Berkisar antara 30 – 908 mm untuk prediksi jumlah curah hujan untuk bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juli Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur
Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Agustus Tahun 2025 dapat diprediksikan curah hujan pada bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juli Tahun 2025 di wilayah Provinsi Jawa Timur sebagai berikut :
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN - Tabel
-
KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardCari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di KeyboardBANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Blega dan Labang. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian: Kamal. BANGKALAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Modung. BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Tanah Merah. BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian: Burneh dan Modung. BANGKALAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bangkalan, Blega, Galis, Kamal, Kokop, Konang, Labang, Tanjungbumi, dan Tragah. BANGKALAN 151 - 200 mm Seluruh: Kwanyar dan Socah. BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Konang dan Tragah. BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian: Bangkalan, Galis, Kokop, dan Tanjungbumi. BANGKALAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Arosbaya, Burneh, Geger, Klampis, dan Tanah Merah. BANGKALAN 201 - 300 mm Seluruh: Sepulu. BANGKALAN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Arosbaya, Geger, dan Klampis. BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Wongsorejo. BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Wongsorejo. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bangorejo, Cluring, Muncar, Rogojampi, dan Singojuruh. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Kalipuro, Tegaldlimo, dan Wongsorejo. BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Purwoharjo. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gambiran, Licin, Pesanggaran, Songgon, dan Wongsorejo. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Cluring, Glagah, Kalipuro, Purwoharjo, Siliragung, dan Singojuruh. BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Giri, Kabat, Muncar, Rogojampi, Srono, dan Tegaldlimo. BANYUWANGI 151 - 200 mm Seluruh: Banyuwangi. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Glenmore, Kabat, Kalibaru, dan Purwoharjo. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian: Bangorejo, Cluring, Giri, Kalipuro, Songgon, dan Srono. BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gambiran, Genteng, Glagah, Licin, Pesanggaran, Sempu, Siliragung, Singojuruh, dan Tegalsari. BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Glagah, Licin, Pesanggaran, Siliragung, dan Tegalsari. BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian: Genteng dan Sempu. BANYUWANGI 301 - 400 mm Sebagian Besar: Glenmore, Kalibaru, dan Songgon. BANYUWANGI 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Glenmore. BLITAR 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ponggok dan Wonodadi. BLITAR 151 - 200 mm Sebagian: Srengat dan Udanawu. BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Doko, Gandusari, dan Wlingi. BLITAR 201 - 300 mm Sebagian: Garum. BLITAR 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kesamben, Nglegok, Ponggok, Selopuro, Selorejo, Srengat, Talun, Udanawu, Wates, dan Wonodadi. BLITAR 201 - 300 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Kademangan, Kanigoro, Panggungrejo, Sanankulon, Sutojayan, dan Wonotirto. BLITAR 301 - 400 mm Sebagian: Gandusari, Kesamben, Nglegok, Selopuro, Selorejo, Talun, dan Wates. BLITAR 301 - 400 mm Sebagian Besar: Doko, Garum, dan Wlingi. BLITAR 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Garum dan Wlingi. BLITAR 401 - 500 mm Sebagian: Gandusari. BLITAR > 500 mm Sebagian Kecil: Gandusari. BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Balen, Bojonegoro, Dander, Kalitidu, dan Ngasem. BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian: Kepoh Baru. BOJONEGORO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Baureno dan Kanor. BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Baureno. BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian: Kanor. BOJONEGORO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Balen, Bojonegoro, Dander, Kalitidu, Kepoh Baru, dan Ngasem. BOJONEGORO 201 - 300 mm Seluruh: Bubulan, Gayam, Gondang, Kapas, Kasiman, Kedewan, Kedungadem, Malo, Margomulyo, Ngambon, Ngraho, Padangan, BOJONEGORO 201 - 300 mm Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Prajekan. BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Cermee. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Sempol dan Wringin. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Botolinggo, Cermee, dan Klabang. BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Prajekan. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Curah Dami, Prajekan, dan Tapen. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian: Bondowoso, Botolinggo, Cermee, Pakem, Sempol, dan Taman Krocok. BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Binakal, Klabang, Tegalampel, dan Wringin. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Cermee, Klabang, dan Tegalampel. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian: Binakal, Botolinggo, dan Sempol. BONDOWOSO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bondowoso, Curah Dami, Pakem, Sumber Wringin, Taman Krocok, Tapen, dan Tlogosari. BONDOWOSO 201 - 300 mm Seluruh: Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Maesan, Pujer, Sukosari, Tamanan, Tenggarang, dan Wonosari. BONDOWOSO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Sempol, Sumber Wringin, dan Tlogosari. GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Bungah. GRESIK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Balongpanggang, Duduksampeyan, dan Manyar. GRESIK 101 - 150 mm Seluruh: Benjeng, Cerme, Driyorejo, Gresik, Kebomas, Kedamean, Menganti, dan Wringinanom. GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Duduksampeyan dan Manyar. GRESIK 151 - 200 mm Sebagian: Balongpanggang. GRESIK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bungah. GRESIK 151 - 200 mm Seluruh: Dukun, Panceng, Sidayu, dan Ujungpangkah. GRESIK 201 - 300 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak. JEMBER 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Puger dan Wuluhan. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jombang, Silo, dan Umbulsari. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian: Balung, Puger, dan Tempurejo. JEMBER 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ambulu, Gumuk Mas, Kencong, dan Wuluhan. JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Ambulu, Gumuk Mas, Sumber Baru, dan Wuluhan. JEMBER 201 - 300 mm Sebagian: Kencong, Puger, Sumberjambe, dan Tanggul. JEMBER 201 - 300 mm Sebagian Besar: Balung, Bangsalsari, Jombang, Ledokombo, Panti, Semboro, Silo, Sukowono, Tempurejo, dan Umbulsari. JEMBER 201 - 300 mm Seluruh: Ajung, Arjasa, Jelbuk, Jenggawah, Kalisat, Kaliwates, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Patrang, Rambipuji, Sukorambi, dan Sumbersari. JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Bangsalsari, Jombang, Panti, Sukowono, dan Tempurejo. JEMBER 301 - 400 mm Sebagian: Ledokombo, Puger, Semboro, dan Silo. JEMBER 301 - 400 mm Sebagian Besar: Sumber Baru, Sumberjambe, dan Tanggul. JEMBER 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Sumber Baru. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jogo Roto. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian: Kesamben dan Mojowarno. JOMBANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Mojoagung dan Sumobito. JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian: Kudu, Mojoagung, Sumobito, dan Wonosalam. JOMBANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bareng, Jogo Roto, Kabuh, Kesamben, Mojowarno, Ngoro, Plandaan, Ploso, dan Tembelang. JOMBANG 151 - 200 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Diwek, Gudo, Jombang, Megaluh, Ngusikan, Perak, dan Peterongan. JOMBANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kabuh, Kesamben, Ngoro, dan Tembelang. JOMBANG 201 - 300 mm Sebagian: Bareng, Plandaan, dan Ploso. JOMBANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kudu dan Wonosalam. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gampengrejo, Kras, Ngasem, Plemahan, Purwoasri, dan Ringinrejo. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian: Kayen Kidul dan Ngadiluwih. KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kandat dan Papar. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kepung, Mojo, Ngancar, Papar, Plosoklaten, Puncu, dan Semen. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian: Banyakan, Kandangan, Kandat, dan Kras. KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kayen Kidul, Ngadiluwih, Ngasem, Pare, Plemahan, Purwoasri, Ringinrejo, Tarokan, dan Wates. KEDIRI 151 - 200 mm Seluruh: Badas, Kunjang, dan Pagu. KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gurah, Ngadiluwih, Pare, dan Ringinrejo. KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian: Banyakan, Grogol, Mojo, Semen, Tarokan, dan Wates. KEDIRI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kandangan, Kepung, Kras, Ngancar, Plosoklaten, dan Puncu. KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Banyakan, Kepung, Ngancar, Plosoklaten, dan Puncu. KEDIRI 301 - 400 mm Sebagian: Mojo dan Semen. KEDIRI 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Mojo. KOTA BATU 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Batu dan Junrejo. KOTA BATU 201 - 300 mm Sebagian Besar: Batu dan Junrejo. KOTA BATU 201 - 300 mm Seluruh: Bumiaji. KOTA BLITAR 201 - 300 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo. KOTA KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pesantren. KOTA KEDIRI 101 - 150 mm Sebagian: Kota Kediri dan Mojoroto. KOTA KEDIRI 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren. KOTA MADIUN 151 - 200 mm Sebagian: Kartoharjo dan Mangu Harjo. KOTA MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Taman. KOTA MADIUN 201 - 300 mm Sebagian: Taman. KOTA MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kartoharjo dan Mangu Harjo. KOTA MALANG 201 - 300 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun. KOTA MOJOKERTO 101 - 150 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon. KOTA PASURUAN 51 - 100 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Mayangan. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Kanigaran dan Kedopok. KOTA PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Kademangan. KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kademangan. KOTA PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kanigaran, Kedopok, Mayangan, dan Wonoasih. KOTA PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian: Wonoasih. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Tenggilis Mejoyo dan Wonocolo. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian: Rungkut. KOTA SURABAYA 51 - 100 mm Sebagian Besar: Gunung Anyar. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gunung Anyar. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Sebagian Besar: Rungkut, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo. KOTA SURABAYA 101 - 150 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Jambangan, Karang Pilang, Kenjeran, Krembangan, Lakarsantri, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Wiyung, dan Wonokromo. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Mantup, Paciran, Sarirejo, dan Solokuro. LAMONGAN 101 - 150 mm Sebagian: Brondong dan Glagah. LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Modo dan Ngimbang. LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian: Kedungpring. LAMONGAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Brondong, Glagah, Laren, Maduran, Mantup, Paciran, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, dan Sugio. LAMONGAN 151 - 200 mm Seluruh: Babat, Deket, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, Kembangbahu, Lamongan, Pucuk, Sukodadi, Tikung, dan Turi. LAMONGAN 201 - 300 mm Sebagian: Laren, Maduran, Sambeng, Sekaran, dan Sugio. LAMONGAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kedungpring, Modo, dan Ngimbang. LAMONGAN 201 - 300 mm Seluruh: Bluluk dan Sukorame. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jatiroto, Lumajang, dan Ranuyoso. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian: Tekung. LUMAJANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Rowokangkung dan Yosowilangun. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Rowokangkung dan Tempeh. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian: Gucialit, Klakah, Padang, Senduro, Sumbersuko, dan Yosowilangun. LUMAJANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Jatiroto, Kedungjajang, Kunir, Lumajang, Randuagung, Ranuyoso, dan Tekung. LUMAJANG 301 - 400 mm Seluruh: Sukodono. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Kedungjajang, Kunir, Lumajang, Pasirian, dan Randuagung. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian: Pasrujambe, Ranuyoso, dan Senduro. LUMAJANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Gucialit, Klakah, Padang, Sumbersuko, dan Tempeh. LUMAJANG > 500 mm Sebagian Kecil: Gucialit, Padang, dan Tempeh. LUMAJANG > 500 mm Sebagian: Senduro. LUMAJANG > 500 mm Sebagian Besar: Pasirian dan Pasrujambe. LUMAJANG > 500 mm Seluruh: Candipuro, Pronojiwo, dan Tempursari. MADIUN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gemarang dan Kare. MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Jiwan dan Madiun. MADIUN 151 - 200 mm Sebagian: Wonoasri. MADIUN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Geger, Gemarang, Kare, Mejayan, Saradan, dan Wungu. MADIUN 151 - 200 mm Seluruh: Dagangan, Dolopo, dan Kebonsari. MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Geger, Kare, dan Wungu. MADIUN 201 - 300 mm Sebagian: Mejayan dan Saradan. MADIUN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Jiwan, Madiun, dan Wonoasri. MADIUN 201 - 300 mm Seluruh: Balerejo, Pilangkenceng, dan Sawahan. MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Takeran. MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian: Kawedanan dan Parang. MAGETAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Lembeyan dan Nguntoronadi. MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Lembeyan. MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian: Nguntoronadi. MAGETAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Kawedanan, Parang, dan Takeran. MAGETAN 201 - 300 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Panekan, Plaosan, Poncol, Sidorejo, dan Sukomoro. MALANG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Donomulyo, Pagak, dan Turen. MALANG 201 - 300 mm Sebagian: Pagelaran, Poncokusumo, dan Wajak. MALANG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Gondanglegi, Kalipare, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngantang, Singosari, Sumber Pucung, dan Wonosari. MALANG 201 - 300 mm Seluruh: Bululawang, Dau, Jabung, Karangploso, Kasembon, Ngajum, Pakis, Pakisaji, Pujon, Tajinan, Tumpang, dan Wagir. MALANG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Kepanjen, Kromengan, Lawang, Singosari, Sumbermanjing, dan Tirto Yudo. MALANG 301 - 400 mm Sebagian: Dampit, Gondanglegi, Kalipare, Ngantang, Poncokusumo, Sumber Pucung, dan Wonosari. MALANG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Donomulyo, Gedangan, Pagak, Pagelaran, Turen, dan Wajak. MALANG 301 - 400 mm Seluruh: Bantur. MALANG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Ampelgading, Ngantang, Poncokusumo, dan Wajak. MALANG 401 - 500 mm Sebagian: Dampit, Gedangan, dan Tirto Yudo. MALANG 401 - 500 mm Sebagian Besar: Sumbermanjing. MALANG > 500 mm Sebagian Kecil: Dampit, Poncokusumo, dan Sumbermanjing. MALANG > 500 mm Sebagian Besar: Ampelgading dan Tirto Yudo. MOJOKERTO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngoro. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gondang dan Trawas. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian: Jatirejo dan Kemlagi. MOJOKERTO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Dawar Blandong, Kutorejo, Ngoro, Pungging, dan Trowulan. MOJOKERTO 101 - 150 mm Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gedek, Jetis, Mojoanyar, Mojosari, Puri, dan Sooko. MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kutorejo, Ngoro, Pungging, dan Trowulan. MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian: Dawar Blandong, Gondang, Jatirejo, dan Pacet. MOJOKERTO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Kemlagi dan Trawas. MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jatirejo dan Trawas. MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian: Gondang. MOJOKERTO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pacet. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Berbek, Kertosono, Loceret, Prambon, dan Rejoso. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian: Bagor dan Sukomoro. NGANJUK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Nganjuk dan Ngronggot. NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Nganjuk. NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian: Loceret, Ngetos, Ngluyu, dan Ngronggot. NGANJUK 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bagor, Berbek, Kertosono, Lengkong, Pace, Prambon, Rejoso, Sawahan, dan Sukomoro. NGANJUK 151 - 200 mm Seluruh: Baron, Gondang, Jatikalen, Patianrowo, Tanjunganom, dan Wilangan. NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Lengkong dan Pace. NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian: Loceret, Rejoso, dan Sawahan. NGANJUK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ngetos dan Ngluyu. NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kedunggalar, Pitu, dan Sine. NGAWI 201 - 300 mm Sebagian: Jogorogo. NGAWI 201 - 300 mm Sebagian Besar: Ngawi dan Paron. NGAWI 201 - 300 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Karangjati, Kasreman, Kendal, Kwadungan, Padas, dan Pangkur. NGAWI 301 - 400 mm Sebagian: Ngawi dan Paron. NGAWI 301 - 400 mm Sebagian Besar: Jogorogo, Kedunggalar, Pitu, dan Sine. NGAWI 301 - 400 mm Seluruh: Karanganyar, Mantingan, Ngrambe, dan Widodaren. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Arjosari. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian: Tegalombo. PACITAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bandar dan Nawangan. PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Nawangan dan Ngadirojo. PACITAN 301 - 400 mm Sebagian: Bandar dan Tulakan. PACITAN 301 - 400 mm Sebagian Besar: Arjosari, Kebonagung, dan Tegalombo. PACITAN 301 - 400 mm Seluruh: Donorojo, Pacitan, Pringkuku, dan Punung. PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Sudimoro. PACITAN 401 - 500 mm Sebagian: Kebonagung. PACITAN 401 - 500 mm Sebagian Besar: Ngadirojo dan Tulakan. PACITAN > 500 mm Sebagian Kecil: Ngadirojo. PACITAN > 500 mm Sebagian Besar: Sudimoro. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kadur dan Pamekasan. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian: Pademawu. PAMEKASAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Larangan. PAMEKASAN 51 - 100 mm Seluruh: Galis. PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian: Larangan, Pakong, dan Waru. PAMEKASAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kadur, Pademawu, Palengaan, Pamekasan, Pasean, dan Pegantenan. PAMEKASAN 101 - 150 mm Seluruh: Proppo dan Tlanakan. PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Kadur dan Palengaan. PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian: Pasean dan Pegantenan. PAMEKASAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Pakong dan Waru. PAMEKASAN 151 - 200 mm Seluruh: Batu Marmar. PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Grati dan Lekok. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kejayan, Lumbang, Pandaan, dan Pasrepan. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian: Gempol dan Rembang. PASURUAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Beji, Gondang Wetan, Grati, Kraton, Lekok, Nguling, dan Winongan. PASURUAN 51 - 100 mm Seluruh: Bangil, Pohjentrek, dan Rejoso. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Gondang Wetan, Grati, Nguling, dan Puspo. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian: Beji, Kraton, Pasrepan, Purwosari, dan Winongan. PASURUAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Gempol, Kejayan, Lumbang, Pandaan, Rembang, Sukorejo, dan Wonorejo. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Gempol, Lumbang, Purwodadi, Tosari, Tutur, dan Wonorejo. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian: Kejayan, Pandaan, Pasrepan, Purwosari, dan Sukorejo. PASURUAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Prigen dan Puspo. PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pasrepan dan Purwosari. PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian: Prigen dan Puspo. PASURUAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Purwodadi, Tosari, dan Tutur. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Balong, Jenangan, Kauman, Sawoo, dan Sukorejo. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian: Babadan, Jetis, dan Sambit. PONOROGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Mlarak, Ponorogo, dan Siman. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Ponorogo dan Sooko. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian: Mlarak, Pulung, Sambit, Sawoo, Siman, dan Slahung. PONOROGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Ngebel, Sampung, dan Sukorejo. PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jenangan dan Sampung. PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian: Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Ngebel, Ngrayun, dan Sambit. PONOROGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Pudak, Pulung, Sawoo, Slahung, dan Sooko. PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Pudak dan Slahung. PONOROGO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Ngrayun. PONOROGO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Ngrayun. PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kraksaan, Krejengan, Paiton, dan Pajarakan. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Maron, Tongas, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian: Krejengan. PROBOLINGGO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Paiton, Pajarakan, dan Sumberasih. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Besuk, Dringu, Maron, Pajarakan, Pakuniran, dan Sukapura. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian: Gending, Krejengan, Paiton, Sumberasih, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Kotaanyar, Kraksaan, Lumbang, dan Tongas. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Gading, Kotaanyar, Kraksaan, Sumber, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian: Krejengan, Leces, Lumbang, Maron, dan Sukapura. PROBOLINGGO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Bantaran, Besuk, Dringu, Gending, Kuripan, Pakuniran, dan Wonomerto. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Besuk dan Tiris. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian: Bantaran, Dringu, Gending, Krucil, Kuripan, Pakuniran, dan Sumber. PROBOLINGGO 201 - 300 mm Sebagian Besar: Banyuanyar, Gading, Leces, Maron, Sukapura, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Banyuanyar, Gading, Kuripan, Maron, Sukapura, dan Tegalsiwalan. PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian: Tiris. PROBOLINGGO 301 - 400 mm Sebagian Besar: Krucil dan Sumber. PROBOLINGGO 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Krucil dan Sumber. PROBOLINGGO 401 - 500 mm Sebagian: Tiris. PROBOLINGGO > 500 mm Sebagian Kecil: Tiris. SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jrengik, Karang Penang, dan Kedungdung. SAMPANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Omben, Pangarengan, Sampang, Sreseh, dan Torjun. SAMPANG 101 - 150 mm Seluruh: Camplong. SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sampang. SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian: Omben, Pangarengan, Sreseh, dan Torjun. SAMPANG 151 - 200 mm Sebagian Besar: Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, dan Robatal. SAMPANG 151 - 200 mm Seluruh: Banyuates, Ketapang, Sokobanah, dan Tambelangan. SAMPANG 201 - 300 mm Sebagian: Robatal. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Krembung dan Taman. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian: Sidoarjo. SIDOARJO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Buduran, Candi, Gedangan, Porong, Sedati, Tanggulangin, dan Waru. SIDOARJO 51 - 100 mm Seluruh: Jabon. SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Porong, Sedati, Tanggulangin, dan Waru. SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian: Buduran, Candi, dan Gedangan. SIDOARJO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Krembung, Sidoarjo, dan Taman. SIDOARJO 101 - 150 mm Seluruh: Balong Bendo, Krian, Prambon, Sukodono, Tarik, Tulangan, dan Wonoayu. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Banyuputih, Panji, dan Suboh. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Kapongan. SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Mangaran. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Banyuglugur dan Bungatan. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian: Mangaran dan Mlandingan. SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Besuki, Kapongan, Kendit, Panji, Situbondo, dan Suboh. SITUBONDO 51 - 100 mm Seluruh: Jangkar dan Panarukan. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Situbondo, dan Sumbermalang. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian: Arjasa, Besuki, Kendit, Mlandingan, dan Suboh. SITUBONDO 101 - 150 mm Sebagian Besar: Banyuglugur, Bungatan, dan Jatibanteng. SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Arjasa, Banyuglugur, Kendit, dan Suboh. SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian: Jatibanteng dan Mlandingan. SITUBONDO 151 - 200 mm Sebagian Besar: Sumbermalang. SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Jatibanteng. SITUBONDO 201 - 300 mm Sebagian: Sumbermalang. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bluto, Gayam, dan Saronggi. SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Raas. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Kangayan, Masalembu, dan Raas. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian: Ambunten dan Rubaru. SUMENEP 101 - 150 mm Sebagian Besar: Bluto, Dasuk, Gayam, Guluk Guluk, Pasongsongan, Sapeken, dan Saronggi. SUMENEP 101 - 150 mm Seluruh: Batang Batang, Batuan, Batuputih, Dungkek, Ganding, Gapura, Giligenteng, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Nonggunong, Pragaan, dan Talango. SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Dasuk, Guluk Guluk, Pasongsongan, dan Raas. SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian: Sapeken. SUMENEP 151 - 200 mm Sebagian Besar: Ambunten, Kangayan, Masalembu, dan Rubaru. SUMENEP 151 - 200 mm Seluruh: Arjasa. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Gandusari. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian: Durenan, Pule, dan Suruh. TRENGGALEK 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bendungan, Karangan, dan Pogalan. TRENGGALEK 201 - 300 mm Seluruh: Trenggalek dan Tugu. TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Bendungan, Dongko, Karangan, dan Watulimo. TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian: Kampak, Pogalan, dan Pule. TRENGGALEK 301 - 400 mm Sebagian Besar: Durenan, Gandusari, dan Suruh. TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Suruh. TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian: Kampak, Panggul, Pule, dan Watulimo. TRENGGALEK 401 - 500 mm Sebagian Besar: Dongko. TRENGGALEK > 500 mm Sebagian: Dongko, Kampak, dan Watulimo. TRENGGALEK > 500 mm Sebagian Besar: Panggul. TRENGGALEK > 500 mm Seluruh: Munjungan. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Jenu, Merakurak, Palang, dan Semanding. TUBAN 101 - 150 mm Sebagian Besar: Tuban. TUBAN 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Singgahan dan Tuban. TUBAN 151 - 200 mm Sebagian: Bangilan dan Parengan. TUBAN 151 - 200 mm Sebagian Besar: Jenu, Kenduruan, Merakurak, Montong, Palang, Semanding, Soko, dan Widang. TUBAN 151 - 200 mm Seluruh: Bancar, Grabagan, Jatirogo, Kerek, Plumpang, Rengel, dan Tambakboyo. TUBAN 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Kenduruan, Montong, dan Soko. TUBAN 201 - 300 mm Sebagian: Widang. TUBAN 201 - 300 mm Sebagian Besar: Bangilan, Parengan, dan Singgahan. TUBAN 201 - 300 mm Seluruh: Senori. TULUNGAGUNG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Karangrejo. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Pakel, Sendang, dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian: Campur Darat dan Pager Wojo. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Sebagian Besar: Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, dan Kauman. TULUNGAGUNG 201 - 300 mm Seluruh: Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pucang Laban, Rejotangan, Sumbergempol, dan Tulungagung. TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Kecil: Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, dan Kauman. TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Sebagian Besar: Besuki, Campur Darat, Pager Wojo, Pakel, Sendang, dan Tanggung Gunung. TULUNGAGUNG 301 - 400 mm Seluruh: Bandung. TULUNGAGUNG 401 - 500 mm Sebagian Kecil: Besuki dan Sendang.
( Prediksi - Bulanan ) Curah Hujan Bulan OKTOBER Tahun 2025 - Update dari Analisis Bulan Juli Tahun 2025 di Provinsi Jawa Timur
Pendahuluan
Posisi Geografis Indonesia
Wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi dikarenakan posisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terletak di daerah tropis di antara Benua Asia dan Benua Australia serta di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Keragaman iklim Indonesia dipengaruhi oleh aktivitas terkait iklim antara lain fenomena global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, daerah pertemuan angin antar tropis atau Inter Tropical Convergence Zone (ITCZ), dan kondisi suhu permukaan laut sekitar wilayah Indonesia.
Posisi Geografis Indonesia yang strategis, terletak di daerah tropis, di antara Benua Asia dan Benua Australia, di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dilalui garis khatulistiwa, terdiri dari pulau dan kepulauan yang membujur dari barat ke timur, serta dikelilingi oleh luasnya lautan, menyebabkan wilayah Indonesia memiliki tingkat keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Pengendali Iklim di Indonesia
Indonesia, sebagai negara kepulauan yang terletak di daerah tropis antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Pasifik dan Hindia, memiliki keragaman cuaca dan iklim yang tinggi.
Hal ini dipengaruhi oleh interaksi berbagai fenomena iklim global dan regional, antara lain ENSO, IOD, Sirkulasi Monsun Asia-Australia, ITCZ dan Suhu Permukaan Laut Indonesia.
