( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan APRIL Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Januari Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan APRIL Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Januari Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 75 – 357 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan APRIL Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Januari Tahun 2026 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Februari Tahun 2026 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan APRIL Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Januari Tahun 2026 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kokop.
BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Tanjungbumi.
BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian: Geger, Klampis, dan Tanjungbumi.
BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Arosbaya, Blega, Burneh, Galis, Kokop, Konang, Sepulu, dan Tanah Merah.
BANGKALAN 101 - 150 mm Seluruh: Bangkalan, Kamal, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, dan Tragah.
BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Burneh dan Galis.
BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian: Arosbaya, Blega, Konang, Sepulu, dan Tanah Merah.
BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Geger dan Klampis.
BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Geger.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Glagah.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Giri.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Banyuwangi.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Glenmore, Kalipuro, Licin, Sempu, dan Songgon.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Banyuwangi, Gambiran, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Cluring, Giri, Glagah, Pesanggaran, Siliragung, Singojuruh, Srono, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Seluruh: Bangorejo, Kabat, Muncar, Purwoharjo, Rogojampi, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Giri, Pesanggaran, dan Siliragung.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Cluring, Gambiran, Glagah, Singojuruh, Srono, Tegalsari, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Genteng, Glenmore, Kalipuro, Licin, Sempu, dan Songgon.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Seluruh: Kalibaru.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Cluring, Kalipuro, Sempu, dan Srono.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian: Gambiran, Genteng, dan Wongsorejo.
BLITAR 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sanankulon dan Selopuro.
BLITAR 101 - 150 mm Sebagian: Kanigoro, Ponggok, dan Talun.
BLITAR 101 - 150 mm Sebagian Besar: Binangun, Kademangan, Udanawu, dan Wonodadi.
BLITAR 101 - 150 mm Seluruh: Bakung, Panggungrejo, Srengat, Sutojayan, Wates, dan Wonotirto.
BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Binangun, Kademangan, Udanawu, dan Wonodadi.
BLITAR 151 - 200 mm Sebagian: Gandusari.
BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Besar: Doko, Garum, Kanigoro, Nglegok, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Talun, dan Wlingi.
BLITAR 151 - 200 mm Seluruh: Kesamben dan Selorejo.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Doko, Garum, dan Nglegok.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian: Wlingi.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gandusari.
BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bubulan, Ngambon, Ngraho, Sugihwaras, dan Tambakrejo.
BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian: Gondang, Kedungadem, dan Sukosewu.
BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Balen, Dander, Kapas, Ngasem, Padangan, dan Purwosari.
BOJONEGORO 101 - 150 mm Seluruh: Baureno, Bojonegoro, Gayam, Kalitidu, Kanor, Kasiman, Kedewan, Kepoh Baru, Malo, Sumberejo, dan Trucuk.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Balen, Kapas, Padangan, dan Purwosari.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian: Dander dan Ngasem.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bubulan, Gondang, Kedungadem, Ngambon, Ngraho, Sugihwaras, Sukosewu, dan Tambakrejo.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Seluruh: Margomulyo, Sekar, dan Temayang.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Curah Dami, Tamanan, dan Wringin.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Botolinggo dan Klabang.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Cermee, Grujugan, Maesan, dan Prajekan.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Maesan dan Prajekan.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian: Cermee dan Grujugan.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Botolinggo, Curah Dami, Klabang, Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tlogosari, Wonosari, dan Wringin.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Seluruh: Binakal, Bondowoso, Jambesari Darus Sholah, Pakem, Pujer, Tegalampel, dan Tenggarang.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sempol, Sukosari, Taman Krocok, Tapen, Tlogosari, dan Wonosari.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian: Sumber Wringin.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Driyorejo.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian: Kedamean.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Balongpanggang, Benjeng, dan Menganti.
GRESIK 101 - 150 mm Seluruh: Bungah, Cerme, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Manyar, Panceng, Sangkapura, Sidayu, Tambak, dan Ujungpangkah.
GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Benjeng dan Menganti.
GRESIK 151 - 200 mm Sebagian: Balongpanggang.
GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Driyorejo, Kedamean, dan Wringinanom.
GRESIK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Driyorejo dan Wringinanom.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Puger dan Wuluhan.
JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ledokombo, Panti, Sukowono, Sumber Baru, dan Tanggul.
