( Prakiraan 6 Bulanan ) Curah Hujan Musim Kemarau Tahun 2024 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur ( Prakiraan 6 Bulanan ) Curah Hujan Musim Kemarau Tahun 2024 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

Curah Hujan selama Musim Kemarau 2024 diprediksi berkisar antara 100 mm hingga lebih dari 500 mm.

    • 101 - 200 mm : 9 ZOM (12,2 % dari 74 ZOM)
    • 201 - 300 mm: 21 ZOM (28,4 % dari 74 ZOM)
    • 301 - 400 mm : 22 ZOM (29,6 % dari 74 ZOM)
    • 401 - 500 mm: 11 ZOM (14,9 % dari 74 ZOM)
    • > 500 mm : 11 ZOM (14,9 % dari 74 ZOM)

Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    1. El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.

    2. Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.

    3. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.

    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi prakiraan musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prakiraan Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  4. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  5. Puncak Musim Hujan

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

  6. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  7. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  8. Perbandingan Terhadap Normalnya

    Dilakukan untuk parameter prakiraan awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter prakiraan tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu prakiraan datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu prakiraan datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu prakiraan durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu prakiraan durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  9. Satu Periode Musim

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).



Selengkapnya Prediksi Curah Hujan Musim Kemarau 2024 di Jawa Timur adalah sebagai berikut:






