Berkisar antara 15 - 258 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan MEI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2026 di wilayah Provinsi Jawa Timur
Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan April Tahun 2026 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan MEI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2026 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Blega, Burneh, dan Tragah. BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian: Konang. BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangkalan dan Labang. BANGKALAN 21 - 50 mm Seluruh: Kamal dan Socah. BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Labang. BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian: Bangkalan. BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Blega, Burneh, Konang, dan Tragah. BANGKALAN 51 - 100 mm Seluruh: Arosbaya, Galis, Geger, Klampis, Kokop, Kwanyar, Modung, Sepulu, Tanah Merah, dan Tanjungbumi. BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pesanggaran, Siliragung, dan Wongsorejo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Licin, Sempu, Singojuruh, dan Songgon. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Glagah, Glenmore, Kabat, dan Rogojampi. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Genteng, Kalibaru, Pesanggaran, Siliragung, Srono, dan Wongsorejo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Seluruh: Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Gambiran, Giri, Kalipuro, Muncar, Purwoharjo, Tegaldlimo, dan Tegalsari. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kalibaru dan Srono. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Genteng. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Glagah, Glenmore, Kabat, Licin, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, dan Songgon. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Songgon. BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bakung, Kademangan, Kanigoro, Selorejo, Talun, dan Wates. BLITAR 21 - 50 mm Sebagian: Binangun dan Sutojayan. BLITAR 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Doko, Gandusari, dan Wlingi. BLITAR 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bakung, Binangun, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Selopuro, Selorejo, Sutojayan, Talun, dan Wates. BLITAR 51 - 100 mm Seluruh: Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Srengat, Udanawu, Wonodadi, dan Wonotirto. BLITAR 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kesamben dan Selorejo. BLITAR 101 - 150 mm Sebagian: Garum, Nglegok, Selopuro, dan Talun. BLITAR 101 - 150 mm Sebagian Besar: Doko, Gandusari, dan Wlingi. BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Wlingi. BLITAR 151 - 200 mm Sebagian: Gandusari. BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bubulan, Purwosari, dan Sumberejo. BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian: Balen dan Kasiman. BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dander, Gayam, Kanor, Kapas, Kepoh Baru, Malo, dan Ngasem. BOJONEGORO 21 - 50 mm Seluruh: Baureno, Bojonegoro, Kalitidu, Kedewan, dan Trucuk. BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dander, Gayam, Kanor, dan Malo. BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian: Kapas, Kepoh Baru, dan Ngasem. BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balen, Bubulan, Kasiman, Kedungadem, Margomulyo, Purwosari, dan Sumberejo. BOJONEGORO 51 - 100 mm Seluruh: Gondang, Ngambon, Ngraho, Padangan, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Tambakrejo, dan Temayang. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Margomulyo. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian: Kedungadem. BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Tamanan dan Tapen. BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Botolinggo dan Taman Krocok. BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Binakal, Cermee, Curah Dami, Grujugan, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, dan Tegalampel. BONDOWOSO 21 - 50 mm Seluruh: Wringin. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Binakal, Klabang, dan Prajekan. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Cermee, Curah Dami, Grujugan, Maesan, Pakem, dan Tegalampel. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Botolinggo, Sempol, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, dan Tlogosari. BONDOWOSO 51 - 100 mm Seluruh: Bondowoso, Jambesari Darus Sholah, Pujer, Sukosari, Sumber Wringin, Tenggarang, dan Wonosari. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Tlogosari. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Sempol. GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Panceng. GRESIK 21 - 50 mm Sebagian: Balongpanggang dan Dukun. GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Benjeng, Ujungpangkah, dan Wringinanom. GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, dan Sidayu. GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Benjeng, Ujungpangkah, dan Wringinanom. GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balongpanggang, Dukun, dan Panceng. GRESIK 101 - 150 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak. JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ajung, Jelbuk, Silo, Sukowono, dan Tanggul. JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Jombang, Mumbulsari, Semboro, dan Umbulsari. JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangsalsari, Gumuk Mas, Jenggawah, Puger, Rambipuji, dan Tempurejo. JEMBER 21 - 50 mm Seluruh: Ambulu, Balung, dan Wuluhan. JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Jenggawah. JEMBER 51 - 100 mm Sebagian: Bangsalsari, Gumuk Mas, Puger, Rambipuji, dan Tempurejo. JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ajung, Jelbuk, Jombang, Mumbulsari, Semboro, Silo, Sukowono, Tanggul, dan Umbulsari. JEMBER 51 - 100 mm Seluruh: Arjasa, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Ledokombo, Mayang, Pakusari, Panti, Patrang, Sukorambi, Sumber Baru, Sumberjambe, dan Sumbersari. JOMBANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kesamben. JOMBANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kesamben, Kudu, Ploso, dan Tembelang. JOMBANG 51 - 100 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Sumobito, dan Wonosalam. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kesamben, Kudu, Ploso, dan Tembelang. KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kandangan, Kepung, Pare, Puncu, Ringinrejo, dan Wates. KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian: Badas, Gurah, Kras, Mojo, Plemahan, dan Purwoasri. KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyakan, Grogol, Kandat, Kayen Kidul, Semen, dan Tarokan. KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Gampengrejo, Ngadiluwih, Ngasem, Pagu, dan Papar. KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kandat, Kayen Kidul, dan Semen. KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian: Banyakan, Grogol, dan Tarokan. KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Badas, Gurah, Kandangan, Kepung, Kras, Mojo, Ngancar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, dan Wates. KEDIRI 51 - 100 mm Seluruh: Kunjang. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kepung, Ngancar, Plosoklaten, dan Puncu. KOTA BATU 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bumiaji. KOTA BATU 51 - 100 mm Seluruh: Batu dan Junrejo. KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bumiaji. KOTA BLITAR 51 - 100 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pesantren. KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Kota Kediri dan Mojoroto. KOTA KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pesantren. KOTA MADIUN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Taman. KOTA MADIUN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Taman. KOTA MADIUN 51 - 100 mm Seluruh: Kartoharjo dan Mangu Harjo. KOTA MALANG 51 - 100 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun. KOTA MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian: Prajurit Kulon. KOTA MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Prajurit Kulon. KOTA MOJOKERTO 51 - 100 mm Seluruh: Magersari. KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo. KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Wonoasih. KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Mayangan. KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kanigaran dan Kedopok. KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Kademangan. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kedopok. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Kanigaran. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Mayangan dan Wonoasih. KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dukuh Pakis, Tegalsari, dan Wiyung. KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian: Sawahan. KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bulak, Genteng, Lakarsantri, Suko Manunggal, dan Tambaksari. KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, Pakal, Sambikerep, Semampir, Simokerto, dan Tandes. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian: Bulak, Genteng, Lakarsantri, Suko Manunggal, dan Tambaksari. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dukuh Pakis, Sawahan, Tegalsari, dan Wiyung. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Seluruh: Gayungan, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Mulyorejo, Rungkut, Sukolilo, Tenggilis Mejoyo, Wonocolo, dan Wonokromo. LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Paciran, Sambeng, dan Solokuro. LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian: Mantup dan Ngimbang. LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Brondong, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kembangbahu, Laren, Maduran, Modo, dan Tikung. LAMONGAN 21 - 50 mm Seluruh: Babat, Deket, Glagah, Kedungpring, Lamongan, Pucuk, Sarirejo, Sekaran, Sugio, Sukodadi, dan Turi. LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Brondong, Karangbinangun, Maduran, dan Tikung. LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian: Kalitengah, Karang Geneng, Kembangbahu, Laren, dan Modo. LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Mantup, Ngimbang, Paciran, Sambeng, Solokuro, dan Sukorame. LAMONGAN 51 - 100 mm Seluruh: Bluluk. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sukorame. LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kunir dan Lumajang. LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian: Jatiroto dan Yosowilangun. LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Rowokangkung dan Tekung. LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Rowokangkung. LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Pronojiwo dan Tekung. LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candipuro, Jatiroto, Kunir, Lumajang, Pasirian, dan Yosowilangun. LUMAJANG 51 - 100 mm Seluruh: Gucialit, Kedungjajang, Klakah, Padang, Pasrujambe, Randuagung, Ranuyoso, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, dan Tempeh. LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Candipuro dan Pasirian. LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pronojiwo. LUMAJANG 101 - 150 mm Seluruh: Tempursari. MADIUN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dagangan dan Gemarang. MADIUN 21 - 50 mm Sebagian: Jiwan dan Saradan. MADIUN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dolopo dan Geger. MADIUN 21 - 50 mm Seluruh: Kebonsari. MADIUN 51 - 100 mm Sebagian: Dolopo dan Geger. MADIUN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dagangan, Gemarang, Jiwan, dan Saradan. MADIUN 51 - 100 mm Seluruh: Balerejo, Kare, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu. MAGETAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Maospati. MAGETAN 