Berkisar antara 4 – 502 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan SEPTEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juli Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur
Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Agustus Tahun 2025 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan SEPTEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juli Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kwanyar. BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian: Labang dan Modung. BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kamal. BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian: Arosbaya dan Kamal. BANGKALAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Geger, Klampis, Kwanyar, Labang, dan Modung. BANGKALAN 51 - 100 mm Seluruh: Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Kokop, Konang, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Geger. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian: Klampis. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Arosbaya. BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Wongsorejo. BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kabat dan Kalipuro. BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Wongsorejo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Gambiran, Licin, Rogojampi, Songgon, dan Wongsorejo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Glagah, Kalipuro, Pesanggaran, Srono, dan Tegalsari. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Cluring, Giri, Kabat, Muncar, dan Siliragung. BANYUWANGI 51 - 100 mm Seluruh: Bangorejo, Banyuwangi, Purwoharjo, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kalibaru, Licin, Muncar, dan Songgon. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Cluring, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalipuro, Sempu, dan Siliragung. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Gambiran, Genteng, Pesanggaran, Rogojampi, Singojuruh, Srono, dan Tegalsari. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Giri, Kabat, Kalipuro, dan Singojuruh. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Genteng, Glagah, dan Songgon. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Glenmore, Kalibaru, Licin, dan Sempu. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Glenmore dan Sempu. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian: Licin. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Songgon. BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Licin dan Songgon. BLITAR 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Binangun, Panggungrejo, Selopuro, Wates, dan Wonotirto. BLITAR 51 - 100 mm Sebagian: Garum, Nglegok, dan Talun. BLITAR 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kademangan, Sutojayan, dan Wonodadi. BLITAR 51 - 100 mm Seluruh: Kanigoro, Ponggok, Sanankulon, Srengat, dan Udanawu. BLITAR 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sutojayan dan Wonodadi. BLITAR 101 - 150 mm Sebagian: Kademangan. BLITAR 101 - 150 mm Sebagian Besar: Binangun, Garum, Nglegok, Panggungrejo, Selopuro, Talun, Wates, dan Wonotirto. BLITAR 101 - 150 mm Seluruh: Bakung, Doko, Gandusari, Kesamben, Selorejo, dan Wlingi. BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kedungadem, Sugihwaras, dan Sukosewu. BOJONEGORO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balen, Bubulan, Dander, Kanor, Kapas, Kepoh Baru, Margomulyo, Ngraho, Sumberejo, dan Temayang. BOJONEGORO 51 - 100 mm Seluruh: Baureno, Bojonegoro, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kasiman, Kedewan, Malo, Ngambon, Ngasem, Padangan, Purwosari, Sekar, Tambakrejo, dan Trucuk. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bubulan, Dander, Kanor, Kapas, dan Ngraho. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian: Balen, Kepoh Baru, Margomulyo, Sumberejo, dan Temayang. BOJONEGORO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kedungadem, Sugihwaras, dan Sukosewu. BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Botolinggo, Klabang, dan Pakem. BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Cermee, Prajekan, dan Wringin. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sukosari, Sumber Wringin, dan Tlogosari. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Cermee, Prajekan, Pujer, Sempol, Tamanan, dan Wringin. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Botolinggo, Jambesari Darus Sholah, Klabang, Maesan, Pakem, Tapen, dan Wonosari. BONDOWOSO 51 - 100 mm Seluruh: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Grujugan, Taman Krocok, Tegalampel, dan Tenggarang. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Cermee, Maesan, Tapen, dan Wonosari. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Botolinggo, Jambesari Darus Sholah, dan Sempol. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pujer, Sukosari, Sumber Wringin, Tamanan, dan Tlogosari. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sumber Wringin dan Tlogosari. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian: Sempol. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sempol. GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Balongpanggang, Dukun, dan Ujungpangkah. GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Benjeng, Bungah, Duduksampeyan, dan Sidayu. GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Cerme, Driyorejo, Gresik, Kebomas, Kedamean, Manyar, Menganti, dan Wringinanom. GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Benjeng, Bungah, dan Duduksampeyan. GRESIK 51 - 100 mm Sebagian: Sidayu. GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balongpanggang, Dukun, dan Ujungpangkah. GRESIK 51 - 100 mm Seluruh: Panceng, Sangkapura, dan Tambak. JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Balung dan Kencong. JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Puger dan Wuluhan. JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ledokombo, Silo, Sukowono, dan Sumber Baru. JEMBER 51 - 100 mm Sebagian: Kalisat, Panti, Patrang, Puger, dan Sukorambi. JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Besar: Balung, Bangsalsari, Jelbuk, Kaliwates, Kencong, Mayang, Semboro, Sumbersari, Tanggul, Tempurejo, dan Wuluhan. JEMBER 51 - 100 mm Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Gumuk Mas, Jenggawah, Jombang, Mumbulsari, Pakusari, Rambipuji, dan Umbulsari. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bangsalsari, Jelbuk, Semboro, dan Sumbersari. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian: Kaliwates, Mayang, Puger, Tanggul, dan Tempurejo. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kalisat, Ledokombo, Panti, Patrang, Silo, Sukorambi, Sukowono, Sumber Baru, dan Sumberjambe. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ledokombo, Puger, Silo, dan Sumberjambe. JOMBANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kesamben. JOMBANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kesamben, Plandaan, dan Wonosalam. JOMBANG 51 - 100 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Ploso, Sumobito, dan Tembelang. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Plandaan dan Wonosalam. KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Mojo. KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian: Banyakan, Kepung, Kras, Puncu, dan Semen. KEDIRI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Grogol, Kandangan, Ngadiluwih, Ngancar, Plosoklaten, dan Tarokan. KEDIRI 51 - 100 mm Seluruh: Badas, Gampengrejo, Gurah, Kandat, Kayen Kidul, Kunjang, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Purwoasri, Ringinrejo, dan Wates. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ngadiluwih dan Tarokan. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian: Banyakan, Grogol, Kandangan, Ngancar, Plosoklaten, dan Semen. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kepung, Kras, Mojo, dan Puncu. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Banyakan. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian: Mojo dan Semen. KOTA BATU 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Batu. KOTA BATU 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bumiaji dan Junrejo. KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian: Bumiaji dan Junrejo. KOTA BATU 101 - 150 mm Sebagian Besar: Batu. KOTA BLITAR 51 - 100 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. KOTA KEDIRI 51 - 100 mm Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren. KOTA MADIUN 51 - 100 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman. KOTA MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kedungkandang dan Sukun. KOTA MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Blimbing dan Lowokwaru. KOTA MALANG 101 - 150 mm Sebagian: Blimbing dan Lowokwaru. KOTA MALANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kedungkandang dan Sukun. KOTA MALANG 101 - 150 mm Seluruh: Klojen. KOTA MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Prajurit Kulon. KOTA MOJOKERTO 21 - 50 mm Seluruh: Magersari. KOTA MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bugulkidul dan Purworejo. KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Panggungrejo. KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Panggungrejo. KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bugulkidul dan Purworejo. KOTA PASURUAN 21 - 50 mm Seluruh: Gadingrejo. KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Wonoasih. KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, dan Mayangan. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Wonoasih. KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gunung Anyar, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo. LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Deket, Karang Geneng, Karangbinangun, dan Laren. LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian: Brondong dan Sarirejo. LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Glagah, Paciran, dan Solokuro. LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bluluk, Paciran, dan Sukorame. LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian: Glagah, Kedungpring, Modo, Ngimbang, dan Solokuro. LAMONGAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Brondong, Deket, Karang Geneng, Karangbinangun, Laren, Sambeng, Sarirejo, dan Sugio. LAMONGAN 51 - 100 mm Seluruh: Babat, Kalitengah, Kembangbahu, Lamongan, Maduran, Mantup, Pucuk, Sekaran, Sukodadi, Tikung, dan Turi. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sambeng dan Sugio. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bluluk, Kedungpring, Modo, Ngimbang, dan Sukorame. LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ranuyoso. LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Jatiroto, Tekung, dan Yosowilangun. LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Rowokangkung. LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Rowokangkung, Senduro, dan Sumbersuko. LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian: Gucialit dan Padang. LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Jatiroto, Kedungjajang, Kunir, Lumajang, Ranuyoso, Sukodono, Tekung, dan Yosowilangun. LUMAJANG 101 - 150 mm Seluruh: Klakah dan Randuagung. LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kedungjajang, Lumajang, Pasrujambe, Sukodono, dan Tekung. LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian: Kunir, Padang, dan Senduro. LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Gucialit, Sumbersuko, dan Tempeh. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pronojiwo dan Sumbersuko. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian: Candipuro, Gucialit, Padang, dan Tempeh. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pasirian, Pasrujambe, dan Senduro. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Pasirian, Pasrujambe, dan Tempursari. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian: Candipuro dan Pronojiwo. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Candipuro. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Pronojiwo dan Tempursari. MADIUN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dagangan, Dolopo, Jiwan, dan Kebonsari. MADIUN 51 - 100 mm Seluruh: Balerejo, Geger, Gemarang, Kare, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu. MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Dagangan, Dolopo, dan Jiwan. MADIUN 101 - 150 mm Sebagian: Kebonsari. MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Barat, Bendo, Maospati, dan Parang. MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian: Kartoharjo. MAGETAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Takeran. MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian: Takeran. MAGETAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Barat, Bendo, Kartoharjo, Maospati, dan Parang. MAGETAN 101 - 150 mm Seluruh: Karangrejo, Karas, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo, dan Sukomoro. MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dau, Kasembon, Pujon, Tajinan, dan Wajak. MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Poncokusumo. MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Jabung, Karangploso, Pakis, dan Tumpang. MALANG 51 - 100 mm Seluruh: Lawang dan Singosari. MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Donomulyo, Gondanglegi, Karangploso, Pagak, Pakis, dan Turen. MALANG 101 - 150 mm Sebagian: Jabung, Poncokusumo, Tumpang, dan Wajak. MALANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bululawang, Dau, Kalipare, Kasembon, Kepanjen, Pujon, dan Tajinan. MALANG 101 - 150 mm Seluruh: Kromengan, Ngajum, Ngantang, Pakisaji, Sumber Pucung, Wagir, dan Wonosari. MALANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bululawang, Dampit, dan Sumbermanjing. MALANG 151 - 200 mm Sebagian: Gedangan, Kalipare, Kepanjen, Poncokusumo, dan Wajak. MALANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bantur, Donomulyo, Gondanglegi, Pagak, dan Turen. MALANG 151 - 200 mm Seluruh: Pagelaran. MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Bantur, Poncokusumo, dan Turen. MALANG 201 - 300 mm Sebagian: Ampelgading dan Wajak. MALANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Dampit, Gedangan, Sumbermanjing, dan Tirto Yudo. MALANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Dampit dan Gedangan. MALANG 301 - 400 mm Sebagian: Sumbermanjing dan Tirto Yudo. MALANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Ampelgading. MALANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Ampelgading. MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dawar Blandong, Kemlagi, Trawas, dan Trowulan. MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian: Gondang, Jatirejo, dan Sooko. MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gedek, Jetis, Kutorejo, Ngoro, Pungging, dan Puri. MOJOKERTO 21 - 50 mm Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Mojoanyar, dan Mojosari. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Gedek, Kutorejo, Ngoro, dan Pungging. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian: Jetis dan Puri. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dawar Blandong, Gondang, Jatirejo, Kemlagi, Sooko, Trawas, dan Trowulan. MOJOKERTO 51 - 100 mm Seluruh: Pacet. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jatirejo. NGANJUK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Lengkong, Loceret, Ngetos, Rejoso, dan Sawahan. NGANJUK 51 - 100 mm Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Nganjuk, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Lengkong, Rejoso, dan Sawahan. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian: Loceret dan Ngetos. NGAWI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pitu. NGAWI 51 - 100 mm Sebagian: Ngawi. NGAWI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kwadungan. NGAWI 51 - 100 mm Seluruh: Bringin, Karangjati, Kasreman, Padas, dan Pangkur. NGAWI 101 - 150 mm Sebagian: Kwadungan. NGAWI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Ngawi dan Pitu. NGAWI 101 - 150 mm Seluruh: Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Kedunggalar, Kendal, Mantingan, Ngrambe, Paron, Sine, dan Widodaren. PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bandar dan Tegalombo. PACITAN 51 - 100 mm Sebagian: Nawangan. PACITAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kebonagung. PACITAN 101 - 150 mm Sebagian: Ngadirojo dan Pringkuku. PACITAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Arjosari, Bandar, Nawangan, Punung, Tegalombo, dan Tulakan. PACITAN 101 - 150 mm Seluruh: Donorojo. PACITAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Punung dan Tulakan. PACITAN 151 - 200 mm Sebagian: Arjosari, Pacitan, dan Sudimoro. PACITAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kebonagung, Ngadirojo, dan Pringkuku. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kebonagung, Ngadirojo, dan Pringkuku. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pacitan dan Sudimoro. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pakong, Palengaan, Pegantenan, dan Proppo. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian: Tlanakan dan Waru. PAMEKASAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kadur, Pamekasan, dan Pasean. PAMEKASAN 21 - 50 mm Seluruh: Galis, Larangan, dan Pademawu. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kadur, Pamekasan, dan Pasean. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Pakong, Palengaan, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru. PAMEKASAN 51 - 100 mm Seluruh: Batu Marmar. PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Nguling, Rejoso, dan Winongan. PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian: Grati dan Lekok. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Puspo dan Sukorejo. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Kejayan, Pandaan, Pasrepan, dan Wonorejo. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gempol, Grati, Lekok, Lumbang, Nguling, Rejoso, Rembang, dan Winongan. PASURUAN 21 - 50 mm Seluruh: Bangil, Beji, Gondang Wetan, Kraton, dan Pohjentrek. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Lumbang dan Rembang. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Gempol. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kejayan, Pandaan, Pasrepan, Puspo, Sukorejo, Tosari, Tutur, dan Wonorejo. PASURUAN 51 - 100 mm Seluruh: Prigen, Purwodadi, dan Purwosari. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Tosari dan Tutur. PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngrayun dan Pulung. PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian: Ngebel dan Sawoo. PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Babadan, Bungkal, Jenangan, Mlarak, Sambit, Sampung, Siman, Slahung, dan Sukorejo. PONOROGO 51 - 100 mm Seluruh: Badegan, Balong, Jambon, Jetis, Kauman, dan Ponorogo. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Babadan, Bungkal, Mlarak, Sampung, Siman, dan Slahung. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian: Jenangan, Sambit, dan Sukorejo. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Ngebel, Ngrayun, Pulung, dan Sawoo. PONOROGO 101 - 150 mm Seluruh: Pudak dan Sooko. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ngrayun. PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kraksaan, Krejengan, dan Pajarakan. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Besuk, Dringu, Pakuniran, dan Sukapura. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Gending, Maron, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Lumbang, dan Pajarakan. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Paiton, Sumberasih, dan Tongas. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kotaanyar dan Kraksaan. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Krejengan, Krucil, Lumbang, Sumber, dan Tiris. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Banyuanyar, Besuk, Dringu, Gading, Gending, Kuripan, Maron, Pakuniran, Sukapura, Tegalsiwalan, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Seluruh: Bantaran dan Leces. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Gading, Kuripan, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Sukapura. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Krucil, Sumber, dan Tiris. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sukapura dan Sumber. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Sumber. SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Sreseh. SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian: Ketapang. SAMPANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ketapang dan Sreseh. SAMPANG 51 - 100 mm Seluruh: Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Tambelangan, dan Torjun. SIDOARJO 21 - 50 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu. SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Banyuputih, Besuki, Mlandingan, dan Panji. SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian: Kapongan dan Suboh. SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Mangaran. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Mangaran dan Sumbermalang. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mlandingan, Panji, dan Suboh. SITUBONDO 21 - 50 mm Seluruh: Banyuglugur, Jangkar, Panarukan, dan Situbondo. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Bungatan, dan Kendit. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian: Arjasa, Jatibanteng, dan Mlandingan. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Sumbermalang. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Arjasa. SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian: Masalembu. SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Besar: Guluk Guluk dan Raas. SUMENEP 21 - 50 mm Seluruh: Ambunten, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, dan Talango. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Guluk Guluk dan Raas. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Kangayan. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Masalembu. SUMENEP 51 - 100 mm Seluruh: Sapeken. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kangayan. SUMENEP 101 - 150 mm Seluruh: Arjasa. TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bendungan, Suruh, Tugu, dan Watulimo. TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Pogalan. TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Gandusari, Karangan, dan Trenggalek. TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gandusari. TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian: Karangan, Panggul, dan Trenggalek. TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bendungan, Munjungan, Pogalan, Suruh, Tugu, dan Watulimo. TRENGGALEK 101 - 150 mm Seluruh: Dongko, Durenan, Kampak, dan Pule. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian: Munjungan. TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Panggul. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Panggul. TUBAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Singgahan. TUBAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Bangilan, Grabagan, Kerek, Montong, Parengan, Rengel, Senori, dan Soko. TUBAN 51 - 100 mm Seluruh: Bancar, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Merakurak, Palang, Plumpang, Semanding, Tambakboyo, Tuban, dan Widang. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Grabagan, Kerek, Parengan, dan Soko. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian: Bangilan, Montong, Rengel, dan Senori. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Singgahan. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bandung, Boyolangu, Sendang, dan Sumbergempol. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian: Kalidawir, Kauman, dan Pucang Laban. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Karangrejo, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Seluruh: Rejotangan. TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kedungwaru dan Ngunut. TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Sebagian: Karangrejo, Ngantru, Sendang, Tanggung Gunung, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bandung, Besuki, Boyolangu, Campur Darat, Kalidawir, Kauman, Pager Wojo, Pakel, Pucang Laban, dan Sumbergempol. TULUNGAGUNG 101 - 150 mm Seluruh: Gondang. TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Bandung, Besuki, Kalidawir, dan Pakel. TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian: Campur Darat dan Pager Wojo. TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Sendang dan Tanggung Gunung.
( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan SEPTEMBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juli Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan SEPTEMBER ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III SEPTEMBER dan berakhir pada Dasarian I Oktober.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.