DASARIAN KOTA/KABUPATEN KECAMATAN/BAGIAN DARI KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Blitar Garum, Kanigoro, Nglegok, Ponggok, Sanankulon dan Talun
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Bojonegoro Balen, Baureno, Bubulan, Gondang, Kanor, Kedungadem, Kepohbaru, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberrejo dan Temayang
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Jember Gumukmas, Jombang, Kencong dan Umbulsari
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Jombang Kabuh, Plandaan dan Wonosalam
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Kediri Kepung, Ngancar, Plosoklaten, Puncu dan Wates
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Kota Blitar Kepanjenkidul, Sananwetan dan Sukorejo
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Lamongan Babat, Bluluk, Karanggeneng, Kedungpring, Laren, Maduran, Modo, Ngimbang, Sekaran dan Sukorame
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Lumajang Kunir, Lumajang, Rowokangkung, Sumbersuko, Tekung, Tempeh dan Yosowilangun
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Malang Kasembon
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Mojokerto Gondang dan Jatirejo
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Nganjuk Ngluyu
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Pamekasan Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Palenggaan, Pamekasan, Proppo dan Tlanakan
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Sampang Camplong, Karangpenang, Kedungdung, Omben, Robatal, Sampang, Sokobanah dan Torjun
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Sumenep Ambunten, Batuputih, Bluto, Dasuk, Ganding, Guluk-Guluk, Lenteng, Pragaan dan Rubaru
101 - 200 mm
9 ZOM
( 12,20 % )
Tuban Palang, Plumpang, Rengel dan Widang
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Bangkalan Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Kamal, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, Tanah Merah, Tanjung dan Tragah
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Bojonegoro Bojonegoro, Dander, Gayam, Kalitidu, Kapas, Kasiman, Kedewan, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Tambakrejo dan Trucuk
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Bondowoso Binakal, Bondowoso, Curahdami, Grujugan, Maesan, Pakem, Tamanan, Tapen, Tegalampel dan Wringin
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Gresik Dukun, Panceng, Sangkapura dan Tambak
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Jember Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Jelbuk, Kaliwates, Panti, Patrang, Puger, Semboro, Sukorambi, Sumberbaru, Tanggul, Tempurejo dan Wuluhan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Jombang Bandarkedungmulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogoroto, Jombang, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Ploso, Sumobito dan Tembelang
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Kediri Badas, Banyakan, Grogol, Kandangan, Kunjang, Mojo, Semen dan Tarokan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Kota Kediri Kota, Mojoroto dan Pesantren
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Kota Madiun Kartoharjo dan Manguharjo
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Kota Mojokerto Prajuritkulon
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Lamongan Brondong, Kalitengah, Karangbinangun, Paciran dan Solokuro
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Lumajang Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Padang, Randuagung, Ranuyoso dan Sukodono
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Madiun Balerejo, Gemarang, Jiwan, Kare, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri dan Wungu
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Magetan Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo dan Sukomoro
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Mojokerto Gedeg, Kemlagi, Pacet, Sooko, Trawas dan Trowulan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Nganjuk Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Pace, Patianrowo, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom dan Wilangan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Ngawi Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kendal, Kwadungan, Ngrambe, Padas, Pangkur dan Sine
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Pamekasan Batumarmar, Pakong, Pasean, Pegantenan dan Waru
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Pasuruan Gempol, Kejayan, Lumbang, Pasrepan, Prigen, Purwodadi, Puspo dan Tosari
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Ponorogo Ngebel, Pudak, Pulung dan Sooko
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Probolinggo Bantaran, Banyuanyar, Gading, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Sukapura, Sumber, Tegalsiwalan, Tiris dan Wonomerto
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Sampang Banyuates, Jrengik, Ketapang, Pangarengan, Sreseh dan Tambelangan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Situbondo Sumbermalang
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Sumenep Masalembu dan Pasongsongan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Trenggalek Bendungan
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Tuban Parengan, Senori dan Soko
201 - 300 mm
21 ZOM
( 28,40 % )
Tulungagung Pagerwojo dan Sendang
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Banyuwangi Genteng, Glenmore, Kalibaru, Kalipuro, Sempu dan Wongsorejo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Blitar Bakung, Binangun, Kademangan, Kesamben, Panggungrejo, Selopuro, Srengat, Sutojayan, Udanawu, Wates, Wonodadi dan Wonotirto
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Gresik Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Sidayu, Ujungpangkah dan Wringinanom
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Kediri Gampengrejo, Gurah, Kandat, Kayen, Kras, Ngadiluwih, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Purwoasri dan Ringinrejo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Kota Batu Batu, Bumiaji dan Junrejo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Kota Mojokerto Kranggan dan Magersari
