( Prediksi 6 Bulanan ) Puncak Musim Hujan Tahun 2025 / 2026 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi 6 Bulanan ) Puncak Musim Hujan Tahun 2025 / 2026 Zona Musim di Provinsi Jawa Timur

Prediksi “ Puncak “ Musim Hujan Tahun 2025 / 2026

- Oktober 2025 : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

- November 2025 : 4 ZOM ( 5,4 % dari 74 ZOM)

- Desember 2025 : 7 ZOM ( 9,5 % dari 74 ZOM )

- Januari 2026 : 40 ZOM ( 54,0 % dari 74 ZOM )

- Februari 2026 : 21 ZOM ( 28,4 % dari 74 ZOM )









NO
ZOM
Daerah/Kabupaten Normal
Periode
Musim
Hujan
Normal
Panjang Musim
( Dasarian )
Normal
Curah
Hujan
( milimeter mm )
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan. Oktober II - April II
( Tanggal 11 Oktober - 20 April )
19 1684 - 2278
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Oktober II - April III
( Tanggal 11 Oktober - 30 April )
20 1241 - 1679
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. November I - April III
( Tanggal 1 November - 30 April )
18 1103 - 1493
279 Bagian selatan Trenggalek September III - Juni II
( Tanggal 21 September - 20 Juni )
27 1536 - 2078
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1491 - 2017
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1250 - 1692
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. Oktober III - April III
( Tanggal 21 Oktober - 30 April )
19 1328 - 1796
283 Bagian barat Ngawi. Oktober III - April II
( Tanggal 21 Oktober - 20 April )
18 1162 - 1572
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 991 - 1341
285 Bagian barat Tuban. November II - April I
( Tanggal 11 November - 10 April )
15 907 - 1227
286 Bagian tengah Tuban. November III - April I
( Tanggal 21 November - 10 April )
14 1106 - 1496
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1276 - 1726
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1266 - 1712
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1619 - 2191
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1839 - 2489
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. November I - April III
( Tanggal 1 November - 30 April )
18 1312 - 1776
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. Oktober III - Mei I
( Tanggal 21 Oktober - 10 Mei )
20 1743 - 2359
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1449 - 1961
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1933 - 2615
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1584 - 2142
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. November I - April III
( Tanggal 1 November - 30 April )
18 1371 - 1855
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1282 - 1734
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1391 - 1881
299 Bagian tenggara Lamongan. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1441 - 1949
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. Desember I - April I
( Tanggal 1 Oktober - 10 April )
13 1176 - 1590
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. Desember I - April I
( Tanggal 1 Oktober - 10 April )
13 820 - 1110
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 859 - 1163
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. November III - April III
( Tanggal 21 November - 30 April )
16 1649 - 2231
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1488 - 2013
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. November I - April III
( Tanggal 1 November - 30 April )
18 1155 - 1563
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. November II - Mei I
( Tanggal 11 November - 10 Mei )
18 1174 - 1588
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Desember I - April II
( Tanggal 1 Desember - 20 April )
14 1444 - 1954
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. November I - Mei I
( Tanggal 1 November - 10 Mei )
19 1568 - 2122
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1446 - 1956
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. Oktober III - Mei I
( Tanggal 21 Oktober - 10 Mei )
20 1437 - 1944