0 - 20 mm Sebagian: Lembeyan. MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kartoharjo. MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian: Panekan. MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Barat, Bendo, Karas, Lembeyan, Maospati, Plaosan, Poncol, Sidorejo, dan Takeran. MAGETAN 21 - 50 mm Seluruh: Karangrejo, Kawedanan, Magetan, Ngariboyo, Nguntoronadi, Parang, dan Sukomoro. MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bendo, Karas, Maospati, Poncol, dan Takeran. MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian: Barat, Plaosan, dan Sidorejo. MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kartoharjo dan Panekan. MALANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Donomulyo, Kalipare, Kromengan, Poncokusumo, dan Sumber Pucung. MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sumbermanjing. MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Ampelgading, Gedangan, dan Tirto Yudo. MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dampit, Donomulyo, Jabung, Kalipare, Kasembon, Kromengan, Lawang, Ngajum, Poncokusumo, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, dan Wonosari. MALANG 51 - 100 mm Seluruh: Bantur, Bululawang, Dau, Gondanglegi, Karangploso, Kepanjen, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Tajinan, Tumpang, Turen, Wagir, dan Wajak. MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jabung, Kasembon, Lawang, Ngajum, Pujon, Singosari, dan Wonosari. MALANG 101 - 150 mm Sebagian: Dampit. MALANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Ampelgading, Gedangan, Ngantang, Sumbermanjing, dan Tirto Yudo. MALANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ngantang. MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dawar Blandong, Jetis, Kemlagi, Ngoro, Sooko, dan Trowulan. MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gedek. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian: Gedek. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dawar Blandong, Jetis, Kemlagi, Ngoro, Pacet, Sooko, Trawas, dan Trowulan. MOJOKERTO 51 - 100 mm Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gondang, Jatirejo, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Pungging, dan Puri. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pacet. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian: Trawas. NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Nganjuk dan Sukomoro. NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kertosono, Lengkong, Patianrowo, Rejoso, dan Wilangan. NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian: Berbek, Loceret, dan Tanjunganom. NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bagor, Nganjuk, Ngronggot, Pace, Prambon, dan Sukomoro. NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Nganjuk, Ngronggot, dan Prambon. NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian: Bagor, Pace, dan Sukomoro. NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Berbek, Kertosono, Lengkong, Loceret, Patianrowo, Rejoso, Tanjunganom, dan Wilangan. NGANJUK 51 - 100 mm Seluruh: Baron, Gondang, Jatikalen, Ngetos, Ngluyu, dan Sawahan. NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Geneng, Gerih, dan Karangjati. NGAWI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bringin, Geneng, Gerih, Karangjati, Kasreman, dan Padas. NGAWI 51 - 100 mm Seluruh: Jogorogo, Karanganyar, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren. NGAWI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bringin dan Padas. NGAWI 101 - 150 mm Sebagian: Kasreman. PACITAN 21 - 50 mm Sebagian: Kebonagung. PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arjosari, Bandar, Nawangan, dan Tegalombo. PACITAN 21 - 50 mm Seluruh: Donorojo, Pacitan, Pringkuku, dan Punung. PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Arjosari dan Bandar. PACITAN 51 - 100 mm Sebagian: Nawangan dan Tegalombo. PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kebonagung. PACITAN 51 - 100 mm Seluruh: Ngadirojo, Sudimoro, dan Tulakan. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Batu Marmar. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kadur, Pakong, Palengaan, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru. PAMEKASAN 21 - 50 mm Seluruh: Galis, Larangan, Pademawu, dan Pamekasan. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kadur, Pakong, dan Proppo. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian: Palengaan, Pegantenan, Tlanakan, dan Waru. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Batu Marmar. PAMEKASAN 51 - 100 mm Seluruh: Pasean. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kejayan, Lekok, dan Rembang. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Beji, Gempol, Gondang Wetan, Kraton, dan Rejoso. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangil dan Pohjentrek. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pohjentrek dan Prigen. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Bangil dan Tutur. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Beji, Gempol, Gondang Wetan, Kejayan, Kraton, Lekok, Pandaan, Pasrepan, Purwodadi, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, dan Tosari. PASURUAN 51 - 100 mm Seluruh: Grati, Lumbang, Nguling, Purwosari, Winongan, dan Wonorejo. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pandaan, Pasrepan, Sukorejo, dan Tosari. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian: Purwodadi dan Puspo. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Prigen dan Tutur. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Prigen. PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Sampung dan Sukorejo. PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Badegan, Ngebel, dan Ngrayun. PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian: Bungkal, Jetis, Mlarak, dan Pulung. PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Balong, Jambon, Jenangan, Sampung, Siman, Slahung, dan Sukorejo. PONOROGO 21 - 50 mm Seluruh: Babadan, Kauman, dan Ponorogo. PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Balong, Jenangan, Siman, dan Slahung. PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian: Jambon dan Sampung. PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Badegan, Bungkal, Jetis, Mlarak, Ngebel, Ngrayun, Pulung, Sambit, dan Sawoo. PONOROGO 51 - 100 mm Seluruh: Pudak dan Sooko. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sambit dan Sawoo. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Besuk, Kraksaan, Pakuniran, Tongas, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kotaanyar, Paiton, dan Sumberasih. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Paiton dan Sumberasih. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Kotaanyar. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Besuk, Kraksaan, Pakuniran, Tongas, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Seluruh: Bantaran, Banyuanyar, Dringu, Gading, Gending, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Pajarakan, Sukapura, Sumber, Tegalsiwalan, dan Tiris. SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Camplong, Jrengik, Omben, dan Tambelangan. SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Camplong, Jrengik, Omben, dan Tambelangan. SAMPANG 51 - 100 mm Seluruh: Banyuates, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, dan Torjun. SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Candi, Krembung, Tarik, dan Tulangan. SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian: Jabon, Prambon, Sukodono, dan Taman. SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Balong Bendo, Porong, Tanggulangin, dan Wonoayu. SIDOARJO 21 - 50 mm Seluruh: Krian. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Porong dan Wonoayu. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian: Balong Bendo dan Tanggulangin. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candi, Jabon, Krembung, Prambon, Sukodono, Taman, Tarik, dan Tulangan. SIDOARJO 51 - 100 mm Seluruh: Buduran, Gedangan, Sedati, Sidoarjo, dan Waru. SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Banyuputih, dan Kendit. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Jatibanteng, Kendit, dan Sumbermalang. SITUBONDO 21 - 50 mm Seluruh: Banyuglugur, Besuki, Bungatan, Jangkar, Kapongan, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, dan Suboh. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Banyuputih dan Jatibanteng. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian: Arjasa, Asembagus, dan Sumbermalang. SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ambunten, Bluto, Gayam, Guluk Guluk, Pasongsongan, Pragaan, dan Saronggi. SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Besar: Lenteng, Raas, dan Rubaru. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Lenteng, Raas, dan Rubaru. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ambunten, Bluto, Gayam, Guluk Guluk, Pasongsongan, Pragaan, dan Saronggi. SUMENEP 51 - 100 mm Seluruh: Arjasa, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Giligenteng, Kalianget, Kangayan, Kota Sumenep, Manding, Masalembu, Nonggunong, Sapeken, dan Talango. TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Karangan. TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Trenggalek. TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Watulimo. TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Dongko, Kampak, dan Suruh. TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Karangan, Panggul, Pule, Trenggalek, dan Tugu. TRENGGALEK 51 - 100 mm Seluruh: Bendungan, Durenan, Gandusari, dan Pogalan. TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Karangan, Munjungan, dan Panggul. TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian: Pule dan Tugu. TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Dongko, Kampak, Suruh, dan Watulimo. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Dongko dan Kampak. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian: Munjungan dan Watulimo. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Watulimo. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian: Munjungan. TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bancar, Kerek, dan Tambakboyo. TUBAN 21 - 50 mm Sebagian: Merakurak. TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Grabagan, Jatirogo, Jenu, Montong, Rengel, dan Soko. TUBAN 21 - 50 mm Seluruh: Bangilan, Kenduruan, Palang, Parengan, Plumpang, Semanding, Senori, Singgahan, Tuban, dan Widang. TUBAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Grabagan, Jatirogo, dan Soko. TUBAN 51 - 100 mm Sebagian: Jenu, Montong, dan Rengel. TUBAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bancar, Kerek, Merakurak, dan Tambakboyo. TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Besuki, Boyolangu, Ngantru, Pakel, Rejotangan, Sendang, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian: Kauman, Ngunut, dan Sumbergempol. TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Campur Darat, Kalidawir, Karangrejo, Kedungwaru, Pucang Laban, dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kalidawir dan Pucang Laban. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian: Campur Darat, Karangrejo, Kedungwaru, dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Besuki, Boyolangu, Kauman, Ngantru, Ngunut, Pakel, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Seluruh: Bandung, Gondang, dan Pager Wojo. TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Besuki.
( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan MEI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari FEBRUARI sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan DESEMBER ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III DESEMBER dan berakhir pada Dasarian I DESEMBER.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.