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Kota Pasuruan Bugul Kidul, Gadingrejo, Panggungrejo dan Purworejo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Kota Probolinggo Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan dan Wonoasih
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Kota Surabaya Asem Rowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karangpilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Sukolilo, Sukomanunggal, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis, Wiyung, Wonocolo dan Wonokromo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Lamongan Deket, Glagah, Kembangbahu, Lamongan, Mantup, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sugio, Sukodadi, Tikung dan Turi
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Lumajang Pronojiwo dan Tempursari
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Malang Ampelgading, Bantur, Donomulyo, Kalipare, Karangploso, Lawang, Pagak dan Singosari
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Mojokerto Bangsal, Dawarblandong, Dlanggu, Jetis, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pungging dan Puri
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Nganjuk Kertosono, Ngronggot dan Prambon
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Pacitan Arjosari, Bandar, Nawangan dan Tegalombo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Pasuruan Bangil, Beji, Gempol, Gondang wetan, Grati, Kraton, Lekok, Nguling, Pandaan, Pohjentrek, Purwodadi, Purwosari, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Winongan dan Wonorejo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Ponorogo Ngrayun
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Probolinggo Besuk, Dringu, Gending, Kraksaan, Krejengan, Pajarakan, Sumberasih dan Tongas
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Sidoarjo Balongbendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru dan Wonoayu
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Situbondo Bungatan, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji dan Situbondo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Sumenep Batang, Batuan, Dungkek, Gapura, Gayam, Giliginting, Kalianget, Kota Sumenep, Manding, Nonggunong, Ra"as, Saronggi dan Talango
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Trenggalek Pule
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Tuban Bancar, Jatirogo, Kenduruan dan Tambakboyo
301 - 400 mm
22 ZOM
( 29,70 % )
Tulungagung Besuki, Kalidawir, Karangrejo, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pucanglaban, Rejotangan, Sumbergempol, Tanggunggunung dan Tulungagung
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Banyuwangi Bangorejo, Cluring, Gambiran, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Songgon, Srono, Tegaldlimo dan Tegalsari
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Bondowoso Sempol
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Kota Madiun Taman
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Madiun Dagangan, Dolopo, Geger, Kebonsari dan Wungu
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Magetan Kawedanan, Lembeyan, Nguntoronadi, Parang dan Takeran
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Malang Jabung, Pakis, Poncokusumo, Tumpang dan Wajak
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Pacitan Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro dan Tulakan
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Pasuruan Tutur
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Ponorogo Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ponorogo, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung dan Sukorejo
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Probolinggo Kotaanyar, Paiton dan Pakuniran
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Situbondo Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Jangkar, Jatibanteng, Mlandingan dan Suboh
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Trenggalek Dongko, Durenan, Gandusari, Kampak, Karangan, Munjungan, Panggul, Pogalan, Suruh, Trenggalek, Tugu dan Watulimo
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Tuban Bangilan, Grabagan, Jenu, Kerek, Merakurak, Montong, Semanding, Singgahan dan Tuban
401 - 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Tulungagung Bandung, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kauman dan Pakel
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Bangkalan Arosbaya, Geger, Klampis, Kokop dan Sepulu
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Banyuwangi Banyuwangi, Blimbingsari, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi dan Singojuruh
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Blitar Doko, Gandusari, Kesamben, Selorejo dan Wlingi
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Bondowoso Botolinggo, Cerme, Jambesari, Klabang, Prajekan, Pujer, Sukosari, Sumberwringin, Taman Krocok, Tenggarang, Tlogosari dan Wonosari
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Jember Ajung, Jenggawah, Kalisat, Kaliwates, Ledokombo, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Rambipuji, Silo, Sukowono, Sumberjambe dan Sumbersari
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Kota Malang Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru dan Sukun
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Lumajang Candipuro, Pasirian, Pasrujambe dan Senduro
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Malang Bululawang, Dampit, Dau, Gedangan, Gondanglegi, Kepanjen, Kromengan, Ngajum, Ngantang, Pagelaran, Pakisaji, Pujon, Sumbermanjing, Sumberpucung, Tajinan, Tirtoyudo, Turen, Wagir dan Wonosari
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Ngawi Karanganyar, Kedunggalar, Mantingan, Ngawi, Paron, Pitu dan Widodaren
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Situbondo Arjasa
> 500 mm
11 ZOM
( 14,90 % )
Sumenep Arjasa, Kangayan dan Sapeken











