( Prakiraan - Bulanan ) Curah Hujan Bulan JULI Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur ( Prakiraan - Bulanan ) Curah Hujan Bulan JULI Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 5 - 237 mm untuk Prakiraan jumlah curah hujan untuk bulan JULI Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Maret Tahun 2024 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan April Tahun 2024 dapat diprakirakan curah hujan pada bulan JULI Tahun 2024 sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Blega.
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian: Bangkalan, Kamal, dan Tanjungbumi.
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Modung dan Socah.
BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian: Modung dan Socah.
BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangkalan, Blega, Kamal, dan Tanjungbumi.
BANGKALAN 21 - 50 mm Seluruh: Arosbaya, Burneh, Galis, Geger, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Sepulu, Tanah Merah, dan Tragah.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Banyuwangi, Gambiran, Giri, Glagah, dan Srono.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Cluring, Pesanggaran, Siliragung, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Muncar, Purwoharjo, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Bangorejo, Licin, Purwoharjo, dan Songgon.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Glagah, Glenmore, Muncar, Sempu, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Banyuwangi, Cluring, Gambiran, Genteng, Giri, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Pesanggaran, Siliragung, Singojuruh, Srono, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Seluruh: Rogojampi.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Giri, Kabat, dan Kalibaru.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Genteng, Kalipuro, Singojuruh, dan Songgon.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Besar: Glagah, Glenmore, Licin, dan Sempu.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Glagah dan Sempu.
BANYUWANGI 151 - 200 mm Sebagian: Licin dan Songgon.
BANYUWANGI 201 - 300 mm Sebagian Kecil: Licin dan Songgon.
BLITAR 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Selorejo.
BLITAR 0 - 20 mm Sebagian: Binangun dan Gandusari.
BLITAR 0 - 20 mm Sebagian Besar: Doko, Garum, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, dan Wlingi.
BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Bakung, Kademangan, Kanigoro, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wonodadi, dan Wonotirto.
BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Doko, Garum, Kesamben, dan Nglegok.
BLITAR 21 - 50 mm Sebagian: Panggungrejo dan Wlingi.
BLITAR 21 - 50 mm Sebagian Besar: Binangun, Gandusari, dan Selorejo.
BLITAR 21 - 50 mm Seluruh: Wates.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bojonegoro, Kapas, Kepoh Baru, Sumberejo, dan Trucuk.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian: Gayam dan Padangan.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Dander, Kalitidu, Kedungadem, Ngasem, Purwosari, Sugihwaras, dan Temayang.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Seluruh: Bubulan, Gondang, Margomulyo, Ngambon, Ngraho, Sekar, dan Tambakrejo.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dander, Kedungadem, Ngasem, Purwosari, dan Temayang.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian: Kalitidu dan Sugihwaras.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bojonegoro, Gayam, Kapas, Kepoh Baru, Padangan, Sumberejo, dan Trucuk.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Seluruh: Balen, Baureno, Kanor, Kasiman, Kedewan, Malo, dan Sukosewu.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Tamanan dan Wringin.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian: Botolinggo, Taman Krocok, dan Tapen.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Cermee dan Klabang.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Seluruh: Prajekan.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Cermee dan Klabang.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Botolinggo.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Sumber Wringin, Taman Krocok, Tamanan, Tapen, Tlogosari, dan Wringin.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Seluruh: Binakal, Bondowoso, Curah Dami, Grujugan, Jambesari Darus Sholah, Maesan, Pakem, Pujer, Sukosari, Tegalampel, Tenggarang, dan Wonosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Botolinggo, Cermee, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Sumber Wringin.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Besar: Sempol.
BONDOWOSO 101 - 150 mm Sebagian: Sempol.
BONDOWOSO 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Sempol.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Balongpanggang, Duduksampeyan, dan Menganti.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Driyorejo dan Kedamean.
GRESIK 0 - 20 mm Seluruh: Wringinanom.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Driyorejo.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian: Kedamean.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Balongpanggang, Duduksampeyan, dan Menganti.
GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Benjeng, Bungah, Cerme, Dukun, Gresik, Kebomas, Manyar, Panceng, Sidayu, dan Ujungpangkah.
GRESIK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Sangkapura.
GRESIK 51 - 100 mm Seluruh: Tambak.