-
El Niño Southern Oscillation (ENSO)
El Niño Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena global dari sistem interaksi lautan atmosfer yang ditandai dengan adanya anomali suhu permukaan laut di wilayah Pasifik Tengah Ekuator.
Jika anomali suhu permukaan laut di daerah tersebut positif (lebih panas dari rata-ratanya) maka disebut El Niño , namun jika anomali suhu permukaan laut negatif disebut La Niña.
Pengaruh El Niño terhadap curah hujan di Indonesia ditentukan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah kondisi suhu perairan wilayah Indonesia.
El Niño berpengaruh terhadap pengurangan curah hujan secara signifikan bila bersamaan dengan kondisi suhu perairan Indonesia cukup dingin (anomali negatif).
Namun, bila kondisi suhu perairan lebih hangat (anomali positif), El Niño tidak signifikan memengaruhi curah hujan di Indonesia.
Sedangkan La Niña secara umum menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat apabila disertai dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan Indonesia.
Pengaruh El Niño dan La Niña juga tergantung musim.
Mengingat luasnya wilayah Indonesia, dampak El Niño / La Niña tidaklah merata atau seragam di seluruh wilayah.
La Niña (ketika suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator lebih dingin dari biasanya) dapat meningkatkan curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan lokal hangat.
Pengaruh ENSO bervariasi tergantung musim dan lokasi wilayah di Indonesia.
-
IOD positif (anomali suhu muka laut di perairan pantai timur Afrika lebih tinggi daripada perairan barat Sumatera) dapat mengurangi curah hujan di bagian barat Indonesia.
IOD negatif umumnya dapat meningkatkan curah hujan di bagian barat Indonesia.
Indian Ocean Dipole (IOD)
Indian Ocean Dipole (IOD) merupakan fenomena interaksi lautan – atmosfer di Samudera Hindia yang dimonitor melalui perhitungan perbedaan nilai antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika (West Tropical Indian Ocean, WTIO) dengan perairan di sebelah barat Sumatera (Southeast Tropical Indian Ocean, SETIO).
Perbedaan nilai anomali suhu muka laut dimaksud disebut sebagai Dipole Mode Index (DMI).
Kejadian IOD positif, umumnya berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia terutama di bagian barat.
Sedangkan nilai IOD negatif, berdampak terhadap meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
-
Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Angin monsun baratan (ketika tekanan udara di Asia lebih tinggi) berkaitan dengan musim hujan di Indonesia.
Angin monsun timuran/tenggara ( tekanan udara lebih tinggi di Australia) berasosiasi dengan musim kemarau di Indonesia.
Sirkulasi angin di Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di daratan Australia dan Asia.
Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun.
Akibatnya, sirkulasi angin di Indonesia berubah arahnya secara musiman, atau biasa disebut angin monsun.
Sirkulasi angin monsun ini mengalami perubahan arah setiap (kurang lebih) setengah tahun sekali.
Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan tinggi di Asia dan umumnya berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan tinggi di Australia dan biasanya berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
-
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter Tropical Convergence Zone/ITCZ)
ITCZ adalah daerah pertemuan angin di wilayah tropis yang memanjang dari barat ke timur, dan pergerakan utara-selatannya mengikuti pergerakan matahari.
ITCZ merupakan daerah tekanan rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi berubah mengikuti pergerakan semu matahari ke arah utara dan selatan garis khatulistiwa.
Daerah tekanan rendah ini menjadi pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan belahan bumi selatan.
Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan yang berpotensi hujan.
-
Suhu Permukaan Laut di Wilayah Perairan Indonesia
Kondisi suhu permukaan laut di wilayah perairan Indonesia dapat digunakan sebagai salah satu indikator banyak-sedikitnya kandungan uap air di atmosfer, dan erat kaitannya dengan proses pembentukan awan di atas wilayah Indonesia.
Jika suhu permukaan laut dingin, maka potensi kandungan uap air di atmosfer relatif sedikit.
Sebaliknya, panasnya suhu permukaan laut berpotensi menimbulkan relatif banyaknya uap air di atmosfer.
-
Keragaman Iklim Indonesia
Kondisi topografi wilayah Indonesia yang merupakan daerah pegunungan, berlembah, banyak pantai, merupakan faktor lokal yang dapat menambah beragamnya kondisi iklim di wilayah Indonesia, baik menurut ruang (wilayah) maupun waktu, yang menyebabkan wilayah Indonesia terbagi menjadi beberapa tipe zona musim.
Terkait kondisi tersebut, dalam penyampaian informasi Prediksi musim baik musim hujan dan musim kemarau, informasi yang disampaikan berbasis zona musim.
