Prediksi sifat hujan bulan JUNI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur adalah :
Bawah Normal sebesar : 99,7 %
Normal sebesar : 0,3 %
Atas Normal sebesar : -
Sifat Hujan
Sifat Hujan adalah : Perbandingan antara jumlah curah hujan yang terjadi selama satu bulan dengan normal atau nilai rata-rata dari bulan tersebut di suatu tempat.
Sifat hujan dibagi menjadi 3 kriteria, yaitu:
- Atas Normal (AN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115 % - Normal (N)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya antara 85 % – 115 % - Bawah Normal (BN)
Jika nilai perbandingan terhadap rata-ratanya kurang dari 85 %
Berdasarkan pemantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer di wilayah Indonesia dan sekitarnya sampai dengan awal Bulan April Tahun 2026 dapat diprediksikan Sifat Hujan pada Bulan JUNI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur sebagai berikut:
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Sepulu. BANGKALAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Blega dan Galis. BANGKALAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Geger dan Klampis. BANGKALAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Burneh, Kamal, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, Tanah Merah, dan Tragah. BANGKALAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Klampis. BANGKALAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Geger. BANGKALAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Blega, Galis, Konang, dan Sepulu. BANGKALAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Kokop dan Tanjungbumi. BANGKALAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Blega dan Konang. BANYUWANGI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Pesanggaran dan Siliragung. BANYUWANGI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Kalipuro. BANYUWANGI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Wongsorejo. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Wongsorejo. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Kalipuro, Pesanggaran, dan Siliragung. BANYUWANGI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Gambiran, Genteng, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Licin, Muncar, Purwoharjo, Rogojampi, Sempu, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegaldlimo, dan Tegalsari. BANYUWANGI Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Wongsorejo. BLITAR Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto. BOJONEGORO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Gondang, Kasiman, Kedewan, Ngambon, dan Tambakrejo. BOJONEGORO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Purwosari. BOJONEGORO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Kedungadem, Malo, Ngasem, Sugihwaras, dan Temayang. BOJONEGORO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Balen, Baureno, Bojonegoro, Bubulan, Dander, Gayam, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kepoh Baru, Sukosewu, Sumberejo, dan Trucuk. BOJONEGORO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Kedungadem, Malo, Ngasem, dan Sugihwaras. BOJONEGORO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Temayang. BOJONEGORO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Gondang, Kasiman, Kedewan, Margomulyo, Ngambon, Purwosari, dan Tambakrejo. BOJONEGORO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Ngraho, Padangan, dan Sekar. BOJONEGORO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Tambakrejo. BOJONEGORO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Margomulyo. BONDOWOSO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Sukosari, Sumber Wringin, dan Wonosari. BONDOWOSO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Botolinggo, Cermee, Klabang, Prajekan, Taman Krocok, dan Tapen. BONDOWOSO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Klabang, Prajekan, dan Tapen. BONDOWOSO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Botolinggo, Cermee, dan Taman Krocok. BONDOWOSO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Sempol, Sukosari, Sumber Wringin, Tlogosari, dan Wonosari. BONDOWOSO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Maesan, Pakem, Pujer, Tamanan, Tegalampel, Tenggarang, dan Wringin. BONDOWOSO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Sumber Wringin dan Tlogosari. BONDOWOSO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Sempol. GRESIK Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Dukun, Panceng, dan Wringinanom. GRESIK Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Driyorejo, Duduksampeyan, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, Sidayu, dan Ujungpangkah. GRESIK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Panceng dan Wringinanom. GRESIK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Dukun. GRESIK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Sangkapura dan Tambak. JEMBER Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Ajung, Kalisat, Ledokombo, Umbulsari, dan Wuluhan. JEMBER Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Balung dan Jombang. JEMBER Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Arjasa, Jelbuk, Kaliwates, Patrang, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, dan Sumberjambe. JEMBER Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bangsalsari, Panti, Sukowono, Sumber Baru, dan Tanggul. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Jelbuk, Semboro, Sukorambi, dan Sumberjambe. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Arjasa, Kaliwates, Patrang, dan Rambipuji. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Ajung, Balung, Jombang, Kalisat, Ledokombo, Umbulsari, dan Wuluhan. JEMBER Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Ambulu, Gumuk Mas, Jenggawah, Kencong, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Puger, Silo, Sumbersari, dan Tempurejo. JOMBANG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Ngusikan dan Plandaan. JOMBANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Ngusikan dan Plandaan. JOMBANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Perak, Peterongan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam. KEDIRI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Semen. KEDIRI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Banyakan, Grogol, dan Mojo. KEDIRI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Badas, Gampengrejo, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Kras, Kunjang, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Tarokan, dan Wates. KEDIRI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Grogol. KEDIRI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Banyakan dan Mojo. KEDIRI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Semen. KOTA BATU Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Batu. KOTA BATU Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Junrejo. KOTA BATU Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Batu dan Junrejo. KOTA BATU Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bumiaji. KOTA BLITAR Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. KOTA KEDIRI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren. KOTA MADIUN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Taman. KOTA MADIUN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Kartoharjo dan Mangu Harjo. KOTA MADIUN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Taman. KOTA MALANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun. KOTA MOJOKERTO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo. KOTA PROBOLINGGO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih. KOTA SURABAYA Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo. LAMONGAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Solokuro. LAMONGAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Paciran. LAMONGAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Brondong, Kalitengah, Karang Geneng, Laren, Ngimbang, Sambeng, dan Sukorame. LAMONGAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Babat, Bluluk, Deket, Glagah, Karangbinangun, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Maduran, Mantup, Modo, Pucuk, Sarirejo, Sekaran, Sugio, Sukodadi, Tikung, dan Turi. LAMONGAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Kalitengah, Karang Geneng, Laren, Ngimbang, Sambeng, dan Sukorame. LAMONGAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Brondong. LAMONGAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Paciran dan Solokuro. LUMAJANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Candipuro dan Yosowilangun. LUMAJANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Kunir, Pasirian, Pasrujambe, Rowokangkung, dan Tempeh. LUMAJANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Gucialit, Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Lumajang, Padang, Randuagung, Ranuyoso, Senduro, Sukodono, Sumbersuko, dan Tekung. LUMAJANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Kunir, Rowokangkung, dan Tempeh. LUMAJANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Pasirian, Pasrujambe, dan Pronojiwo. LUMAJANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Candipuro, Tempursari, dan Yosowilangun. LUMAJANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Candipuro dan Tempursari. LUMAJANG Normal
( 85 - 115 % )Sebagian: Pronojiwo. LUMAJANG Atas Normal
( 116 - 150 % )Sebagian Kecil: Pronojiwo. MADIUN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Geger, Gemarang, Kare, Saradan, dan Wungu. MADIUN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Balerejo, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, dan Wonoasri. MADIUN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Jiwan dan Sawahan. MADIUN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Jiwan. MADIUN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Sawahan. MADIUN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Balerejo, Geger, Gemarang, Kare, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Wonoasri, dan Wungu. MADIUN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Dagangan, Dolopo, dan Kebonsari. MADIUN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Gemarang. MAGETAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Barat, Panekan, Plaosan, Sidorejo, dan Takeran. MAGETAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Bendo, Karangrejo, Karas, Ngariboyo, dan Sukomoro. MAGETAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Magetan dan Maospati. MAGETAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Lembeyan dan Maospati. MAGETAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Magetan. MAGETAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kawedanan, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran. MAGETAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Kartoharjo dan Poncol. MAGETAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Kawedanan, Nguntoronadi, dan Parang. MAGETAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Lembeyan. MALANG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Dau. MALANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Gondanglegi dan Pagelaran. MALANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Gedangan dan Turen. MALANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Bantur, Bululawang, Dau, Kepanjen, Poncokusumo, dan Wajak. MALANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Donomulyo, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pakis, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, Wagir, dan Wonosari. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Bantur, Bululawang, dan Poncokusumo. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Kepanjen dan Wajak. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Gedangan, Gondanglegi, Pagelaran, dan Turen. MALANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Ampelgading, Dampit, Sumbermanjing, dan Tirto Yudo. MOJOKERTO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Jetis dan Kemlagi. MOJOKERTO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Dawar Blandong. MOJOKERTO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Dawar Blandong. MOJOKERTO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Dlanggu. MOJOKERTO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Pacet, dan Puri. MOJOKERTO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bangsal, Gedek, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pungging, Sooko, Trawas, dan Trowulan. MOJOKERTO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Kutorejo, Pacet, dan Puri. MOJOKERTO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Gondang dan Jatirejo. MOJOKERTO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Dlanggu. NGANJUK Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Lengkong dan Ngluyu. NGANJUK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Ngetos dan Sawahan. NGANJUK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Berbek, Lengkong, Loceret, dan Ngluyu. NGANJUK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bagor, Baron, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Nganjuk, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan. NGANJUK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Berbek dan Loceret. NGANJUK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Ngetos dan Sawahan. NGAWI Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Bringin, Karanganyar, Kendal, Ngawi, Pitu, dan Widodaren. NGAWI Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Karangjati, Kedunggalar, Mantingan, dan Paron. NGAWI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Kasreman. NGAWI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Bringin, Karanganyar, Karangjati, Kedunggalar, Kendal, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren. NGAWI Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Geneng, Gerih, Jogorogo, Kwadungan, dan Pangkur. NGAWI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Ngawi, Ngrambe, dan Sine. NGAWI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Bringin dan Padas. NGAWI Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Kasreman. PACITAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Arjosari, Bandar, Punung, dan Tegalombo. PACITAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Sudimoro, dan Tulakan. PACITAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Punung dan Tegalombo. PACITAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Arjosari dan Bandar. PACITAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Nawangan. PAMEKASAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Batu Marmar, Pegantenan, dan Waru. PAMEKASAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Pakong. PAMEKASAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Proppo. PAMEKASAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Pakong. PAMEKASAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Batu Marmar, Palengaan, Pamekasan, Pegantenan, Tlanakan, dan Waru. PAMEKASAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, dan Pasean. PAMEKASAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Palengaan, Pamekasan, dan Tlanakan. PAMEKASAN Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Proppo. PASURUAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Sukorejo. PASURUAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Purwosari. PASURUAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Purwosari dan Sukorejo. PASURUAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Puspo, Rejoso, Rembang, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo. PONOROGO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Babadan, Balong, Bungkal, Jambon, Kauman, Ngebel, Sampung, Sooko, dan Sukorejo. PONOROGO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Badegan dan Jenangan. PONOROGO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Jetis, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sawoo, dan Siman. PONOROGO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Mlarak. PONOROGO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Jetis, Ponorogo, dan Siman. PONOROGO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Pulung, Sambit, dan Sawoo. PONOROGO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Kauman, Ngebel, Sampung, Sooko, dan Sukorejo. PONOROGO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Ngrayun, Pudak, dan Slahung. PONOROGO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Sampung dan Sukorejo. PROBOLINGGO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bantaran, Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Kuripan, Leces, Lumbang, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sukapura, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, Tiris, Tongas, dan Wonomerto. SAMPANG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Camplong, Jrengik, dan Omben. SAMPANG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Kedungdung. SAMPANG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Pangarengan, Sampang, Sreseh, dan Torjun. SAMPANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Sampang dan Torjun. SAMPANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Pangarengan