GRESIK 101 - 150 mm Sebagian: Sangkapura.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Jenggawah, Rambipuji, Sukowono, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian: Bangsalsari dan Semboro.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Besar: Ambulu, Balung, Jombang, Kencong, dan Puger.
JEMBER 0 - 20 mm Seluruh: Gumuk Mas, Umbulsari, dan Wuluhan.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ambulu, Balung, Jombang, dan Kencong.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Puger.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bangsalsari, Jenggawah, Ledokombo, Rambipuji, Semboro, Silo, Sukowono, Sumberjambe, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 21 - 50 mm Seluruh: Ajung, Arjasa, Jelbuk, Kalisat, Kaliwates, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Sukorambi, Sumber Baru, dan Sumbersari.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sumberjambe dan Tempurejo.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian: Ledokombo dan Silo.
JOMBANG 0 - 20 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gurah, Kayen Kidul, dan Ngadiluwih.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian: Kras, Tarokan, dan Wates.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Kandat, Kepung, Ngancar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, dan Purwoasri.
KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Badas, Kandangan, Kunjang, dan Ringinrejo.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kepung, Ngancar, Pare, dan Puncu.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian: Kandat, Plemahan, Plosoklaten, dan Purwoasri.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gurah, Kayen Kidul, Kras, Ngadiluwih, Tarokan, dan Wates.
KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Mojo, Ngasem, Pagu, Papar, dan Semen.
KOTA BATU 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bumiaji.
KOTA BATU 0 - 20 mm Seluruh: Batu dan Junrejo.
KOTA BATU 21 - 50 mm Sebagian: Bumiaji.
KOTA BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
KOTA MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Mayangan dan Wonoasih.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Mayangan.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Wonoasih.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Karang Pilang, Lakarsantri, dan Rungkut.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gunung Anyar.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian: Gunung Anyar.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Besar: Karang Pilang, Lakarsantri, dan Rungkut.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Seluruh: Asemrowo, Benowo, Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Jambangan, Kenjeran, Krembangan, Mulyorejo, Pabean Cantian, Pakal, Sambikerep, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Sukolilo, Tambaksari, Tandes, Tegalsari, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, Wonocolo, dan Wonokromo.
LAMONGAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, dan Sekaran.
LAMONGAN 0 - 20 mm Sebagian: Babat.
LAMONGAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Deket, Kedungpring, Kembangbahu, Mantup, Modo, Pucuk, Sarirejo, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 0 - 20 mm Seluruh: Bluluk, Lamongan, Ngimbang, Sambeng, Sugio, Sukodadi, dan Sukorame.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Deket, Kedungpring, Kembangbahu, Modo, Pucuk, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian: Mantup dan Sarirejo.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Babat, Glagah, Kalitengah, Karang Geneng, Karangbinangun, dan Sekaran.
LAMONGAN 21 - 50 mm Seluruh: Brondong, Laren, Maduran, Paciran, dan Solokuro.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Jatiroto, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Rowokangkung.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pasrujambe dan Rowokangkung.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian: Tempeh.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Jatiroto, Senduro, Sumbersuko, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 21 - 50 mm Seluruh: Gucialit, Kedungjajang, Klakah, Kunir, Lumajang, Padang, Randuagung, Ranuyoso, dan Sukodono.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sumbersuko.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Pronojiwo, Senduro, dan Tempursari.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candipuro, Pasrujambe, dan Tempeh.
LUMAJANG 51 - 100 mm Seluruh: Pasirian.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Candipuro.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pronojiwo dan Tempursari.
LUMAJANG 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Pronojiwo.
MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MAGETAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Karas dan Poncol.
MAGETAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bendo, Karangrejo, Kawedanan, Lembeyan, Maospati, dan Parang.
MAGETAN 0 - 20 mm Seluruh: Barat, Kartoharjo, Nguntoronadi, dan Takeran.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Lembeyan dan Maospati.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian: Bendo, Karangrejo, Kawedanan, dan Parang.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Karas dan Poncol.
MAGETAN 21 - 50 mm Seluruh: Magetan, Ngariboyo, Panekan, Plaosan, Sidorejo, dan Sukomoro.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bululawang, Kalipare, dan Wajak.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian: Poncokusumo dan Wonosari.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Jabung, Karangploso, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pakisaji, Singosari, Tajinan, dan Tumpang.
MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Dau, Kasembon, Pakis, Pujon, dan Wagir.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dampit, Jabung, Karangploso, Lawang, Ngantang, Singosari, Sumbermanjing, dan Tumpang.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian: Gedangan, Ngajum, Pakisaji, dan Tajinan.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bululawang, Kalipare, Poncokusumo, Turen, Wajak, dan Wonosari.
MALANG 21 - 50 mm Seluruh: Bantur, Donomulyo, Gondanglegi, Kepanjen, Kromengan, Pagak, Pagelaran, dan Sumber Pucung.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Poncokusumo dan Turen.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Wajak.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ampelgading, Dampit, Gedangan, dan Sumbermanjing.
MALANG 51 - 100 mm Seluruh: Tirto Yudo.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ampelgading, Gedangan, dan Sumbermanjing.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Trawas.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian: Gondang.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Dawar Blandong, Jatirejo, Kutorejo, Ngoro, dan Pungging.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Bangsal, Dlanggu, Gedek, Jetis, Kemlagi, Mojoanyar, Mojosari, Puri, Sooko, dan Trowulan.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kutorejo dan Pungging.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian: Dawar Blandong, Jatirejo, dan Ngoro.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gondang dan Trawas.
MOJOKERTO 21 - 50 mm Seluruh: Pacet.
NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Ngronggot.
NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian: Prambon.
NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Kertosono, Loceret, Ngetos, Pace, Sawahan, dan Tanjunganom.
NGANJUK 0 - 20 mm Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Lengkong, Nganjuk, Ngluyu, Patianrowo, Rejoso, Sukomoro, dan Wilangan.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kertosono, Pace, Sawahan, dan Tanjunganom.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian: Loceret dan Ngetos.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ngronggot dan Prambon.
NGAWI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gerih dan Karanganyar.
NGAWI 0 - 20 mm Sebagian: Kedunggalar.
NGAWI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Geneng, Paron, dan Pitu.
NGAWI 0 - 20 mm Seluruh: Bringin, Karangjati, Kasreman, Kwadungan, Ngawi, Padas, dan Pangkur.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Geneng dan Pitu.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian: Paron.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gerih, Karanganyar, dan Kedunggalar.
NGAWI 21 - 50 mm Seluruh: Jogorogo, Kendal, Mantingan, Ngrambe, Sine, dan Widodaren.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bandar dan Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Pacitan dan Sudimoro.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bandar, Kebonagung, Ngadirojo, Pringkuku, dan Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Seluruh: Arjosari, Donorojo, Nawangan, Punung, dan Tulakan.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngadirojo dan Pringkuku.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian: Kebonagung.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Pacitan dan Sudimoro.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Prigen.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian: Pandaan.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gempol, Purwodadi, Purwosari, Sukorejo, Tosari, dan Tutur.
PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bangil, Beji, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pasrepan, Pohjentrek, Puspo, Rejoso, Rembang, Winongan, dan Wonorejo.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Purwosari, Tosari, dan Tutur.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian: Gempol, Purwodadi, dan Sukorejo.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pandaan dan Prigen.
PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Ngrayun.
PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Badegan, Bungkal, Jambon, Pudak, Sambit, Sawoo, dan Slahung.
PONOROGO 0 - 20 mm Seluruh: Babadan, Balong, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pulung, Sampung, Siman, Sooko, dan Sukorejo.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Badegan, Bungkal, Jambon, dan Sawoo.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian: Pudak, Sambit, dan Slahung.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ngrayun.
PONOROGO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ngrayun.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bantaran, Dringu, dan Kuripan.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Sukapura dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Lumbang dan Sumberasih.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Tongas.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Lumbang dan Sumberasih.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bantaran, Dringu, Kuripan, Sukapura, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Banyuanyar, Besuk, Gading, Gending, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Krucil, Leces, Maron, Paiton, Pajarakan, Pakuniran, Sumber, Tegalsiwalan, dan Tiris.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Jrengik dan Kedungdung.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Karang Penang, Omben, Pangarengan, Sampang, Sokobanah, Sreseh, dan Torjun.
