( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur ( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 23 - 690 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Juli Tahun 2025 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Blega.
BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian: Modung.
BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Burneh dan Tanah Merah.
BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bangkalan, Blega, Galis, Kokop, Konang, Modung, Tanjungbumi, dan Tragah.
BANGKALAN 101 - 150 mm Seluruh: Kamal, Kwanyar, Labang, dan Socah.
BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Klampis dan Konang.
BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian: Bangkalan, Galis, Kokop, Tanjungbumi, dan Tragah.
BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Burneh, Geger, Sepulu, dan Tanah Merah.
BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bangkalan, Sepulu, dan Tanah Merah.
BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian: Burneh dan Geger.
BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Klampis.
BANGKALAN 201 - 300 mm Seluruh: Arosbaya.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Wongsorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bangorejo, Cluring, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Kalipuro.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Purwoharjo dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gambiran, Licin, Pesanggaran, Songgon, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Glagah, Purwoharjo, Siliragung, dan Singojuruh.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Cluring, Giri, Kabat, Kalipuro, Rogojampi, Srono, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Seluruh: Banyuwangi dan Muncar.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Genteng, Glenmore, Kabat, Purwoharjo, Rogojampi, Sempu, dan Songgon.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Bangorejo, Cluring, Gambiran, Giri, Kalipuro, Licin, Siliragung, dan Srono.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Glagah, Pesanggaran, Singojuruh, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Cluring, Glagah, Pesanggaran, Siliragung, Singojuruh, dan Srono.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian: Tegalsari.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gambiran, Genteng, Glenmore, Kalibaru, Licin, Sempu, dan Songgon.
BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Glenmore dan Kalibaru.
BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Doko, Garum, Nglegok, Panggungrejo, Selopuro, Talun, dan Wlingi.
BLITAR 151 - 200 mm Sebagian: Selorejo dan Wonotirto.
BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bakung, Kanigoro, Ponggok, Sanankulon, dan Sutojayan.
BLITAR 151 - 200 mm Seluruh: Kademangan, Srengat, Udanawu, dan Wonodadi.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bakung, Kanigoro, Ponggok, Sanankulon, dan Sutojayan.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian: Gandusari.
BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Besar: Doko, Garum, Nglegok, Panggungrejo, Selopuro, Selorejo, Talun, Wlingi, dan Wonotirto.
BLITAR 201 - 300 mm Seluruh: Binangun, Kesamben, dan Wates.
BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Garum dan Nglegok.
BLITAR 301 - 400 mm Sebagian: Wlingi.
BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Besar: Gandusari.
BLITAR 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Gandusari.
BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Baureno, Kanor, dan Kepoh Baru.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sukosewu dan Tambakrejo.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian: Bubulan, Dander, Kedungadem, Padangan, dan Sugihwaras.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Balen, Baureno, Kanor, Kapas, Kepoh Baru, Ngambon, Ngasem, Purwosari, Sekar, Sumberejo, dan Temayang.
BOJONEGORO 151 - 200 mm Seluruh: Bojonegoro, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kasiman, Kedewan, Malo, dan Trucuk.
BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ngambon, Ngasem, Purwosari, dan Sumberejo.
BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian: Balen, Kapas, Sekar, dan Temayang.
BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bubulan, Dander, Kedungadem, Padangan, Sugihwaras, Sukosewu, dan Tambakrejo.
BOJONEGORO 201 - 300 mm Seluruh: Margomulyo dan Ngraho.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Cermee.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Botolinggo, Klabang, Sempol, dan Wringin.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Cermee dan Prajekan.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Binakal dan Tapen.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Botolinggo, Cermee, Pakem, Prajekan, Sempol, Taman Krocok, dan Tegalampel.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Klabang dan Wringin.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Cermee, Klabang, Maesan, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian: Jambesari Darus Sholah, Pujer, Sempol, dan Sukosari.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Binakal, Botolinggo, Grujugan, Pakem, Taman Krocok, Tapen, Tegalampel, dan Wonosari.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Seluruh: Bondowoso, Curah Dami, dan Tenggarang.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Botolinggo, Pakem, Tapen, dan Wonosari.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian: Grujugan dan Sempol.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Jambesari Darus Sholah, Maesan, Pujer, Sukosari, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 201 - 300 mm Seluruh: Tamanan.
GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kedamean dan Menganti.
GRESIK 51 - 100 mm Sebagian: Wringinanom.
GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Driyorejo.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Driyorejo.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian: Dukun.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kedamean, Menganti, Panceng, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