Zona musim yang saat ini digunakan merupakan hasil analisis data normal periode 1991 – 2020.
Informasi prediksi musim secara umum memiliki empat informasi penting meliputi awal musim, sifat hujan musim, puncak musim, durasi musim, perbandingan awal, puncak dan durasi terhadap normalnya
Istilah Dan Pengertian Dalam Prediksi Musim
Curah Hujan (mm)
Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.
Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.
-
Curah Hujan Kumulatif (mm)
Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.
Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).
-
Normal Curah Hujan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan
Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.
Provisional Normal Curah Hujan
Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.
Normal Curah Hujan Bulanan
Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.
Standar Normal Curah Hujan Bulanan
Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.
-
Zona Musim (ZOM)
Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.
Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.
Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.
Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.
Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:
Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.
Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:
- Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:
- Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
- Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
- Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
-
Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.
Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.
Tipe ini terdiri dari:
- Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
- Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
- Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
-
Penentuan Awal Musim
-
Awal Musim Kemarau ( AMK ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan < 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya < 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai Awal Musim Kemarau ( AMK ) ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama < 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut < 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMK ( Ilustrasi 2 ).
-
Awal Musim Hujan ( AMH ):
-
Jika terdapat satu dasarian dengan curah hujan ≥ 50 mm dan diikuti dengan dua dasarian berikutnya ≥ 50 mm, maka dasarian pertama ditetapkan sebagai AMH ( Ilustrasi 1 ).
-
Jika dasarian pertama ≥ 50 mm namun salah satu dari dua dasarian berikutnya <50 mm dan jumlah dari ketiga dasarian tersebut ≥ 150 mm, maka dasarian pertama ditentukan sebagai AMH ( Ilustrasi 2 ).
-
Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:
Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.
Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.
Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:
- Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
- Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
- Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.
-
-
Sifat Musim
Akumulasi curah hujan selama satu periode musim yang diprediksi dibandingkan dengan normalnya ( Atas Normal jika curah hujan > 115 %, Normal jika curah hujan 85 - 115 %, dan Bawah Normal jika curah hujan < 85 % )
Dasarian dan Indeks Dasarian:
Rentang waktu selama 10 hari.
Satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian:
-
Dasarian I: Tanggal 1 - 10
-
Dasarian II: Tanggal 11 - 20
-
Dasarian III: Tanggal 21 - akhir bulan
Sementara indeks dasarian adalah angka yang menentukan urutan dasarian dari Januari sampai Desember sehingga dalam satu tahun terdapat dasarian 1 hingga 36.
-
Sifat Hujan
Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).
Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:
- Atas Normal (AN):
Jika nilai curah hujan lebih dari 115 % terhadap rata- ratanya
- Normal (N):
Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya
- Bawah Normal (BN):
Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya
- Atas Normal (AN):
-
Puncak Musim Hujan
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi ( untuk musim hujan ) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
-
Periode bulan dengan curah hujan tertinggi (untuk musim hujan) atau terendah ( untuk musim kemarau ) selama tiga dasarian berturut-turut.
-
Apabila jumlah tertinggi atau terendah dari 3 dasarian masuk di kotak dasarian II atau III maka puncaknya di bulan yang sama ( contoh di atas puncak musim kemarau pada bulan OKTOBER ).
-
-
Puncak Musim Kemarau
Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.
Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.
Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.
-
Durasi Musim
merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.
Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.
-
Perbandingan Terhadap Normalnya
Awal dan puncak musim bisa maju (lebih awal) dari normal, sama dengan normal, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.
Durasi musim juga bisa lebih pendek, sama, atau lebih panjang dibandingkan normalnya.
Dilakukan untuk parameter Prediksi awal musim, puncak musim dan durasi musim
Masing - masing parameter Prediksi tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.
Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :
-
MAJU yaitu Prediksi datang lebih awal dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi datang sama dengan normalnya,
-
MUNDUR yaitu Prediksi datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.
Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :
-
LEBIH PENDEK yaitu Prediksi durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya
-
SAMA yaitu Prediksi durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya
-
LEBIH PANJANG yaitu Prediksi durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.
-
-
Satu Periode Musim
Jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim, dibagi dalam 11 kategori periode musim.
Contoh: ZOM 118 memasuki musim kemarau pada Dasarian III OKTOBER dan berakhir pada Dasarian I Oktober.
Maka durasi musim hujan di ZOM 118 adalah 11 dasarian ( 3,5 bulan )
Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).
Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).
-
Normal adalah istilah dalam klimatologi untuk kondisi rata-rata yang terjadi selama 30 tahun.