( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan JULI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan JULI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 2 – 177 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan JULI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2026 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Mei Tahun 2026 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan JULI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan April Tahun 2026 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 0 - 20 mm Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Purwoharjo dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian: Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gambiran, Glagah, dan Kalibaru.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Cluring, Giri, Kalipuro, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyuwangi, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Seluruh: Bangorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pesanggaran, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Banyuwangi, Licin, Muncar, Siliragung, dan Songgon.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Cluring, Gambiran, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Sempu, Singojuruh, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Seluruh: Genteng, Rogojampi, dan Srono.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Glenmore, Kabat, dan Singojuruh.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Glagah dan Sempu.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Licin dan Songgon.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Licin dan Songgon.
BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Seluruh: Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem,
BOJONEGORO 0 - 20 mm Kepoh Baru, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian: Sumber Wringin dan Tlogosari.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Botolinggo dan Cermee.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Seluruh: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Pujer, Sukosari, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Wonosari, dan Wringin.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Cermee.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Botolinggo, Sempol, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Sumber Wringin.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sumber Wringin dan Tlogosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Sempol.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sempol.
GRESIK 0 - 20 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Dukun, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Panceng, Sidayu, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Silo.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian: Ledokombo, Sumberjambe, dan Tempurejo.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bangsalsari, Mayang, Mumbulsari, Puger, Sumber Baru, dan Tanggul.
JEMBER 0 - 20 mm Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Gumuk Mas, Jelbuk, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, Sukowono, Sumbersari, Umbulsari, dan Wuluhan.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bangsalsari, Mayang, Mumbulsari, Sumber Baru, dan Tanggul.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Ledokombo dan Puger.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Besar: Silo, Sumberjambe, dan Tempurejo.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ledokombo, Silo, Sumberjambe, dan Tempurejo.
JOMBANG 0 - 20 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Kras, Kunjang, Mojo, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Semen, Tarokan, dan Wates.
KOTA BATU 0 - 20 mm Seluruh: Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
KOTA BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
KOTA MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
LAMONGAN 0 - 20 mm Seluruh: Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Senduro dan Sumbersuko.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian: Gucialit, Kunir, dan Padang.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Lumajang, Randuagung, Ranuyoso, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 0 - 20 mm Seluruh: Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Rowokangkung, dan Sukodono.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Lumajang, Pronojiwo, Randuagung, Ranuyoso, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian: Candipuro.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gucialit, Kunir, Padang, Pasirian, Pasrujambe, Senduro, dan Sumbersuko.
LUMAJANG 21 - 50 mm Seluruh: Tempeh.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pasrujambe.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Pasirian dan Tempursari.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candipuro dan Pronojiwo.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pronojiwo.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Tempursari.
MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MAGETAN 0 - 20 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gondanglegi dan Turen.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian: Pagak dan Wajak.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bululawang, Donomulyo, Kepanjen, dan Poncokusumo.
MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Dau, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pakis, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, Wagir, dan Wonosari.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ampelgading.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian: Bululawang, Donomulyo, Kepanjen, Poncokusumo, Sumbermanjing, dan Tirto Yudo.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dampit, Gedangan, Gondanglegi, Pagak, Turen, dan Wajak.
MALANG 21 - 50 mm Seluruh: Bantur dan Pagelaran.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Dampit dan Gedangan.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ampelgading, Sumbermanjing, dan Tirto Yudo.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
NGANJUK 0 - 20 mm Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGAWI 0 - 20 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Pringkuku dan Tulakan.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian: Arjosari.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Donorojo, Punung, dan Tegalombo.
PACITAN 0 - 20 mm Seluruh: Bandar dan Nawangan.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Donorojo dan Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian: Punung.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arjosari, Pringkuku, dan Tulakan.
PACITAN 21 - 50 mm Seluruh: Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, dan Sudimoro.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek,
PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh:Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian: Ngrayun.
PONOROGO 0 - 20 mm Seluruh: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pudak, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Slahung, Sooko, dan Sukorejo.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ngrayun.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Krucil, Tegalsiwalan, dan Tiris.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Besuk, Gading, dan Maron.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Dringu, Gending, Kraksaan, Krejengan, Leces, Pakuniran, Sukapura, dan Sumber.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Bantaran, Kotaanyar, Kuripan, Lumbang, Paiton, Pajarakan, Sumberasih, Tongas, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kraksaan, Sukapura, dan Sumber.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Dringu, Gending, Krejengan, Leces, dan Pakuniran.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Besuk, Gading, Krucil, Maron, Tegalsiwalan, dan Tiris.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Banyuanyar.
SAMPANG 0 - 20 mm Seluruh: Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
SIDOARJO 0 - 20 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, dan Banyuputih.
SITUBONDO 0 - 20 mm Seluruh: Banyuglugur, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Arjasa dan Banyuputih.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Asembagus.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Besar: Raas.
SUMENEP 0 - 20 mm Seluruh: Ambunten, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, dan Talango.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Raas.
SUMENEP 21 - 50 mm Seluruh: Arjasa, Kangayan, dan Sapeken.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian: Gandusari, Pule, dan Suruh.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Karangan dan Pogalan.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Seluruh: Bendungan, Durenan, Trenggalek, dan Tugu.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Karangan, Munjungan, dan Pogalan.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Dongko.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gandusari, Kampak, Panggul, Pule, Suruh, dan Watulimo.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Panggul dan Pule.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Kampak dan Watulimo.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dongko dan Munjungan.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian: Munjungan.
TUBAN 0 - 20 mm Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bandung dan Besuki.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Campur Darat, Pakel, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Seluruh: Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pucang Laban, Rejotangan, Sendang, Sumbergempol, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Campur Darat, Pakel, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bandung dan Besuki.


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan

    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan

    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  4. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  5. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari FEBRUARI sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan DESEMBER ).

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III DESEMBER dan berakhir pada Dasarian I DESEMBER.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  12. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.