NO
ZOM
Daerah/Kabupaten Normal
Durasi
Musim
Kemarau
Normal
Panjang Musim
(Dasarian)
Normal
Curah
Hujan
( mm )
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan. April III - Oktober II
( Tanggal 21 April - 20 Oktober )
17 360 - 488
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Mei I - Oktober II
( Tanggal 1 Mei - 20 Oktober )
16 175 - 237
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Mei I - November I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 261 - 353
279 Bagian selatan Trenggalek Juni III - September III
( Tanggal 21 Juni - 30 September )
9 67 - 91
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 354 - 478
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 234 - 316
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. Mei I - Oktober III
( Tanggal 1 Mei - 31 Oktober )
17 165 - 223
283 Bagian barat Ngawi. April III - Oktober III
( Tanggal 21 April - 31 Oktober )
18 216 - 292
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 263 - 355
285 Bagian barat Tuban. April II - November II
( Tanggal 11 April - 20 November )
21 307 - 415
286 Bagian tengah Tuban. April II - November III
( Tanggal 11 April - 30 November )
22 347 - 469
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 283 - 383
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 188 - 254
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 281 - 381
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 394 - 532
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. Mei I - November I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 179 - 243
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. Mei II - Oktober III
( Tanggal 11 Mei - 31 Oktober )
16 227 - 307
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 339 - 459
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 424 - 574
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 349 - 473
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. Mei I - November I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 513 - 693
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 1026 - 1388
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 774 - 1048
299 Bagian tenggara Lamongan. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 434 - 587
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. April II - Desember I
( Tanggal 20 April - 10 Desember )
23 419 - 567
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. April II - Desember I
( Tanggal 20 April - 10 Desember )
23 254 - 344
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 173 - 235
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. Mei I - November III
( Tanggal 1 Mei - 30 November )
20 444 - 600
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 601 - 813
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. Mei I - November I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 224 - 302
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. Mei II - November II
( Tanggal 11 Mei - 20 November )
18 230 - 312
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. April III - Desember I
( Tanggal 21 April - 10 Desember )
22 526 - 712
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Mei II - November I
( Tanggal 20 Mei - 10 November )
17 281 - 381
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 374 - 506
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. Mei II - Oktober III
( Tanggal 11 Mei - 31 Oktober )
16 127 - 171
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. Mei I - November I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 116 - 156
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. Juni I - November I
( Tanggal 1 Juni - 10 November )
15 38 - 52
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. Juli II - September III
( Tanggal 11 Juli - 30 September )
7 22 - 30
314 Bagian barat Lumajang. Juni I - Oktober I
( Tanggal 1 Juni - 10 Oktober )
12 54 - 74
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Mei I - November I
( Tanggal 1 Mei - 10 November )
18 186 - 252
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 803 - 1087
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. April II - Desember II
( Tanggal 11 April - 20 Desember )
24 627 - 849
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. April I - Desember II
( Tanggal 1 April - 20 Desember )
25 646 - 874
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. Mei II - Oktober III
( Tanggal 11 Mei - 31 Oktober )
16 506 - 684
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Mei I - Oktober III
( Tanggal 1 Mei - 31 Oktober )
17 264 - 358
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 354 - 478
322 Bagian tenggara Jember. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 364 - 492
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. April III - Oktober III
( Tanggal 21 April - 31 Oktober )
18 269 - 365
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 221 - 299
325 Bagian selatan Bondowoso. April III - November I
( Tanggal 21 April - 10 November )
19 234 - 316
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 261 - 353
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. April II - Desember I
( Tanggal 20 April - 10 Desember )
23 348 - 470
328 Bagian utara Situbondo. Maret II - Desember II
( Tanggal 11 Maret - 20 Desember )
27 677 - 917
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 254 - 344
330 Bagian timur Situbondo. April II - Desember II
( Tanggal 11 April - 20 Desember )
24 352 - 476
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. Mei I - Desember I
( Tanggal 1 Mei - 10 Desember )
21 464 - 628
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. Juli III - November I
( Tanggal 21 Juli - 10 November )
10 198 - 268
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. Mei II - November III
( Tanggal 11 Mei - 30 November )
19 469 - 635
334 Bagian timur Banyuwangi. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 593 - 803
335 Bagian barat Banyuwangi. Juni I - November I
( Tanggal 1 Juni - 10 November )
15 128 - 173
336 Bagian selatan Banyuwangi. April II - November II
( Tanggal 11 April - 20 November )
21 446 - 604
337 Bagian barat Bangkalan. Mei II - November III
( Tanggal 11 Mei - 30 November )
19 643 - 869
338 Bagian utara Bangkalan. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 592 - 800
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. April III - November II
( Tanggal 21 April - 20 November )
20 650 - 880
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. April II - Desember I
( Tanggal 20 April - 10 Desember )
23 860 - 1164
341 Bagian timur laut Sampang. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 182 - 246
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 239 - 323
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 393 - 531
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 222 - 300
345 Bagian tengah-utara Sumenep. April III - November III
( Tanggal 21 April - 30 November )
21 347 - 469
346 Bagian timur Sumenep. April II - Desember I
( Tanggal 20 April - 10 Desember )
23 587 - 794
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. Mei I - November III
( Tanggal 1 Mei - 30 November )
20 762 - 1030
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. Mei II - November I
( Tanggal 20 Mei - 10 November )
17 544 - 736
349 Kepulauan Bawean, Gresik. Mei II - November II
( Tanggal 11 Mei - 20 November )
18 510 - 690