GRESIK 101 - 150 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Duduksampeyan, Gresik, Kebomas, Manyar, dan Sidayu.
GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Panceng dan Ujungpangkah.
GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Dukun.
GRESIK 201 - 300 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak.
JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Balung, Jombang, Silo, Tempurejo, dan Umbulsari.
JEMBER 101 - 150 mm Sebagian: Puger.
JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Besar: Ambulu, Gumuk Mas, Kencong, dan Wuluhan.
JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jelbuk, Kaliwates, Mayang, Pakusari, Panti, Sukorambi, Tanggul, dan Wuluhan.
JEMBER 151 - 200 mm Sebagian: Ambulu, Gumuk Mas, Kencong, Puger, Semboro, dan Silo.
JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ajung, Balung, Bangsalsari, Jombang, Mumbulsari, Rambipuji, Sumbersari, Tempurejo, dan Umbulsari.
JEMBER 151 - 200 mm Seluruh: Jenggawah.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ajung, Mumbulsari, Rambipuji, dan Tempurejo.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian: Bangsalsari, Jombang, Puger, dan Sumbersari.
JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Besar: Jelbuk, Kaliwates, Mayang, Pakusari, Panti, Semboro, Silo, Sukorambi, Sumber Baru, dan Tanggul.
JEMBER 201 - 300 mm Seluruh: Arjasa, Kalisat, Ledokombo, Patrang, Sukowono, dan Sumberjambe.
JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Sumber Baru.
JOMBANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Jogo Roto dan Mojowarno.
JOMBANG 51 - 100 mm Sebagian: Sumobito.
JOMBANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Mojoagung.
JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian: Mojoagung dan Plandaan.
JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bareng, Jogo Roto, Kabuh, Mojowarno, Ngoro, Sumobito, dan Wonosalam.
JOMBANG 101 - 150 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Diwek, Gudo, Jombang, Kesamben, Kudu, Megaluh, Ngusikan, Perak, Peterongan, Ploso, dan Tembelang.
JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bareng, Ngoro, dan Wonosalam.
JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian: Kabuh.
JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Plandaan.
KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kandat, Ngadiluwih, dan Ringinrejo.
KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kandangan, Mojo, Plosoklaten, dan Semen.
KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian: Banyakan, Kras, Pare, dan Tarokan.
KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Badas, Grogol, Gurah, Kandat, Ngadiluwih, Ringinrejo, dan Wates.
KEDIRI 101 - 150 mm Seluruh: Gampengrejo, Kayen Kidul, Kunjang, Ngasem, Pagu, Papar, Plemahan, dan Purwoasri.
KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ngadiluwih.
KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian: Badas, Banyakan, Grogol, Gurah, Mojo, Ringinrejo, Semen, dan Wates.
KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kandangan, Kepung, Kras, Ngancar, Pare, Plosoklaten, Puncu, dan Tarokan.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Grogol dan Plosoklaten.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian: Banyakan, Kepung, Ngancar, dan Puncu.
KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Mojo dan Semen.
KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Mojo dan Semen.
KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bumiaji.
KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian: Batu.
KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian Besar: Junrejo.
KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Junrejo.
KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Besar: Batu dan Bumiaji.
KOTA BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kepanjenkidul.
KOTA BLITAR 151 - 200 mm Seluruh: Sananwetan dan Sukorejo.
KOTA BLITAR 201 - 300 mm Sebagian: Kepanjenkidul.
KOTA KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Mojoroto.
KOTA KEDIRI 101 - 150 mm Seluruh: Kota Kediri dan Pesantren.
KOTA KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Mojoroto.
KOTA MADIUN 101 - 150 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sukun.
KOTA MALANG 101 - 150 mm Sebagian: Lowokwaru.
KOTA MALANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Lowokwaru dan Sukun.
KOTA MALANG 151 - 200 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, dan Klojen.
KOTA MOJOKERTO 101 - 150 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bugulkidul, Gadingrejo, dan Purworejo.
KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Seluruh: Panggungrejo.
KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bugulkidul, Gadingrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Wonoasih.
KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Mayangan.
KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kanigaran dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Seluruh: Kademangan.
KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Kanigaran.
KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Mayangan dan Wonoasih.
KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Benowo, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, dan Semampir.
KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian: Asemrowo.
KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bubutan, Bulak, Sambikerep, Simokerto, dan Tandes.
KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Seluruh: Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Lakarsantri, Mulyorejo, Rungkut, Sawahan, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bubutan, Sambikerep, Simokerto, dan Tandes.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian: Bulak.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Besar: Asemrowo, Benowo, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, dan Semampir.
KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Seluruh: Pakal.
LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Maduran dan Turi.
LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian: Karang Geneng, Laren, dan Sambeng.
LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Brondong, Deket, Karangbinangun, Kembangbahu, Mantup, Sarirejo, Solokuro, dan Tikung.
LAMONGAN 101 - 150 mm Seluruh: Glagah dan Paciran.
LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Brondong, Karangbinangun, Sarirejo, dan Solokuro.
LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian: Deket, Kembangbahu, Mantup, dan Tikung.
LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bluluk, Karang Geneng, Laren, Maduran, Sambeng, Sukorame, dan Turi.
LAMONGAN 151 - 200 mm Seluruh: Babat, Kalitengah, Kedungpring, Lamongan, Modo, Ngimbang, Pucuk, Sekaran, Sugio, dan Sukodadi.
LAMONGAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bluluk dan Sukorame.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jatiroto, Ranuyoso, dan Tekung.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian: Yosowilangun.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Rowokangkung.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pasrujambe dan Tempeh.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian: Klakah, Padang, Rowokangkung, Senduro, dan Sumbersuko.
LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gucialit, Jatiroto, Kunir, Lumajang, Randuagung, Ranuyoso, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 201 - 300 mm Seluruh: Kedungjajang dan Sukodono.
LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Candipuro, Kunir, Lumajang, Pronojiwo, dan Randuagung.
LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian: Gucialit dan Ranuyoso.
LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Klakah, Padang, Pasirian, Pasrujambe, Senduro, Sumbersuko, dan Tempeh.
LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Senduro.
LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian: Pasirian, Pasrujambe, dan Pronojiwo.
LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Candipuro.
LUMAJANG > 500 mm Sebagian Kecil: Pasirian.
LUMAJANG > 500 mm Sebagian: Candipuro.
LUMAJANG > 500 mm Sebagian Besar: Pronojiwo.
LUMAJANG > 500 mm Seluruh: Tempursari.
MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Madiun dan Sawahan.
MADIUN 101 - 150 mm Sebagian: Dagangan, Jiwan, Kare, Kebonsari, Saradan, dan Wonoasri.
MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Geger, Gemarang, Mejayan, dan Wungu.
MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gemarang.
MADIUN 151 - 200 mm Sebagian: Geger, Mejayan, dan Wungu.
MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Balerejo, Dagangan, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, dan Wonoasri.
MADIUN 151 - 200 mm Seluruh: Dolopo.
MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Balerejo.
MADIUN 201 - 300 mm Sebagian: Pilangkenceng.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bendo, Parang, dan Takeran.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian: Kawedanan dan Nguntoronadi.
MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Lembeyan.
MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Lembeyan dan Panekan.
MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian: Plaosan dan Sidorejo.
MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bendo, Karas, Kawedanan, Nguntoronadi, Parang, Poncol, Sukomoro, dan Takeran.
MAGETAN 151 - 200 mm Seluruh: Barat, Karangrejo, Kartoharjo, Magetan, Maospati, dan Ngariboyo.
MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sukomoro.
MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian: Karas dan Poncol.
MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Panekan, Plaosan, dan Sidorejo.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Poncokusumo.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian: Dau dan Karangploso.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bantur, Kalipare, Ngantang, dan Pagak.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian: Poncokusumo, Turen, dan Wajak.
MALANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Dau, Gondanglegi, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Pagelaran, Pujon, Sumber Pucung, dan Wonosari.
MALANG 151 - 200 mm Seluruh: Bululawang, Jabung, Lawang, Ngajum, Pakis, Pakisaji, Singosari, Tajinan, Tumpang, dan Wagir.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ampelgading, Gondanglegi, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Pagelaran, Pujon, dan Sumber Pucung.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian: Poncokusumo, Sumbermanjing, Tirto Yudo, dan Wonosari.
MALANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bantur, Dampit, Gedangan, Kalipare, Ngantang, Pagak, Turen, dan Wajak.
MALANG 201 - 300 mm Seluruh: Donomulyo.
MALANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Ngantang dan Poncokusumo.
MALANG 301 - 400 mm Sebagian: Ampelgading, Dampit, Gedangan, dan Tirto Yudo.
MALANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Sumbermanjing.
MALANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Dampit.
MALANG 401 - 500 mm Sebagian: Ampelgading dan Tirto Yudo.
MALANG > 500 mm Sebagian: Ampelgading.
MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dlanggu, Gondang, dan Jatirejo.
MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Mojosari, Ngoro, Pungging, dan Trowulan.
MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian: Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, dan Trowulan.
MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Dlanggu, Gondang, Jatirejo, dan Trawas.
MOJOKERTO 101 - 150 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Gedek, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Puri, dan Sooko.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jatirejo dan Trawas.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian: Gondang.
MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Pacet.
NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ngetos dan Sawahan.
NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian: Loceret dan Rejoso.
NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bagor, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, dan Pace.
NGANJUK 101 - 150 mm Seluruh: Baron, Kertosono, Nganjuk, Ngronggot, Patianrowo, Prambon, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bagor, Berbek, dan Jatikalen.
NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian: Gondang, Lengkong, dan Pace.
NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Loceret, Ngetos, Rejoso, dan Sawahan.
NGANJUK 151 - 200 mm Seluruh: Ngluyu.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Loceret dan Sawahan.
NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian: Ngetos.
NGAWI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Geneng, Gerih, dan Karangjati.
NGAWI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kwadungan dan Pangkur.
NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kwadungan dan Mantingan.
NGAWI 201 - 300 mm Sebagian: Pangkur.
NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Geneng, Gerih, Karanganyar, Karangjati, Sine, dan Widodaren.
NGAWI 201 - 300 mm Seluruh: Bringin, Jogorogo, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Ngawi, Ngrambe, Padas, Paron, dan Pitu.
NGAWI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Karanganyar, Sine, dan Widodaren.
NGAWI 301 - 400 mm Sebagian Besar: Mantingan.
PACITAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bandar.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pringkuku dan Tulakan.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian: Arjosari.
PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bandar, Donorojo, Punung, dan Tegalombo.
PACITAN 201 - 300 mm Seluruh: Nawangan.
PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Bandar, Donorojo, Kebonagung, Pacitan, dan Sudimoro.
PACITAN 301 - 400 mm Sebagian: Ngadirojo, Punung, Tegalombo, dan Tulakan.
PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Besar: Arjosari dan Pringkuku.
PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Pringkuku.
PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Besar: Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Sudimoro, dan Tulakan.
PACITAN > 500 mm Sebagian: Sudimoro.
PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pademawu.
PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian: Larangan.
PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Galis.
PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pakong.
PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian: Galis.
PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kadur, Larangan, Pademawu, Palengaan, dan Pegantenan.
PAMEKASAN 51 - 100 mm Seluruh: Pamekasan, Proppo, dan Tlanakan.
PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kadur dan Palengaan.
PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian: Pegantenan.
PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pakong.
PAMEKASAN 101 - 150 mm Seluruh: Batu Marmar, Pasean, dan Waru.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gondang Wetan, Kraton, Nguling, Pohjentrek, dan Winongan.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Grati.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Lekok dan Rejoso.
PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Puspo.
PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Lekok, Pandaan, Pasrepan, Purwosari, Rejoso, Sukorejo, dan Wonorejo.
PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lumbang, Nguling, Pohjentrek, dan Winongan.
PASURUAN 51 - 100 mm Seluruh: Bangil, Beji, dan Rembang.
PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Lumbang dan Tutur.
PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian: Gempol, Kejayan, Purwodadi, dan Tosari.
PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pandaan, Pasrepan, Prigen, Purwosari, Puspo, Sukorejo, dan Wonorejo.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pasrepan, Prigen, dan Purwosari.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian: Puspo.
PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Purwodadi, Tosari, dan Tutur.
PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Babadan, Bungkal, Sampung, dan Slahung.
PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian: Sukorejo.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ngrayun.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian: Pudak.
PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Sambit, Sampung, Sawoo, Slahung, Sooko, dan Sukorejo.
PONOROGO 151 - 200 mm Seluruh: Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pulung, dan Siman.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Sawoo, dan Sooko.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian: Sambit dan Slahung.
PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ngrayun dan Pudak.
PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian: Ngrayun.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kotaanyar, Kraksaan, dan Krejengan.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Paiton dan Pajarakan.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Besuk, Gending, Maron, Pakuniran, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Kotaanyar, Krejengan, dan Lumbang.
PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kraksaan, Paiton, Pajarakan, Sumberasih, dan Tongas.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Gading, Paiton, Pajarakan, Sumber, Sumberasih, Tegalsiwalan, dan Tongas.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Kraksaan, Leces, Maron, dan Sukapura.
PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bantaran, Besuk, Dringu, Gending, Kotaanyar, Krejengan, Kuripan, Lumbang, Pakuniran, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Krejengan, Krucil, dan Tiris.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian: Bantaran, Besuk, Dringu, Gending, Kuripan, Maron, Pakuniran, Sukapura, dan Sumber.
PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Banyuanyar, Gading, Leces, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bantaran, Banyuanyar, Kuripan, Leces, dan Maron.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian: Gading, Sukapura, Tegalsiwalan, dan Tiris.
PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Krucil dan Sumber.
PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Krucil dan Sumber.
PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Tiris.
PROBOLINGGO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Tiris.
SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Jrengik, Karang Penang, dan Kedungdung.
SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Omben, Pangarengan, Sampang, Sreseh, dan Torjun.
SAMPANG 51 - 100 mm Seluruh: Camplong.
SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sampang.
SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian: Omben, Pangarengan, Sreseh, dan Torjun.
SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Jrengik, Karang Penang, dan Kedungdung.
SAMPANG 101 - 150 mm Seluruh: Banyuates, Ketapang, Robatal, Sokobanah, dan Tambelangan.
SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian: Tarik.
SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balong Bendo dan Prambon.
SIDOARJO 51 - 100 mm Seluruh: Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Prambon.
SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian: Balong Bendo.
SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Tarik.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Besuki, Mlandingan, dan Situbondo.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Asembagus, Jangkar, Panji, dan Suboh.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyuputih, Kapongan, dan Mangaran.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Banyuputih, Mangaran, dan Sumbermalang.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian: Jatibanteng, Kapongan, Mlandingan, dan Suboh.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, Besuki, Bungatan, Jangkar, Kendit, Panji, dan Situbondo.
SITUBONDO 51 - 100 mm Seluruh: Panarukan.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Banyuglugur, Kendit, dan Suboh.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian: Arjasa, Bungatan, dan Jatibanteng.
SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Mlandingan dan Sumbermalang.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Arjasa dan Jatibanteng.
SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian: Sumbermalang.
SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sumbermalang.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ambunten, Batuan, Batuputih, Guluk Guluk, dan Manding.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Bluto, Dasuk, dan Kota Sumenep.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Batang Batang, Gapura, Pragaan, Raas, dan Saronggi.
SUMENEP 51 - 100 mm Seluruh: Dungkek, Gayam, Giligenteng, Kalianget, Nonggunong, dan Talango.
SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Batang Batang, Gapura, Raas, dan Saronggi.
SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian: Arjasa dan Pragaan.
SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Besar: Ambunten, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Guluk Guluk, Kangayan, Kota Sumenep, dan Manding.
SUMENEP 101 - 150 mm Seluruh: Ganding, Lenteng, Masalembu, Pasongsongan, Rubaru, dan Sapeken.
SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kangayan.
SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Besar: Arjasa.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bendungan, Karangan, Pogalan, Pule, dan Suruh.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Trenggalek dan Tugu.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Dongko dan Watulimo.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian: Kampak, Trenggalek, dan Tugu.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bendungan, Karangan, Pogalan, Pule, dan Suruh.
TRENGGALEK 201 - 300 mm Seluruh: Durenan dan Gandusari.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Suruh.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian: Panggul dan Pule.
TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Besar: Dongko, Kampak, dan Watulimo.
TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Dongko dan Kampak.
TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian: Munjungan dan Watulimo.
TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian Besar: Panggul.
TRENGGALEK > 500 mm Sebagian Kecil: Panggul dan Watulimo.
TRENGGALEK > 500 mm Sebagian Besar: Munjungan.
TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Plumpang.
TUBAN 101 - 150 mm Sebagian: Bancar, Grabagan, Montong, Rengel, dan Soko.
TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kerek, Palang, Semanding, dan Tambakboyo.
TUBAN 101 - 150 mm Seluruh: Jenu, Merakurak, dan Tuban.
TUBAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Semanding.
TUBAN 151 - 200 mm Sebagian: Kerek, Palang, dan Tambakboyo.
TUBAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bancar, Grabagan, Montong, Plumpang, Rengel, dan Soko.
TUBAN 151 - 200 mm Seluruh: Bangilan, Jatirogo, Kenduruan, Parengan, Senori, Singgahan, dan Widang.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gondang dan Sendang.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian: Boyolangu dan Kalidawir.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Karangrejo, Kauman, Pucang Laban, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Seluruh: Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Rejotangan, dan Sumbergempol.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pucang Laban dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian: Karangrejo dan Kauman.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Besuki, Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Pager Wojo, dan Sendang.
TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Seluruh: Bandung, Campur Darat, Pakel, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Besuki dan Pager Wojo.
TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian: Sendang.