SAMPANG 0 - 20 mm Seluruh: Camplong.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Omben dan Sampang.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian: Karang Penang, Pangarengan, Sokobanah, Sreseh, dan Torjun.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Jrengik dan Kedungdung.
SAMPANG 21 - 50 mm Seluruh: Banyuates, Ketapang, Robatal, dan Tambelangan.
SIDOARJO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gedangan, Sukodono, Taman, dan Waru.
SIDOARJO 0 - 20 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, dan Wonoayu.
SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gedangan dan Sukodono.
SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian: Taman dan Waru.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Sumbermalang.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian: Asembagus dan Banyuputih.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Arjasa, Banyuglugur, Jatibanteng, Mlandingan, dan Suboh.
SITUBONDO 0 - 20 mm Seluruh: Besuki, Bungatan, Jangkar, Kapongan, Kendit, Mangaran, Panarukan, Panji, dan Situbondo.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Mlandingan dan Suboh.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Arjasa, Asembagus, Banyuglugur, dan Jatibanteng.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyuputih dan Sumbermalang.
SITUBONDO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Arjasa dan Asembagus.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Dasuk.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian: Rubaru.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Besar: Batuputih, Manding, Pasongsongan, dan Raas.
SUMENEP 0 - 20 mm Seluruh: Batang Batang, Batuan, Bluto, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Nonggunong, Pragaan, Saronggi, dan Talango.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Arjasa, Manding, Pasongsongan, dan Raas.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian: Batuputih.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dasuk, Kangayan, Rubaru, dan Sapeken.
SUMENEP 21 - 50 mm Seluruh: Ambunten dan Masalembu.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian: Kangayan dan Sapeken.
SUMENEP 51 - 100 mm Sebagian Besar: Arjasa.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Karangan, Pogalan, Pule, dan Suruh.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian: Tugu.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bendungan dan Trenggalek.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dongko, Panggul, dan Watulimo.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Bendungan, Kampak, dan Trenggalek.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Karangan, Pogalan, Pule, Suruh, dan Tugu.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Seluruh: Durenan dan Gandusari.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Suruh.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Munjungan dan Pule.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Besar: Dongko, Kampak, Panggul, dan Watulimo.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Dongko, Kampak, dan Watulimo.
TRENGGALEK 101 - 150 mm Sebagian Besar: Munjungan.
TRENGGALEK 151 - 200 mm Sebagian Kecil: Munjungan.
TUBAN 21 - 50 mm Seluruh: Bancar, Bangilan, Grabagan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Palang, Parengan, Plumpang, Rengel, Semanding, Senori, Singgahan, Soko, Tambakboyo, Tuban, dan Widang.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Campur Darat, Gondang, dan Sendang.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Boyolangu, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Ngantru, Pucang Laban, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Seluruh: Kedungwaru, Ngunut, Rejotangan, dan Sumbergempol.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kauman, Ngantru, Pucang Laban, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian: Boyolangu, Kalidawir, dan Karangrejo.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Besuki, Campur Darat, Gondang, dan Sendang.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Seluruh: Bandung, Pager Wojo, Pakel, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Besuki.


ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

  4. Rata-rata Curah Hujan Bulanan


    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan


    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan


    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan


    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  5. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

      Penentuan awal musim dilakukan untuk tipe ZOM dengan lebih dari 1 musim sedangkan ZOM dengan tipe 1 musim tidak ditentukan awal musim.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya

    Dilakukan untuk parameter prakiraan awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter prakiraan tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu prakiraan datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu prakiraan datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu prakiraan durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu prakiraan durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).