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. November I - April III
( Tanggal 1 November - 30 April )
18 1184 - 1602
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. November I - Mei III
( Tanggal 1 November - 31 Mei )
21 930 - 1258
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. September III - Juli I
( Tanggal 21 September - 10 Juli )
29 1296 - 1754
314 Bagian barat Lumajang. Oktober I - Mei III
( Tanggal 1 Oktober - 31 Mei )
24 1041 - 1409
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. November I - April III
( Tanggal 1 November - 30 April )
18 1362 - 1842
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1369 - 1852
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Desember II - April I
( Tanggal 11 Desember - 10 April )
12 996 - 1348
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. Desember II - Maret III
( Tanggal 11 Desember - 31 Maret )
11 724 - 980
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. Oktober III - Mei I
( Tanggal 21 Oktober - 10 Mei )
20 1575 - 2131
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Oktober III - April III
( Tanggal 21 Oktober - 30 April )
19 1051 - 1423
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 1070 - 1448
322 Bagian tenggara Jember. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 989 - 1337
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. November II - April I
( Tanggal 11 November - 10 April )
18 1118 - 1512
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 906 - 1226
325 Bagian selatan Bondowoso. November I - April II
( Tanggal 1 November - 20 April )
17 965 - 1305
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 992 - 1342
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. Desember I - April I
( Tanggal 1 Oktober - 10 April )
13 791 - 1070
328 Bagian utara Situbondo. Desember II - Maret I
( Tanggal 11 Desember - 10 Maret )
9 644 - 872
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 901 - 1219
330 Bagian timur Situbondo. Desember II - April I
( Tanggal 11 Desember - 10 April )
12 642 - 868
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. Desember I - April III
( Tanggal 1 Desember - 30 April )
15 1008 - 1364
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. November I - Juli II
( Tanggal 1 November - 20 Juli )
26 1512 - 2046
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. November III - Mei I
( Tanggal 21 November - 10 Mei )
17 1495 - 2023
334 Bagian timur Banyuwangi. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1047 - 1417
335 Bagian barat Banyuwangi. November I - Mei III
( Tanggal 1 November - 31 Mei )
21 1011 - 1367
336 Bagian selatan Banyuwangi. November II - April I
( Tanggal 11 November - 10 April )
15 1208 - 1634
337 Bagian barat Bangkalan. November III - Mei I
( Tanggal 21 November - 10 Mei )
17 1349 - 1825
338 Bagian utara Bangkalan. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1500 - 2030
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. November II - April II
( Tanggal 11 November - 20 April )
16 1725 - 2333
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. Desember I - April I
( Tanggal 1 Oktober - 10 April )
13 1613 - 2183
341 Bagian timur laut Sampang. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 998 - 1350
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1213 - 1641
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1572 - 2126
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 1325 - 1793
345 Bagian tengah-utara Sumenep. November III - April II
( Tanggal 21 November - 20 April )
15 908 - 1228
346 Bagian timur Sumenep. Desember I - April I
( Tanggal 1 Oktober - 10 April )
13 1131 - 1531
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. November III - April III
( Tanggal 21 November - 30 April )
16 1607 - 2174
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. November I - Mei I
( Tanggal 1 November - 10 Mei )
19 1635 - 2211
349 Kepulauan Bawean, Gresik. November II - Mei I
( Tanggal 11 November - 10 Mei )
18 1365 - 1847









