Jombang, 25 Januari 2024 – Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Operasional berlokasi di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Sedulur Tani Kabupaten Jombang dihadiri oleh 100 peserta, terdiri dari Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)/ PPOT dan petani di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, (Jombang, 25/01). SLI ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai informasi cuaca dan iklim demi meningkatkan produksi pertanian.
Acara ini dibuka oleh Anggota Komisi V DPR-RI Hj. Sadarestuwati, S.P., M.MA, serta dihadiri pula Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang Ir. Much. Rony, MM., Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumrambah,SP, M.AP, Koordinator MKG Provinsi Jawa Timur, dan para kepala UPT MKG di lingkungan Jawa Timur.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bapak Anung Suprayitno S.Si, M.Ling dalam sambutannya menyampaikan bahwa perubahan iklim semakin menimbulkan dampak yang merugikan dalam pertanian seperti 3 tahun terakhir, kemarin basah dan akhir 2023 menjadi kering. SLI di Jombang ini sudah diselenggarakan dari tahun 2011 yang mana nantinya akan diteruskan secara berkelanjutan. Bagaimana membaca, menginterpretasi, mengakses informasi iklim dan cuaca nanti akan disampaikan pada SLI ini. Tujuan penyelenggaraan SLI ini adalah meningkatkan pengetahuan petani dalam menerjemahkan informasi BMKG dalam menerapkan dan meminimalisir kegagalan panen.
Dalam pembukaannya, Sadarestuwati menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar mata pencahariannya merupakan petani. Reformasi untuk pertanian harus berjalan. PPL di setiap desa harus ditambah guna menjadi penyuluh atau perpanjangan tangan dalam pengembangan pengetahuan informasi di dunia pertanian. Harapannya hasil dari SLI ini dapat diimplementasikan serta petani Jombang mendapatkan kesejahteraan dan peningkatan produksi yang tinggi dan bisa mendapatkan pupuk secara mudah. Berharap dengan adanya SLI ini dapat menjadi pedoman yang mengacu pada apa yang didapat atau diprediksi oleh BMKG. Petani juga harus proaktif dalam mendapatkan informasi untuk mengetahui perkembangan informasi cuaca dan iklim supaya dapat produksi yang tinggi.
“Permasalahan pertanian dari faktor – faktor cuaca dan iklim semakin meningkat. Anomali iklim sangat luar biasa ketika terjadinya el nino sampai pada minggu pertama Januari hujan belum turun ini juga ngeri-ngeri sedap kemudian harus memaksimalkan pompa air dan sumur sibel untuk memacu pengairan pertanian di awal Desember dan Januari. Dengan adanya bimtek SLI ini akan semakin menambah pengetahuan petani dalam memahami iklim“ ungkap Ir. Much. Ronny MM, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.
Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumrambah,SP, M.AP memberikan sambutan bahwa pertanian ini adalah kekuatan besar dan mengurai permasalahan petani tidak mudah. Permasalahan lahan tahun 2012 masih ada lahan 8,2 juta hektar namun 10 tahun kemudian (2022) lahan menjadi 7,2 juta hektar yang mana lahan pertanian tersebut berubah jadi perumahan. Zaman dulu orang Jawa menggunakan “titi mongso” dalam menentukan tanam dan panen padi. Sekarang zaman sudah berubah dengan perkembangan pengetahuan serta perubahan iklim sehingga perlu penambahan wawasan untuk petani. Harapan kita adalah kepada generasi muda untuk meneruskan pertanian