dan Sreseh. SAMPANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, dan Tambelangan. SAMPANG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Robatal dan Sokobanah. SAMPANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Banyuates, Camplong, Karang Penang, Omben, dan Tambelangan. SAMPANG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Ketapang. SIDOARJO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Tarik dan Tulangan. SIDOARJO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Prambon dan Sidoarjo. SIDOARJO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Balong Bendo, Buduran, dan Wonoayu. SIDOARJO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Gedangan, Krian, Sedati, Sukodono, Taman, dan Waru. SIDOARJO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Buduran dan Wonoayu. SIDOARJO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Balong Bendo. SIDOARJO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Prambon, Sidoarjo, Tarik, dan Tulangan. SIDOARJO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Candi, Jabon, Krembung, Porong, dan Tanggulangin. SITUBONDO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Arjasa, Asembagus, dan Banyuputih. SITUBONDO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Besuki dan Mlandingan. SITUBONDO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Bungatan dan Suboh. SITUBONDO Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, dan Situbondo. SITUBONDO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Bungatan. SITUBONDO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Suboh. SITUBONDO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Besuki, dan Mlandingan. SITUBONDO Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Banyuglugur, Jangkar, Jatibanteng, dan Sumbermalang. SITUBONDO Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Banyuputih. SITUBONDO Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Banyuputih. SUMENEP Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Batuan, Bluto, Ganding, Guluk Guluk, dan Kota Sumenep. SUMENEP Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Lenteng dan Saronggi. SUMENEP Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Dungkek, Kalianget, dan Talango. SUMENEP Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Ambunten, Batuan, Batuputih, Bluto, Ganding, Giligenteng, Guluk Guluk, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Rubaru, Sapeken, dan Saronggi. SUMENEP Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Arjasa, Dasuk, Gayam, Kangayan, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, dan Raas. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Ambunten, Batuan, Giligenteng, Sapeken, dan Saronggi. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian: Batuputih, Kalianget, Kota Sumenep, Manding, dan Rubaru. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Besar: Dungkek, Gapura, dan Talango. SUMENEP Bawah Normal
( 51 - 84 % )Seluruh: Batang Batang. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Kecil: Gapura, Kota Sumenep, dan Talango. SUMENEP Normal
( 85 - 115 % )Sebagian Besar: Kalianget. TRENGGALEK Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Bendungan, Durenan, Karangan, Pogalan, Tugu, dan Watulimo. TRENGGALEK Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Trenggalek. TRENGGALEK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Trenggalek. TRENGGALEK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Bendungan, Durenan, Karangan, Munjungan, Pogalan, Tugu, dan Watulimo. TRENGGALEK Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Dongko, Gandusari, Kampak, Panggul, Pule, dan Suruh. TRENGGALEK Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Munjungan. TUBAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Jenu, Kerek, dan Singgahan. TUBAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Kenduruan, Merakurak, dan Senori. TUBAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Jatirogo, Montong, Palang, Semanding, dan Tambakboyo. TUBAN Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Bancar, Grabagan, Parengan, Plumpang, Rengel, Soko, dan Widang. TUBAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Palang dan Semanding. TUBAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Jatirogo, Montong, dan Tambakboyo. TUBAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Senori, dan Singgahan. TUBAN Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Bangilan dan Tuban. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Kecil: Boyolangu dan Gondang. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian: Bandung dan Kalidawir. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Sebagian Besar: Besuki dan Pakel. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 0 - 30 % )Seluruh: Campur Darat dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Kecil: Pakel. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian: Besuki. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Sebagian Besar: Bandung, Boyolangu, Gondang, Kalidawir, dan Sendang. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 31 - 50 % )Seluruh: Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pucang Laban, Rejotangan, Sumbergempol, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG Bawah Normal
( 51 - 84 % )Sebagian Kecil: Sendang.
( Prediksi - Bulanan ) Sifat Hujan Bulan JUNI Tahun 2026 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2026 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari FEBRUARI sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan DESEMBER ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III DESEMBER dan berakhir pada Dasarian I DESEMBER.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.