JEMBER 101 - 150 mm Sebagian: Semboro dan Sukorambi.
JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bangsalsari, Jelbuk, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Patrang, Puger, Rambipuji, Silo, Tempurejo, dan Wuluhan.
JEMBER 101 - 150 mm Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Gumuk Mas, Jenggawah, Kencong, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Sumbersari, dan Umbulsari.
JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jelbuk, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Patrang, Rambipuji, dan Tempurejo.
JEMBER 151 - 200 mm Sebagian: Bangsalsari dan Silo.
JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ledokombo, Panti, Semboro, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, dan Tanggul.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bangsalsari, Sumberjambe, dan Tanggul.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian: Sumber Baru.
JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bareng, Diwek, Megaluh, dan Tembelang.
JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian: Gudo, Jogo Roto, dan Ngusikan.
JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kabuh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Plandaan, Ploso, dan Sumobito.
JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kabuh dan Ngoro.
JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian: Mojoagung, Mojowarno, Plandaan, Ploso, dan Sumobito.
JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Megaluh, Ngusikan, dan Tembelang.
JOMBANG 151 - 200 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Jombang, Kesamben, Kudu, Perak, Peterongan, dan Wonosalam.
KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gurah, Kras, Plosoklaten, dan Purwoasri.
KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian: Kandangan, Kayen Kidul, Kepung, dan Puncu.
KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kunjang, Papar, Pare, dan Plemahan.
KEDIRI 101 - 150 mm Seluruh: Badas.
KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kunjang, Pare, dan Plemahan.
KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian: Papar dan Semen.
KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Banyakan, Grogol, Gurah, Kandangan, Kayen Kidul, Kepung, Kras, Mojo, Plosoklaten, Puncu, dan Purwoasri.
KEDIRI 151 - 200 mm Seluruh: Gampengrejo, Kandat, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Ringinrejo, Tarokan, dan Wates.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian: Banyakan, Grogol, dan Mojo.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Semen.
KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian: Bumiaji.
KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian Besar: Batu.
KOTA BATU 101 - 150 mm Seluruh: Junrejo.
KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Batu.
KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bumiaji.
KOTA BATU 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bumiaji.
KOTA BLITAR 151 - 200 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 151 - 200 mm Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
KOTA MADIUN 151 - 200 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Blimbing dan Sukun.
KOTA MALANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Lowokwaru.
KOTA MALANG 151 - 200 mm Sebagian: Lowokwaru.
KOTA MALANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Blimbing dan Sukun.
KOTA MALANG 151 - 200 mm Seluruh: Kedungkandang dan Klojen.
KOTA MOJOKERTO 151 - 200 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Gadingrejo.
KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Bugulkidul dan Purworejo.
KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Panggungrejo.
KOTA PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian: Panggungrejo.
KOTA PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bugulkidul, Gadingrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kanigaran dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kademangan.
KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Kademangan.
KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kanigaran dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Seluruh: Mayangan dan Wonoasih.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gunung Anyar.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian: Rungkut.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Besar: Gayungan, Karang Pilang, Lakarsantri, Sukolilo, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Genteng, Gubeng, Jambangan, Kenjeran, Krembangan, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Wiyung, dan Wonokromo.
KOTA SURABAYA 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gayungan, Lakarsantri, Sukolilo, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 151 - 200 mm Sebagian: Karang Pilang.
KOTA SURABAYA 151 - 200 mm Sebagian Besar: Gunung Anyar dan Rungkut.
LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Deket, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian: Lamongan.
LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bluluk, Deket, Lamongan, Mantup, Sukorame, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 101 - 150 mm Seluruh: Babat, Brondong, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Laren, Maduran, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, dan Sukodadi.
LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bluluk dan Mantup.
LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian: Sukorame.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kedungjajang, Pasrujambe, Randuagung, dan Senduro.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian: Candipuro, Jatiroto, dan Padang.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pasirian, Rowokangkung, Sumbersuko, dan Tempeh.
LUMAJANG 101 - 150 mm Seluruh: Kunir, Lumajang, Sukodono, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Rowokangkung, Sumbersuko, dan Tempeh.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian: Pasirian.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Candipuro, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Padang, Pasrujambe, Randuagung, Ranuyoso, dan Senduro.
