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gemarang, Kare, dan Saradan.
MADIUN 201 - 300 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Jiwan, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MADIUN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kare dan Saradan.
MADIUN 301 - 400 mm Sebagian: Gemarang.
MAGETAN 201 - 300 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Donomulyo, Kalipare, Kasembon, Kromengan, Ngajum, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Sumber Pucung, Sumbermanjing, dan Wagir.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian: Bululawang, Dampit, Gedangan, Lawang, dan Pagak.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ampelgading, Bantur, Dau, Karangploso, Kepanjen, Singosari, Tirto Yudo, dan Turen.
MALANG 201 - 300 mm Seluruh: Gondanglegi dan Pagelaran.
MALANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Ampelgading, Kepanjen, Ngantang, dan Tirto Yudo.
MALANG 301 - 400 mm Sebagian: Bantur, Dau, Karangploso, Singosari, dan Turen.
MALANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Bululawang, Dampit, Donomulyo, Gedangan, Kalipare, Kasembon, Kromengan, Lawang, Ngajum, Pagak, Pakis, Pakisaji, Poncokusumo, Pujon, Sumber Pucung, Sumbermanjing, dan Wagir.
MALANG 301 - 400 mm Seluruh: Jabung, Tajinan, Tumpang, Wajak, dan Wonosari.
MALANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Pujon.
MALANG 401 - 500 mm Sebagian: Kasembon.
MALANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Ngantang.
MALANG > 500 mm Sebagian Kecil: Kasembon dan Pujon.
MALANG > 500 mm Sebagian: Ngantang.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pacet dan Trawas.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian: Gondang.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Jatirejo, Kutorejo, Ngoro, dan Pungging.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Jetis, Kemlagi, Mojoanyar, Mojosari, Puri, Sooko, dan Trowulan.
MOJOKERTO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kutorejo, Ngoro, dan Pungging.
MOJOKERTO 301 - 400 mm Sebagian: Jatirejo.
MOJOKERTO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Gondang, Pacet, dan Trawas.
MOJOKERTO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Trawas.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ngronggot.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian: Loceret dan Pace.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Berbek, Gondang, Kertosono, Rejoso, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGANJUK 201 - 300 mm Seluruh: Bagor, Baron, Jatikalen, Lengkong, Nganjuk, Ngluyu, Patianrowo, dan Sukomoro.
NGANJUK 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kertosono, Rejoso, dan Wilangan.
NGANJUK 301 - 400 mm Sebagian: Berbek, Gondang, dan Tanjunganom.
NGANJUK 301 - 400 mm Sebagian Besar: Loceret, Ngetos, Ngronggot, Pace, dan Sawahan.
NGANJUK 301 - 400 mm Seluruh: Prambon.
NGANJUK 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Ngetos.
NGANJUK 401 - 500 mm Sebagian: Sawahan.
NGAWI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Karanganyar dan Widodaren.
NGAWI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Mantingan.
NGAWI 201 - 300 mm Sebagian: Mantingan.
NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Karanganyar dan Widodaren.
NGAWI 201 - 300 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, dan Sine.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Nawangan dan Tegalombo.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian: Bandar.
PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Pacitan.
PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Besar: Bandar, Kebonagung, Nawangan, Pringkuku, dan Tegalombo.
PACITAN 301 - 400 mm Seluruh: Arjosari, Donorojo, Ngadirojo, Punung, Sudimoro, dan Tulakan.
PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Kebonagung dan Pringkuku.
PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Besar: Pacitan.
PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pegantenan.
PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian: Kadur dan Palengaan.
PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Larangan, Proppo, dan Tlanakan.
PAMEKASAN 151 - 200 mm Seluruh: Galis, Pademawu, dan Pamekasan.
PAMEKASAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Larangan dan Tlanakan.
PAMEKASAN 201 - 300 mm Sebagian: Proppo.
PAMEKASAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kadur, Palengaan, dan Pegantenan.
PAMEKASAN 201 - 300 mm Seluruh: Batu Marmar, Pakong, Pasean, dan Waru.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Nguling dan Winongan.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian: Rejoso.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Grati dan Lekok.
PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Purwodadi, Sukorejo, dan Tosari.
PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian: Grati, Lekok, Lumbang, Pandaan, Puspo, dan Wonorejo.
PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Beji, Gempol, Kejayan, Nguling, Pasrepan, Rejoso, Rembang, dan Winongan.
PASURUAN 201 - 300 mm Seluruh: Bangil, Gondang Wetan, Kraton, dan Pohjentrek.
PASURUAN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Beji dan Rembang.
PASURUAN 301 - 400 mm Sebagian: Gempol, Kejayan, dan Pasrepan.
PASURUAN 301 - 400 mm Sebagian Besar: Lumbang, Pandaan, Prigen, Purwodadi, Puspo, Sukorejo, Tosari, dan Wonorejo.
PASURUAN 301 - 400 mm Seluruh: Purwosari dan Tutur.