NO
ZOM
Daerah/
Kabupaten
Awal
Musim
Hujan
Perbandingan
Terhadap
Normal
(dasarian)
Sifat
Hujan
Musim
Hujan
Curah
Hujan
Musim
Hujan
(mm)
Puncak
Musim
Hujan
Perbandingan
Puncak
terhadap
Normal
(bulan)
Panjang
Musim
(dasarian)
Perbandingan
Panjang
Musim
terhadap
Normal
(dasarian)
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
276 Bagian barat Pacitan Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 1 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG 1
277 Bagian utara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 1 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 20 SAMA
278 Bagian tenggara Pacitan, sebagian Ponorogo, dan sebagian Trenggalek. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Normal 2001 - 2500 November 2025 MAJU >1 20 LEBIH PANJANG 2
279 Bagian selatan Trenggalek Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MUNDUR 1 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 20 LEBIH PENDEK >=3
280 Sebagian Trenggalek dan bagian barat Tulungagung. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Atas Normal 1501 - 2000 Januari 2026 SAMA 20 LEBIH PANJANG >=3
281 Sebagian besar Ponorogo, bagian barat daya Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Magetan. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 1 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 SAMA 18 LEBIH PANJANG 1
282 Sebagian besar Magetan, sebagian Kabupaten/Kota Madiun, dan bagian selatan Ngawi. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 2 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG 1
283 Bagian barat Ngawi Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 2 Atas Normal > 2500 Februari 2026 SAMA 21 LEBIH PANJANG >=3
284 Bagian barat Bojonegoro dan selatan Tuban. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 1 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 18 LEBIH PANJANG 1
285 Bagian barat Tuban Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 2 Normal 1001 - 1500 November 2025 MAJU 1 17 LEBIH PANJANG 2
286 Bagian tengah Tuban Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Januari 2026 MAJU 1 17 LEBIH PANJANG >=3
287 Bagian barat Lamongan dan bagian timur Tuban-Bojonegoro Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
288 Bagian tenggara Bojonegoro dan sebagian Jombang-Lamongan-Nganjuk. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 20 LEBIH PANJANG >=3
289 Bagian utara Kabupaten Madiun dan sebagian Bojonegoro-Ngawi. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 20 LEBIH PANJANG >=3
290 Sebagian besar Nganjuk dan sebagian Kabupaten Madiun. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
291 Seluruh Kota Kediri, bagian barat Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Nganjuk-Madiun-Ponorogo. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 2 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 MAJU 1 21 LEBIH PANJANG >=3
292 Bagian utara Trenggalek-Tulungagung, bagian timur Ponorogo, dan bagian barat Kabupaten Kediri. September III
( Tanggal
21 - 30 Oktober )
MAJU 3 Normal 2001 - 2500 Februari 2026 SAMA 23 LEBIH PANJANG >=3
293 Sebagian Kabupaten Blitar-Kediri-Tulungagung. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU >3 Normal 1501 - 2000 Desember 2025 MAJU >1 21 LEBIH PANJANG >=3
294 Bagian selatan Tulungagung dan bagian barat daya Kabupaten Blitar. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 2 Atas Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG 2
295 Bagian barat daya Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. September III
( Tanggal
21 - 30 Oktober )
MAJU >3 Atas Normal 2001 - 2500 Januari 2026 SAMA 21 LEBIH PANJANG >=3
296 Seluruh Kota Blitar, bagian utara Kabupaten Blitar, bagian timur Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten Malang. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Atas Normal 2001 - 2500 Desember 2025 MAJU >1 22 LEBIH PANJANG >=3
297 Bagian utara Kabupaten Kediri dan sebagian Nganjuk. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG 2
298 Sebagian besar Jombang, sebagian Kabupaten Kediri, dan sebagian Kabupaten/Kota Mojokerto. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG 2