LUMAJANG 151 - 200 mm Seluruh: Gucialit, Pronojiwo, dan Tempursari.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Klakah, Randuagung, dan Ranuyoso.
MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gemarang.
MADIUN 101 - 150 mm Sebagian: Dolopo.
MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kebonsari.
MADIUN 151 - 200 mm Sebagian: Kebonsari.
MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Dolopo dan Gemarang.
MADIUN 151 - 200 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Geger, Jiwan, Kare, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gemarang.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian: Kawedanan.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Nguntoronadi dan Parang.
MAGETAN 101 - 150 mm Seluruh: Lembeyan.
MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian: Nguntoronadi dan Parang.
MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kawedanan.
MAGETAN 151 - 200 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Dampit, Kasembon, Kromengan, Ngajum, Pakisaji, Pujon, Singosari, dan Sumber Pucung.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian: Wagir.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bululawang, Dau, Gedangan, Kalipare, Karangploso, Kepanjen, Pagak, Sumbermanjing, dan Turen.
MALANG 101 - 150 mm Seluruh: Bantur, Donomulyo, Gondanglegi, dan Pagelaran.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Dau, Gedangan, Kepanjen, dan Pagak.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian: Bululawang, Kalipare, Karangploso, Sumbermanjing, dan Turen.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Dampit, Kasembon, Kromengan, Ngajum, Ngantang, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, dan Wagir.
MALANG 151 - 200 mm Seluruh: Ampelgading, Jabung, Lawang, Pakis, Poncokusumo, Tajinan, Tirto Yudo, Tumpang, Wajak, dan Wonosari.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ngantang dan Singosari.
MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Dawar Blandong, Kemlagi, dan Ngoro.
MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian: Trowulan.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pacet dan Trawas.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian: Gondang.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Dawar Blandong, Dlanggu, Jatirejo, Kemlagi, Kutorejo, Ngoro, Pungging, dan Trowulan.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Seluruh: Bangsal, Gedek, Jetis, Mojoanyar, Mojosari, Puri, dan Sooko.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jatirejo, Ngoro, dan Pungging.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian: Dlanggu dan Kutorejo.
MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gondang, Pacet, dan Trawas.
MOJOKERTO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Trawas.
NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jatikalen, Ngronggot, dan Rejoso.
NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sawahan.
NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian: Ngetos.
NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Jatikalen, Loceret, Ngronggot, dan Rejoso.
NGANJUK 151 - 200 mm Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Kertosono, Lengkong, Nganjuk, Ngluyu, Pace, Patianrowo, Prambon, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Loceret.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ngetos dan Sawahan.
NGAWI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kendal.
NGAWI 151 - 200 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kendal.
PACITAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Nawangan dan Tulakan.
PACITAN 151 - 200 mm Sebagian: Ngadirojo.
PACITAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Arjosari, Bandar, Kebonagung, Sudimoro, dan Tegalombo.
PACITAN 151 - 200 mm Seluruh: Donorojo, Pacitan, Pringkuku, dan Punung.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kebonagung, Sudimoro, dan Tegalombo.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian: Arjosari dan Bandar.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Nawangan, Ngadirojo, dan Tulakan.
PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Batu Marmar.
PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Batu Marmar, Galis, dan Larangan.
PAMEKASAN 101 - 150 mm Seluruh: Kadur, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Galis dan Larangan.
PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Beji, Kejayan, Lekok, dan Winongan.
PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian: Gempol, Kraton, dan Nguling.
PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Gondang Wetan, Pohjentrek, dan Rejoso.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gondang Wetan, Pohjentrek, Purwosari, dan Rejoso.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian: Pandaan dan Sukorejo.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Beji, Gempol, Kejayan, Kraton, Lekok, Nguling, Purwodadi, Winongan, dan Wonorejo.
PASURUAN 151 - 200 mm Seluruh: Bangil, Grati, Lumbang, Pasrepan, Puspo, Rembang, Tosari, dan Tutur.
PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Purwodadi dan Wonorejo.
PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian: Gempol.
PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pandaan, Prigen, Purwosari, dan Sukorejo.
PASURUAN 301 - 400 mm Sebagian: Prigen.
PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ngrayun dan Pulung.
PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Sambit, Sawoo, dan Slahung.