NO
ZOM
Daerah/
Kabupaten
Awal
Musim
Kemarau
Perbandingan
Terhadap
Normal
(dasarian)
Sifat
Hujan
Musim
Kemarau
Curah
Hujan
Musim
Kemarau
(mm)
Puncak
Musim
Kemarau
Perbandingan
Puncak
terhadap
Normal
(bulan)
Panjang
Musim
(dasarian)
Perbandingan
Panjang
Musim
terhadap
Normal
(dasarian)
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 11 LEBIH PENDEK >=3
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
SAMA Atas Normal 301-400 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
279 Bagian selatan Trenggalek Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MAJU >=3 Normal 401-500 Juli MAJU 1 14 LEBIH PANJANG >=3
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 2 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 401-500 Agustus SAMA 21 LEBIH PANJANG 2
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
283 Bagian barat Ngawi. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 2 Normal 401-500 Agustus SAMA 19 LEBIH PANJANG 1
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 16 LEBIH PENDEK >=3
285 Bagian barat Tuban. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 2 Atas Normal 301-400 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
286 Bagian tengah Tuban. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 2 Normal 401-500 Agustus SAMA 22 SAMA
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Bawah Normal 101-200 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Bawah Normal 101-200 Juli MAJU 1 16 LEBIH PENDEK >=3
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 201-300 Juli MAJU 1 15 LEBIH PENDEK >=3
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. Mei III
( Tanggal 1 - 31 Mei )
MUNDUR >=3 Atas Normal 201-300 Juli MAJU 1 13 LEBIH PENDEK >=3
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 1 Normal 201-300 September MUNDUR 1 14 LEBIH PENDEK >=3
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. Juni I
( Tanggal 1 - 10 Juni )
MUNDUR 2 Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 12 LEBIH PENDEK >=3
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Atas Normal 301-400 September MUNDUR 1 16 LEBIH PENDEK >=3
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. April II
( Tanggal 11 - 20 April )
MAJU 1 Atas Normal 301-400 September MUNDUR 1 17 LEBIH PENDEK 2
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Atas Normal 301-400 September MUNDUR 1 16 LEBIH PENDEK >=3
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. Juni I
( Tanggal 1 - 10 Juni )
MUNDUR >=3 Atas Normal 101-200 September MUNDUR 1 12 LEBIH PENDEK >=3
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 301-400 Agustus MAJU 1 20 SAMA
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 201-300 Agustus SAMA 19 LEBIH PENDEK 1
299 Bagian tenggara Lamongan. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Normal 301-400 Juli MAJU 1 20 SAMA
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR >=3 Normal 201-300 Agustus MAJU 1 18 LEBIH PENDEK >=3
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
MUNDUR 1 Normal 301-400 Agustus MAJU 1 21 LEBIH PENDEK 2
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Normal 301-400 Agustus SAMA 20 LEBIH PENDEK 1
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
MAJU 1 Normal 301-400 Agustus MAJU 1 21 LEBIH PANJANG 1
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 301-400 Agustus SAMA 21 SAMA
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
SAMA Normal 101-200 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
SAMA Normal 201-300 Agustus MAJU 1 14 LEBIH PENDEK >=3
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 301-400 Agustus SAMA 21 LEBIH PENDEK 1
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
SAMA Normal 301-400 September SAMA 17 SAMA
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 301-400 Agustus SAMA 19 SAMA
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
SAMA Normal 401-500 Agustus SAMA 18 LEBIH PANJANG 2
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
SAMA Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 19 LEBIH PANJANG 1
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MAJU 2 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 15 SAMA
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. Juni I