299 Bagian tenggara Lamongan. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 2 Normal 1001 - 1500 Januari 2026 MAJU 1 18 LEBIH PANJANG 2
300 Bagian utara Lamongan dan sebagian Gresik. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU >3 Normal 501 - 1000 Januari 2026 SAMA 14 LEBIH PANJANG 1
301 Bagian utara Gresik dan sebagian Lamongan. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU >3 Normal 501 - 1000 Januari 2026 SAMA 14 LEBIH PANJANG 1
302 Bagian selatan Gresik, bagian barat Kota Surabaya, dan sebagian Kabupaten Mojokerto. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 1 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 MUNDUR 1 16 LEBIH PANJANG 1
303 Sebagian besar Kota Surabaya dan bagian utara Sidoarjo. November III
( Tanggal
21 - 30 November )
SAMA Normal 1001 - 1500 Januari 2026 MAJU 1 15 LEBIH PENDEK 1
304 Sebagian Kota/Kabupaten Mojokerto dan sebagian Sidoarjo. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 1 Normal 1001 - 1500 Januari 2026 MAJU 1 17 LEBIH PANJANG 2
305 Bagian selatan Jombang dan Kabupaten Mojokerto. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 1 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG 1
306 Bagian selatan Kabupaten Mojokerto dan bagian barat Kabupaten Pasuruan. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 3 Normal > 2500 Januari 2026 MAJU 1 21 LEBIH PANJANG >=3
307 Bagian selatan Sidoarjo dan sebagian Kabupaten Pasuruan. November I
( Tanggal
1 - 10 November )
MAJU 3 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 17 LEBIH PANJANG >=3
308 Sebagian Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 MAJU 1 22 LEBIH PANJANG >=3
309 Seluruh Kota Batu dan sebagian Kabupaten Malang. September III
( Tanggal
21 - 30 Oktober )
MAJU >3 Atas Normal > 2500 Januari 2026 MAJU 1 23 LEBIH PANJANG >=3
310 Bagian barat Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Blitar. September III
( Tanggal
21 - 30 Oktober )
MAJU 3 Normal > 2500 Januari 2026 MAJU 1 23 LEBIH PANJANG >=3
311 Seluruh Kota Malang, bagian tengah Kabupaten Malang, dan bagian timur laut Kabupaten Blitar. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 MAJU 1 21 LEBIH PANJANG >=3
312 Bagian selatan Kabupaten Malang. September I
( Tanggal
1 - 10 September )
MAJU >3 Atas Normal > 2500 November 2025 MAJU 1 23 LEBIH PANJANG 2
313 Bagian tenggara Kabupaten Malang dan bagian barat daya Lumajang. MUSIM HUJAN SEPANJANG 2025 MUSIM HUJAN SEPANJANG 2025 Atas Normal > 2500 Oktober 2025 MAJU 1 MUSIM HUJAN SEPANJANG 2025 MASIH MUSIM HUJAN
314 Bagian barat Lumajang. September I
( Tanggal
1 - 10 September )
MAJU 3 Atas Normal > 2500 Oktober 2025 MAJU >1 25 LEBIH PANJANG 1
315 Bagian timur Kabupaten Malang dan sebagian Kabupaten Pasuruan. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 SAMA 20 LEBIH PANJANG 2
316 Bagian tenggara Kabupaten Pasuruan dan bagian barat daya Kabupaten Probolinggo. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU >3 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG >=3
317 Seluruh Kota Pasuruan, sebagian Kabupaten Pasuruan, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU >3 Normal 1001 - 1500 Januari 2026 MAJU 1 17 LEBIH PANJANG >=3
318 Seluruh Kota Probolinggo dan bagian utara Kabupaten Probolinggo. November I
( Tanggal
1 - 10 November )
MAJU >3 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 MUNDUR 1 16 LEBIH PANJANG >=3
319 Bagian tenggara Kabupaten Probolinggo dan sebagian Lumajang. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 2 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 MAJU 1 21 LEBIH PANJANG 1
320 Bagian barat laut Jember, bagian timur laut Lumajang, dan sebagian Kabupaten Probolinggo. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 1 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 19 SAMA
321 Bagian barat daya Jember dan bagian tenggara Lumajang. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG 2
322 Bagian tenggara Jember. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Januari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