PONOROGO 101 - 150 mm Seluruh: Babadan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ponorogo, Sampung, Siman, dan Sukorejo.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Balong, Bungkal, dan Sambit.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian: Badegan, Jambon, Jenangan, Sawoo, dan Slahung.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ngrayun, Pudak, dan Pulung.
PONOROGO 151 - 200 mm Seluruh: Ngebel dan Sooko.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pudak dan Pulung.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kraksaan, Krejengan, dan Pajarakan.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Sumberasih.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bantaran, Gading, Leces, Lumbang, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Besuk, Maron, dan Pakuniran.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Dringu, Gending, Kraksaan, Krejengan, Pajarakan, Sumberasih, Tongas, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Seluruh: Kotaanyar dan Paiton.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kraksaan, Krucil, Tiris, dan Tongas.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian: Dringu, Gending, Krejengan, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bantaran, Besuk, Gading, Leces, Lumbang, Maron, Pakuniran, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Seluruh: Banyuanyar, Kuripan, Sukapura, dan Sumber.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian: Gading.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Krucil dan Tiris.
SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Banyuates.
SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ketapang dan Sokobanah.
SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian: Ketapang dan Sokobanah.
SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Banyuates, Jrengik, dan Tambelangan.
SAMPANG 101 - 150 mm Seluruh: Camplong, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sreseh, dan Torjun.
SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jrengik dan Tambelangan.
SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jabon, Krembung, Taman, dan Waru.
SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian: Tanggulangin.
SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Porong.
SIDOARJO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Krian.
SIDOARJO 151 - 200 mm Sebagian: Porong.
SIDOARJO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Balong Bendo, Jabon, Krembung, Prambon, Taman, Tanggulangin, Tarik, Waru, dan Wonoayu.
SIDOARJO 151 - 200 mm Seluruh: Buduran, Candi, Gedangan, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, dan Tulangan.
SIDOARJO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Prambon dan Tarik.
SIDOARJO 201 - 300 mm Sebagian: Balong Bendo dan Wonoayu.
SIDOARJO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Krian.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Banyuglugur, Banyuputih, Jatibanteng, Mlandingan, dan Panji.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian: Kapongan.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Besuki, Mangaran, dan Suboh.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Besuki.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian: Mangaran, Suboh, dan Sumbermalang.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Banyuputih, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mlandingan, dan Panji.
SITUBONDO 101 - 150 mm Seluruh: Bungatan, Jangkar, Panarukan, dan Situbondo.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Banyuputih, Jatibanteng, Kendit, dan Mlandingan.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian: Arjasa dan Asembagus.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Sumbermalang.
SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Asembagus.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Dasuk.
SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Besar: Dasuk.
SUMENEP 101 - 150 mm Seluruh: Ambunten, Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kangayan, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Raas, Rubaru, Sapeken, Saronggi, dan Talango.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bendungan, Kampak, Suruh, dan Watulimo.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian: Tugu.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Durenan, Gandusari, Karangan, Pogalan, dan Trenggalek.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Durenan, Gandusari, Karangan, dan Pogalan.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian: Munjungan dan Trenggalek.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bendungan, Dongko, Kampak, Suruh, Tugu, dan Watulimo.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Seluruh: Panggul dan Pule.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Dongko, Kampak, dan Watulimo.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Munjungan.
TUBAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Jenu, Semanding, dan Soko.
TUBAN 51 - 100 mm Sebagian: Tuban.
TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Jenu, Semanding, Soko, dan Tuban.
TUBAN 101 - 150 mm Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Senori, Singgahan, Tambakboyo, dan Widang.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngunut, Pucang Laban, dan Rejotangan.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian: Kalidawir.
TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pager Wojo dan Sendang.
TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Besuki, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Ngantru, Ngunut, Pucang Laban, dan Rejotangan.
TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Seluruh: Bandung, Boyolangu, Campur Darat, Kedungwaru, Pakel, Sumbergempol, Tanggung Gunung, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Besuki dan Sendang.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian: Gondang, Karangrejo, Kauman, dan Ngantru.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Pager Wojo.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian: Pager Wojo.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Sendang.


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan

    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan

    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  4. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  5. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari FEBRUARI sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan DESEMBER ).

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III DESEMBER dan berakhir pada Dasarian I DESEMBER.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  12. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.