( Prakiraan - Bulanan ) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur ( Prakiraan - Bulanan ) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 0 - 115 mm untuk Prakiraan jumlah curah hujan untuk bulan AGUSTUS Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Mei Tahun 2024 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Juni Tahun 2024 dapat diprakirakan curah hujan pada bulan AGUSTUS Tahun 2024 sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 0 - 20 mm Seluruh: Arosbaya, Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Geger, Kamal, Klampis, Kokop, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Sepulu, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Cluring, Gambiran, dan Kalipuro.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian: Muncar dan Tegalsari.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Pesanggaran, Purwoharjo, Siliragung, Tegaldlimo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bangorejo, Licin, Purwoharjo, Songgon, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Glagah, Pesanggaran, Sempu, Siliragung, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Cluring, Gambiran, Genteng, Giri, Glenmore, Kabat, Kalipuro, Muncar, Singojuruh, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Seluruh: Banyuwangi, Kalibaru, Rogojampi, dan Srono.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Genteng, Giri, Glenmore, Kabat, Kalipuro, dan Singojuruh.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Glagah, Licin, Sempu, dan Songgon.
BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian: Kasiman dan Malo.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Balen dan Bojonegoro.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Seluruh: Baureno, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kanor, Kapas, Kedungadem, Kepoh Baru, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Balen dan Bojonegoro.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kasiman dan Malo.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Seluruh: Kedewan.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Botolinggo, Sempol, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian: Curah Dami, Grujugan, Klabang, Maesan, dan Taman Krocok.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Binakal, Cermee, Jambesari Darus Sholah, Prajekan, Pujer, Tamanan, dan Tegalampel.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Seluruh: Pakem dan Wringin.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Binakal, Cermee, dan Tamanan.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Jambesari Darus Sholah, Prajekan, Pujer, dan Tegalampel.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Botolinggo, Curah Dami, Grujugan, Klabang, Maesan, Sempol, Taman Krocok, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Seluruh: Bondowoso, Sukosari, Sumber Wringin, Tapen, Tenggarang, dan Wonosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sempol.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bungah dan Manyar.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Duduksampeyan, Dukun, Kebomas, dan Sidayu.
GRESIK 0 - 20 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Driyorejo, Gresik, Kedamean, Menganti, Panceng, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dukun dan Kebomas.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian: Duduksampeyan dan Sidayu.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bungah dan Manyar.
GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Sangkapura dan Tambak.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Besar: Jelbuk, Ledokombo, Puger, Silo, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 0 - 20 mm Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Bangsalsari, Gumuk Mas, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Panti, Patrang, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, Sumbersari, Umbulsari, dan Wuluhan.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Jelbuk, Puger, Sukowono, Sumber Baru, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Ledokombo, Silo, dan Sumberjambe.
JOMBANG 0 - 20 mm Seluruh: Bandar Kedung Mulyo, Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Mojo dan Semen.
KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Badas, Banyakan, Gampengrejo, Grogol, Gurah, Kandangan, Kandat, Kayen Kidul, Kepung, Kras, Kunjang, Ngadiluwih, Ngancar, Ngasem, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, Puncu, Purwoasri, Ringinrejo, Tarokan, dan Wates.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Mojo dan Semen.
KOTA BATU 0 - 20 mm Seluruh: Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
KOTA BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Kota Kediri, Mojoroto, dan Pesantren.
KOTA MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Wonoasih.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Wonoasih.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Kademangan, Kanigaran, Kedopok, dan Mayangan.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Tenggilis Mejoyo dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian: Gayungan, Krembangan, Mulyorejo, dan Wiyung.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Besar: Asemrowo, Bulak, Gunung Anyar, Karang Pilang, Kenjeran, Lakarsantri, Pabean Cantian, Rungkut, Sambikerep, Semampir, Sukolilo, dan Tandes.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Seluruh: Benowo dan Pakal.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gunung Anyar, Lakarsantri, Rungkut, dan Sambikerep.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian: Asemrowo, Bulak, Karang Pilang, Kenjeran, Pabean Cantian, Semampir, Sukolilo, dan Tandes.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gayungan, Krembangan, Mulyorejo, Tenggilis Mejoyo, Wiyung, dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Seluruh: Bubutan, Dukuh Pakis, Genteng, Gubeng, Jambangan, Sawahan, Simokerto, Suko Manunggal, Tambaksari, Tegalsari, dan Wonokromo.
LAMONGAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Glagah dan Karangbinangun.
LAMONGAN 0 - 20 mm Seluruh: Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Kalitengah, Karang Geneng, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Solokuro, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Karangbinangun.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian: Glagah.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Senduro dan Tempeh.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gucialit, Kunir, Padang, Randuagung, Ranuyoso, dan Sumbersuko.
LUMAJANG 0 - 20 mm Seluruh: Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Lumajang, Rowokangkung, Sukodono, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Kunir, Pronojiwo, Randuagung, dan Ranuyoso.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian: Candipuro, Gucialit, Padang, dan Sumbersuko.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pasirian, Pasrujambe, Senduro, dan Tempeh.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Pasirian dan Pasrujambe.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candipuro, Pronojiwo, dan Tempursari.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Pronojiwo.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian: Tempursari.
MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MAGETAN 0 - 20 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Magetan, Maospati, Ngariboyo, Nguntoronadi, Panekan, Parang, Plaosan, Poncol, Sidorejo, Sukomoro, dan Takeran.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Sumbermanjing.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian: Wajak.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gedangan, Poncokusumo, dan Turen.
MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Bantur, Bululawang, Dau, Donomulyo, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kasembon, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, Wagir, dan Wonosari.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Turen.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian: Ampelgading, Gedangan, dan Poncokusumo.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dampit, Sumbermanjing, Tirto Yudo, dan Wajak.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dampit.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian: Tirto Yudo.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ampelgading.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
NGANJUK 0 - 20 mm Seluruh: Bagor, Baron, Berbek, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Lengkong, Loceret, Nganjuk, Ngetos, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Patianrowo, Prambon, Rejoso, Sawahan, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGAWI 0 - 20 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karanganyar, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Mantingan, Ngawi, Ngrambe, Padas, Pangkur, Paron, Pitu, Sine, dan Widodaren.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Nawangan dan Tegalombo.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian: Bandar.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bandar, Nawangan, dan Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Seluruh: Arjosari, Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, dan Tulakan.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tosari, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Ngrayun dan Slahung.
PONOROGO 0 - 20 mm Seluruh: Babadan, Badegan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pudak, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Sooko, dan Sukorejo.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Slahung.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian: Ngrayun.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Besuk, Krucil, Paiton, Sumberasih, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Bantaran, Gading, Pakuniran, dan Tiris.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Dringu, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Kuripan, Leces, Lumbang, Sukapura, Sumber, dan Tongas.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Banyuanyar, Gending, Maron, Pajarakan, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Dringu, Kraksaan, Krejengan, Leces, Lumbang, Sukapura, dan Sumber.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Kotaanyar, Kuripan, dan Tongas.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bantaran, Besuk, Gading, Krucil, Paiton, Pakuniran, Sumberasih, Tiris, dan Wonomerto.
SAMPANG 0 - 20 mm Seluruh: Banyuates, Camplong, Jrengik, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, Sreseh, Tambelangan, dan Torjun.
SIDOARJO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Taman.
SIDOARJO 0 - 20 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
SIDOARJO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Taman.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Arjasa dan Asembagus.
SITUBONDO 0 - 20 mm Seluruh: Banyuglugur, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Jangkar, Jatibanteng, Kapongan, Kendit, Mangaran, Mlandingan, Panarukan, Panji, Situbondo, Suboh, dan Sumbermalang.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Arjasa dan Asembagus.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kangayan dan Sapeken.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Besar: Raas.
SUMENEP 0 - 20 mm Seluruh: Ambunten, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, dan Talango.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Raas.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kangayan dan Sapeken.
SUMENEP 21 - 50 mm Seluruh: Arjasa.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Dongko dan Watulimo.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian: Kampak.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Pule dan Suruh.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Seluruh: Bendungan, Durenan, Gandusari, Karangan, Pogalan, Trenggalek, dan Tugu.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Suruh.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Pule.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dongko, Kampak, Munjungan, dan Watulimo.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Seluruh: Panggul.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Watulimo.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Munjungan.
TUBAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Montong dan Soko.
TUBAN 0 - 20 mm Sebagian: Parengan dan Semanding.
TUBAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Grabagan, Palang, dan Rengel.
TUBAN 0 - 20 mm Seluruh: Plumpang dan Widang.
TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Palang dan Rengel.
TUBAN 21 - 50 mm Sebagian: Grabagan.
TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Montong, Parengan, Semanding, dan Soko.
TUBAN 21 - 50 mm Seluruh: Bancar, Bangilan, Jatirogo, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Senori, Singgahan, Tambakboyo, dan Tuban.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Besuki.


ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

  4. Rata-rata Curah Hujan Bulanan


    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan


    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan


    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan


    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  5. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

      Penentuan awal musim dilakukan untuk tipe ZOM dengan lebih dari 1 musim sedangkan ZOM dengan tipe 1 musim tidak ditentukan awal musim.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya

    Dilakukan untuk parameter prakiraan awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter prakiraan tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu prakiraan datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu prakiraan datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu prakiraan durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu prakiraan durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).