323 Bagian utara Jember dan sebagian Bondowoso. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 2 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 MAJU 1 20 LEBIH PANJANG 2
324 Bagian timur laut Jember dan sebagian Bondowoso. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU 3 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 SAMA 20 LEBIH PANJANG >=3
325 Bagian selatan Bondowoso. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 2 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 MAJU 1 19 LEBIH PANJANG 2
326 Bagian barat Bondowoso dan sebagian Situbondo. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU 3 Normal 1501 - 2000 Februari 2026 SAMA 18 LEBIH PANJANG 2
327 Bagian timur Kabupaten Probolinggo dan bagian barat Situbondo. November I
( Tanggal
1 - 10 November )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 SAMA 16 LEBIH PANJANG >=3
328 Bagian utara Situbondo. Desember I
( Tanggal
1 - 10 Desember )
MAJU 1 Normal 501 - 1000 Februari 2026 MUNDUR 1 10 LEBIH PANJANG 1
329 Bagian utara Bondowoso dan sebagian Situbondo. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 SAMA 17 LEBIH PANJANG 2
330 Bagian timur Situbondo. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 3 Atas Normal 501 - 1000 Februari 2026 SAMA 10 LEBIH PENDEK 2
331 Wilayah Wongsorejo, Banyuwangi. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 2 Atas Normal 2001 - 2500 Februari 2026 MUNDUR 1 17 LEBIH PANJANG 2
332 Bagian timur Bondowoso dan sebagian Banyuwangi. MUSIM HUJAN SEPANJANG 2025 MUSIM HUJAN SEPANJANG 2025 Normal 2001 - 2500 Januari 2026 SAMA MUSIM HUJAN SEPANJANG 2025 MASIH MUSIM HUJAN
333 Wilayah Kalipuro, Banyuwangi. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 1 Normal 1501 - 2000 Januari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG 2
334 Bagian timur Banyuwangi. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Atas Normal 1501 - 2000 Februari 2026 MUNDUR 1 17 LEBIH PANJANG 2
335 Bagian barat Banyuwangi. September I
( Tanggal
1 - 10 September )
MAJU >3 Atas Normal > 2500 November 2025 MAJU >1 25 LEBIH PANJANG >=3
336 Bagian selatan Banyuwangi. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU >3 Atas Normal 1501 - 2000 Januari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
337 Bagian barat Bangkalan. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 SAMA 18 LEBIH PANJANG 1
338 Bagian utara Bangkalan. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 1 Normal 1001 - 1500 Januari 2026 SAMA 16 LEBIH PANJANG 1
339 Bagian tenggara Bangkalan dan bagian barat daya Sampang. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 2 Normal 1001 - 1500 Desember 2025 SAMA 18 LEBIH PANJANG 2
340 Bagian utara Sampang dan sebagian Bangkalan. November II
( Tanggal
11 - 20 November )
MAJU 2 Normal 501 - 1000 Januari 2026 SAMA 13 SAMA
341 Bagian timur laut Sampang. Oktober II
( Tanggal
11 - 20 Oktober )
MAJU >3 Atas Normal 1001 - 1500 Januari 2026 SAMA 18 LEBIH PANJANG >=3
342 Bagian selatan Sampang dan bagian barat Pamekasan. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Desember 2025 MAJU >1 17 LEBIH PANJANG 2
343 Bagian selatan Pamekasan dan Sumenep. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Normal 1001 - 1500 Februari 2026 SAMA 17 LEBIH PANJANG 2
344 Bagian utara Pamekasan dan sebagian Sumenep. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Atas Normal 1001 - 1500 Desember 2025 MAJU 1 17 LEBIH PANJANG 2
345 Bagian tengah-utara Sumenep. Oktober III
( Tanggal
21 - 31 Oktober )
MAJU 3 Atas Normal 1001 - 1500 Januari 2026 SAMA 17 LEBIH PANJANG 2
346 Bagian timur Sumenep. November I
( Tanggal
1 - 10 November )
MAJU 3 Atas Normal 1501 - 2000 Januari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
347 Kepulauan Kangean, Sumenep. November I
( Tanggal
1 - 10 November )
MAJU 2 Atas Normal 1501 - 2000 Januari 2026 SAMA 19 LEBIH PANJANG >=3
348 Kepulauan Masalembu, Sumenep. September III
( Tanggal
21 - 30 Oktober )
MAJU >3 Atas Normal 1501 - 2000 Desember 2025 SAMA 23 LEBIH PANJANG >=3
349 Kepulauan Bawean, Gresik. Oktober I
( Tanggal
1 - 10 Oktober )
MAJU >3 Normal 2001 - 2500 Desember 2025 SAMA 22 LEBIH PANJANG >=3



Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Zona Musim ( ZOM ) Jawa Timur


Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Zona Musim ( ZOM ) Jawa Timur Tabel Prediksi Curah Hujan Dasarian Musim Hujan Zona Musim ( ZOM ) Jawa Timur

Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 ( Milimeter ) Zona Musim ZOM Jawa Timur


Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 ( Milimeter ) Zona Musim ZOM Jawa Timur Tabel Normal Curah Hujan Periode 1991 - 2020 ( Milimeter ) Zona Musim ZOM Jawa Timur

Ringkasan


  1. Kondisi Dinamika Atmosfer dan Laut

    Dinamika atmosfer dan laut dimonitor dan diprediksi berdasarkan aktivitas fenomena iklim, meliputi: El Niño Southern Oscillation (ENSO), Indian Ocean Dipole (IOD), sirkulasi Monsun Asia – Australia, Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan suhu permukaan laut Indonesia. Monitoring dan prediksi kondisi dinamika atmosfer dan laut dimaksud yang akan terjadi pada Musim Hujan Tahun 2025/2026 adalah sebagai berikut:

    1. Monitoring dan Prediksi Fenomena ENSO dan IOD

      1. El Niño Southern Oscillation (ENSO)

        Berdasarkan hasil monitoring dinamika atmosfer dan laut, pada bulan Agustus 2025, indeks ENSO (El Niño Southern Oscillation) menunjukan nilai -0,34, yang berarti kondisi suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator (Nino 3.4 region) berada pada status Netral. Prediksi Indeks ENSO menunjukkan bahwa fase Netral akan terus bertahan pada semester dua tahun 2025.

      2. Indian Ocean Dipole (IOD)

        Pemantauan suhu permukaan laut di Samudera Hindia pada bulan Agustus 2025, menunjukkan bahwa IOD (Indian Ocean Dipole) berada pada fase Negatif dengan nilai Indeks Dipole Mode (DMI) sebesar -1,2. Kondisi IOD Negatif diprediksi akan terus bertahan hingga November 2025 kemudian beralih kembali ke fase Netral.

    2. Monitoring dan Prediksi Sirkulasi Monsun Asia-Australia dan ITCZ

      1. Sirkulasi Monsun Asia – Australia

        Sirkulasi angin pada lapisan 850 mb selama bulan September 2025 menunjukkan wilayah Indonesia masih didominasi oleh aliran Angin Timuran (Monsun Australia). Angin lapisan 850 mb pada September- Oktober 2025 diprediksi masih didominasi oleh angin timuran (Monsun Australia), namun pada November 2025 angin baratan (Monsun Asia) diprediksi akan mulai memasuki wilayah Indonesia bagian utara.

      2. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone / ITCZ)

        Posisi Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ) pada September 2025 masih berada di utara ekuator dan diprediksi secara gradual akan bergerak ke arah selatan menuju garis ekuator mengikuti pergerakan tahunannya. Sepanjang September hingga November 2025, ITCZ diprediksi tetap berada di utara Equator.

    3. Monitoring dan Prediksi Suhu Permukaan Laut Indonesia

      Kondisi rata-rata anomali suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia pada Agustus 2025 umumnya relatif lebih hangat dengan anomali suhu permukaan laut antara +0,25°C hingga +2,0°C. Suhu muka laut di Perairan Indonesia secara umum diprediksi menunjukkan kondisi normal hingga lebih hangat dengan kisaran nilai +0,5°C hingga +2,0°C

  2. Prediksi Musim Hujan Tahun 2025 / 2026 pada 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur

    1. Prediksi ” Awal ” Musim Hujan Tahun 2025 / 2026

      - September 2025 : 8 ZOM ( 10,9 % dari 74 ZOM )

      - Oktober 2025 : 49 ZOM ( 66,2 % dari 74 ZOM )

      - November 2025 : 14 ZOM ( 18,8 % dari 74 ZOM )

      - Desember 2025 : 1 ZOM ( 1,4 % dari 74 ZOM )