PASURUAN 401 - 500 mm Sebagian: Prigen.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Babadan, Jenangan, Jetis, Kauman, Sambit, Sawoo, dan Sukorejo.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian: Mlarak dan Siman.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ponorogo.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ponorogo.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian: Pudak.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Babadan, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngrayun, Pulung, Sambit, Sawoo, Siman, Slahung, dan Sukorejo.
PONOROGO 201 - 300 mm Seluruh: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Ngebel, Sampung, dan Sooko.
PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Pulung dan Slahung.
PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian: Ngrayun.
PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Pudak.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, dan Maron.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian: Paiton.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Pajarakan.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gading dan Tiris.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian: Pajarakan.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Banyuanyar, Besuk, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Lumbang, Maron, Paiton, Pakuniran, Sukapura, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Seluruh: Bantaran, Dringu, Kuripan, Leces, Sumber, Sumberasih, Tongas, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Krejengan, Lumbang, Maron, Sukapura, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian: Besuk dan Pakuniran.
PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Gading dan Tiris.
PROBOLINGGO 301 - 400 mm Seluruh: Krucil.
PROBOLINGGO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Tiris.
SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Camplong, Omben, Pangarengan, dan Sokobanah.
SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian: Kedungdung.
SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Sampang dan Torjun.
SAMPANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sampang.
SAMPANG 201 - 300 mm Sebagian: Torjun.
SAMPANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Camplong, Kedungdung, Omben, Pangarengan, dan Sokobanah.
SAMPANG 201 - 300 mm Seluruh: Banyuates, Jrengik, Karang Penang, Ketapang, Robatal, Sreseh, dan Tambelangan.
SIDOARJO 201 - 300 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Banyuputih dan Kapongan.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian: Mangaran.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Panarukan, dan Situbondo.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Jangkar, Kapongan, Mangaran, dan Panji.
SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jangkar dan Panji.
SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Panarukan, Situbondo, dan Sumbermalang.
SITUBONDO 201 - 300 mm Seluruh: Banyuglugur, Besuki, Bungatan, Jatibanteng, Kendit, Mlandingan, dan Suboh.
SITUBONDO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Asembagus.
SITUBONDO 301 - 400 mm Sebagian: Sumbermalang.
SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pragaan.
SUMENEP 201 - 300 mm Sebagian: Kangayan.
SUMENEP 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pragaan.
SUMENEP 201 - 300 mm Seluruh: Ambunten, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Raas, Rubaru, Sapeken, Saronggi, dan Talango.
SUMENEP 301 - 400 mm Sebagian Besar: Kangayan.
SUMENEP 301 - 400 mm Seluruh: Arjasa.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Karangan dan Watulimo.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian: Pogalan dan Trenggalek.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Gandusari.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Dongko.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian: Gandusari.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bendungan, Kampak, Karangan, Pogalan, Pule, Suruh, Trenggalek, dan Watulimo.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Seluruh: Durenan dan Tugu.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Bendungan dan Suruh.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian: Kampak, Pule, dan Watulimo.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Besar: Dongko dan Munjungan.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Seluruh: Panggul.
TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Munjungan.
TUBAN 201 - 300 mm Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bandung.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sendang.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bandung, Karangrejo, dan Pager Wojo.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Seluruh: Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Gondang, Kalidawir, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Karangrejo.
TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian: Pager Wojo.
TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Sendang.
TULUNGAGUNG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Sendang.


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan

    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan

    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  4. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  5. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan DESEMBER ).

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III DESEMBER dan berakhir pada Dasarian I DESEMBER.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  12. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.