Jombang, 18 Desember 2025 – Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) berlokasi di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Sedulur Tani Kabupaten Jombang dihadiri oleh 30 peserta, terdiri dari Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)/ PPOT dan petani di lingkungan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, (Jombang, 12/18). SLI ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai informasi cuaca dan iklim demi meningkatkan produksi pertanian.
Acara ini dibuka oleh Anggota DPR-RI Hj. Sadarestuwati, S.P., M.MA, serta dihadiri oleh Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumrambah,SP, M.AP, dan Kepala Bidang Perlindungan, Pasca Panen, dan Pemasaran Tanaman Pangan, Perkebunan serta Hortikultura Kabupaten Jombang (Akhmad Jani Masyudi), serta Koordinator MKG Provinsi Jawa Timur, dan para kepala UPT MKG di lingkungan Jawa Timur.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bapak Anung Suprayitno S.Si, M.Ling dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sekolah Lapang Iklim menjadi ajang untuk belajar dan mengupdate informasi iklim yang sulit untuk diprediksi. Sementara itu, pranoto mongso dikhawatirkan tidak sesuai lagi dengan kondisi alam. Salah satu dampak perubahan iklim Adalah peningkatan frekuensi munculnya badai tropis. Beberapa badai tropis di sekital wilayah Indonesia antara lain badai tropis Cempaka, Dahlia, Seroja, Bakung dan Senyar. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengharapkan bahwa informasi cuaca/iklim terus diupdate supaya dampak perubahan iklim pada tanaman budidaya dan hortikultura dapat diminimalisir. Bapak Anung Suprayitno, S.Si., M. Ling. juga menghimbau agar petani millennial dapat menyebarkan informasi iklim kepada para petani lainnya dan memanfaatkan informasi tersebut dalam aktivitas budidaya pertanian sehari-hari. Diharapkan akan terjalin kolaborasi yang baik antara BMKG, petani dan Dinas Pertanian.
Dalam sambutannya, Deputi Klimatologi, Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc. menyampaikan bahwa kehadiran peserta Sekolah Lapang Iklim (SLI) merupakan Langkah nyata dalam mewujudkan pertanian yang berketahanan terhadap perubahan iklim. Sekolah Lapang Iklim merupakan aksi konkrit dalam mewujudkan Asta Cita pemerintah RI yang bertujuan mewujudkan kemandirian bangsa dengan swasembada pangan, energi dan air serta memperkuat pembangunan Sumber Daya Manusia termasuk petani sebagai garda depan ketahanan pangan. Mengingatkan pentingnya mengelola curah hujan untuk menghindari dampak negatifnya pada pertanian, pentingnya menjaga lingkungan dan hutan sehingga hujan tidak menyebabkan runoff yang tinggi, banjir dan banjir bandang. Di bulan Desember 2025 Jombang mengalami curah hujan kategori menengah (200-300mm/bulan) yang akan meningkat menjadi kategori tinggi di Januari dan Februari. Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, M.Sc.menghimbau untuk waspada dan mengelolan Sumber Daya Air, terus mengikuti perkembangan cuaca/iklim dengan meminta informasi dari BMKG untuk menyusun strategi dan praktek dan rekomendasi pertanian yang tepat.
Anggota Komisi VI DPR RI, Hj. Sadarestuwati, S.P., M.MA, menyampaikan dalam sambutannya bahwa BMKG memiliki peran yang besar. Tanda-tanda alam saat ini sulit untuk diprediksi. Mengingat informasi BMKG digunakan oleh berbagai sektor termasuk transportasi dan pertanian, BMKG didorong untuk meningkatkan kinerja peralatan yang ada sehingga dapat memberikan data yang lebih akurat. Data yang dirilis oleh BMKG diharapkan dapat menjadi pegangan masyarakat dalam kegiatan mereka. menyarankan bahwa kegiatan SLI perlu ditambah dan pemerintah daerah perlu menindaklanjuti kegiatan SLI dengan pengembangan peserta yang pernah mengikuti SLI. Saat ini petani mengalami kondisi yang sulit karena masa panen yang bersamaan dengan produk pertanian yang menurun dan jumlah impor meningkat sehingga petani merugi. Petani memegang peranan penting dalam bidang ketahanan pangan. Inovasi dan pengembangan diri harus dilakukan sehingga produktivitas pangan meningkat dan swasembada pangan dapat tercapai.