      - Musim Hujan ( MH ) Sepanjang 2025 : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

    2. Perbandingan Prediksi Awal Musim Hujan Tahun 2025 / 2026 terhadap Normalnya ( Periode 1991 – 2020 )

      - Maju dari normalnya : 70 ZOM ( 94,5 % dari 74 ZOM )

      - Sama dengan normalnya : 1 ZOM ( 1,4 % dari 74 ZOM )

      - Mundur dari normalnya : 1 ZOM ( 1,4 % dari 74 ZOM )

      - Musim Hujan ( MH ) Sepanjang 2025 : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM)

    3. Prediksi ” Sifat Hujan “ Musim Hujan Tahun 2025 / 2026

      - Atas Normal ( AN ) : 20 ZOM ( 27,0 % dari 74 ZOM )

      - Normal ( N ) : 54 ZOM ( 73,0 % dari 74 ZOM )

    4. Prediksi “ Curah Hujan “ Musim Hujan Tahun 2025 / 2026

      - 501 - 1000 mm : 5 ZOM ( 6,8 % dari 74 ZOM )

      - 1001 - 1500 mm : 21 ZOM ( 28,4 % dari 74 ZOM )

      - 1501 - 2000 mm : 25 ZOM ( 33,7 % dari 74 ZOM )

      - 2001 - 2500 mm : 15 ZOM ( 20,3 % dari 74 ZOM )

      - > 2500 mm : 8 ZOM ( 10,8 % dari 74 ZOM )

    5. Prediksi “ Puncak “ Musim Hujan Tahun 2025 / 2026

      - Oktober 2025 : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

      - November 2025 : 4 ZOM ( 5,4 % dari 74 ZOM)

      - Desember 2025 : 7 ZOM ( 9,5 % dari 74 ZOM )

      - Januari 2026 : 40 ZOM ( 54,0 % dari 74 ZOM )

      - Februari 2026 : 21 ZOM ( 28,4 % dari 74 ZOM )

    6. Prediksi “ Durasi “ Musim Hujan Tahun 2025 / 2026

      - 10 - 12 dasarian : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

      - 13 - 15 dasarian : 4 ZOM ( 5,4 % dari 74 ZOM )

      - 16 - 18 dasarian : 25 ZOM ( 33,8 % dari 74 ZOM )

      - 19 - 21 dasarian : 31 ZOM ( 41,9 % dari 74 ZOM )

      - 22 - 24 dasarian : 8 ZOM ( 10,8 % dari 74 ZOM )

      - 25 - 27 dasarian : 2 ZOM ( 2,7% dari 74 ZOM )

      - Musim Hujan ( MH ) Sepanjang 2025 : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )

    7. Perbandingan Durasi Musim Hujan Tahun 2025 / 2026 Terhadap Normal

      - Lebih pendek ≥ 3 dasarian : 1 ZOM ( 1, 4 % dari 74 ZOM )

      - Lebih pendek 2 dasarian : 1 ZOM ( 1,4 % dari 74 ZOM )

      - Lebih pendek 1 dasarian : 1 ZOM ( 1,4 % dari 74 ZOM )

      - Sama : 3 ZOM ( 4,1 % dari 74 ZOM )

      - Lebih Panjang 1 dasarian : 13 ZOM ( 17,6 % dari 74 ZOM )

      - Lebih Panjang 2 dasarian : 22 ZOM ( 29,7 % dari 74 ZOM )

      - Lebih Panjang ≥ 3 dasarian : 31 ZOM (4 1,7 % dari 74 ZOM )

      - Masih Musim Hujan ( MH ) : 2 ZOM ( 2,7 % dari 74 ZOM )




Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia Sirkulasi Monsun Asia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  4. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  5. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  6. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan Juli ).

  7. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  8. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  9. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991 - 2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  10. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III Juni dan berakhir pada Dasarian I Oktober.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  11. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.