Pendahuluan


  1. Posisi Geografis Indonesia

    Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

    Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.

    Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Pengendali Iklim di Indonesia


    Pengendali Iklim di Indonesia Pengendali Iklim di Indonesia

    Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.

    Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.


    1. El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina El Nino Southern Oscillation ENSO La Nina

      El Niño Southern Oscillation (ENSO)

      El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.

      Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.

      Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.

      El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).

      Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.

      Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.

      Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.

      Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.


      La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.

      Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.


    2. Indian Ocean Dipole IOD Indian Ocean Dipole IOD

      IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.

      IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.

      Indian Ocean Dipole (IOD)

      Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).

      Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).

      Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.

      Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.


    3. Sirkulasi Monsun Australia Sirkulasi Monsun Australia

      Sirkulasi Monsun Asia – Australia

      Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.

      Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.

      Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.

      Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.

      Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.

      Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.

      Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

      Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.

    4. Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)

      ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.

      ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.

      Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.

      Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.


    5. Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia

      Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.

      Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.

      Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.

  2. Keragaman Iklim Indonesia

    Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.

    Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.

    Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.

    Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya



Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan

    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan

    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan

    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  4. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      • Awal Musim Kemarau ( AMK ):


      • Awal Musim Kemarau Awal Musim Kemarau
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).

      • Awal Musim Hujan ( AMH ):


        Awal Musim Hujan Awal Musim Hujan
        1. Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).

        2. Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).


      • Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 1 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

        Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau Ilustrasi 2 Awal Musim Hujan dan Awal Musim Kemarau

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
  5. Sifat Musim

    Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )

    Dasarian dan Indeks Dasarian:

    Rentang waktu selama 10 hari.

    Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:

    • Dasarian I: Tanggal 1 - 10

    • Dasarian II: Tanggal 11 - 20

    • Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan

    Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan


    Puncak Musim Puncak Musim

    Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    • Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.

    • Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan OKTOBER ).

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya


    Perbandingan Musim dengan Normalnya Perbandingan Musim dengan Normalnya

    Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

    Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.

    Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim


    Durasi Musim Durasi Musim

    Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.

    Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III OKTOBER dan berakhir pada Dasarian I Oktober.

    Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).

  12. Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.