( Tanggal 1 - 10 Juni )
MAJU >=3 Normal 301-400 Agustus SAMA 9 LEBIH PANJANG 2
314 Bagian barat Lumajang. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MAJU 2 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 11 LEBIH PENDEK 1
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 18 SAMA
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 18 LEBIH PENDEK >=3
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. April II
( Tanggal 11 - 20 April )
SAMA Normal 301-400 Agustus SAMA 23 LEBIH PENDEK 1
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. April II
( Tanggal 11 - 20 April )
MUNDUR 1 Normal 301-400 Agustus MAJU 1 23 LEBIH PENDEK 2
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MAJU 1 Normal 201-300 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK 1
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Mei III
( Tanggal 1 - 31 Mei )
MUNDUR 2 Normal 201-300 Agustus SAMA 13 LEBIH PENDEK >=3
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 101-200 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
322 Bagian tenggara Jember. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 16 LEBIH PENDEK >=3
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 201-300 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 18 LEBIH PENDEK 1
325 Bagian selatan Bondowoso. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 19 SAMA
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 2 Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. April II
( Tanggal 11 - 20 April )
SAMA Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 23 SAMA
328 Bagian utara Situbondo. April I
( Tanggal 1 - 10 April )
MUNDUR 2 Atas Normal 301-400 Agustus SAMA 25 LEBIH PENDEK 2
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. April I
( Tanggal 1 - 10 April )
MAJU 2 Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 23 LEBIH PANJANG 2
330 Bagian timur Situbondo. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 Agustus MAJU 1 22 LEBIH PENDEK 2
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
SAMA Atas Normal 301-400 September SAMA 21 SAMA
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MAJU >=3 Bawah Normal 401-500 Juli MAJU >1 14 LEBIH PANJANG >=3
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
SAMA Normal 301-400 Juli MAJU >1 14 LEBIH PENDEK >=3
334 Bagian timur Banyuwangi. April I
( Tanggal 1 - 10 April )
MAJU 2 Normal 401-500 September SAMA 25 LEBIH PANJANG >=3
335 Bagian barat Banyuwangi. Mei III
( Tanggal 1 - 31 Mei )
MAJU 1 Normal 301-400 Agustus SAMA 13 LEBIH PENDEK 2
336 Bagian selatan Banyuwangi. April II
( Tanggal 11 - 20 April )
SAMA Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 17 LEBIH PENDEK >=3
337 Bagian barat Bangkalan. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
SAMA Normal 201-300 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
338 Bagian utara Bangkalan. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
SAMA Atas Normal 401-500 Agustus SAMA 23 LEBIH PANJANG 2
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 2 Normal 201-300 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. April III
( Tanggal 21 - 30 April )
MUNDUR 1 Normal 201-300 Agustus SAMA 16 LEBIH PENDEK >=3
341 Bagian timur laut Sampang. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 2 Normal 101-200 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Normal 101-200 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 2 Normal 101-200 Agustus SAMA 14 LEBIH PENDEK >=3
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 201-300 Agustus SAMA 15 LEBIH PENDEK >=3
345 Bagian tengah-utara Sumenep. Juni I
( Tanggal 1 - 10 Juni )
MUNDUR >=3 Atas Normal 101-200 September SAMA 12 LEBIH PENDEK >=3
346 Bagian timur Sumenep. Mei I
( Tanggal 1 - 10 Mei )
MUNDUR 2 Atas Normal 301-400 Agustus MAJU 1 21 LEBIH PENDEK 2
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. Mei II
( Tanggal 1 - 20 Mei )
MUNDUR 1 Atas Normal 401-500 September SAMA 18 LEBIH PENDEK 2
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. Juni II
( Tanggal 11 - 20 Juni )
MUNDUR >=3 Normal 201-300 September SAMA 11 LEBIH PENDEK >=3
349 Kepulauan Bawean, Gresik. Juni II
( Tanggal 11 - 20 Juni )
MUNDUR >=3 Atas Normal 201-300 Agustus MAJU 1 11 LEBIH PENDEK >=3