( Prakiraan - Bulanan ) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur ( Prakiraan - Bulanan ) Curah Hujan Bulan AGUSTUS Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2024 di Provinsi Jawa Timur

Berkisar antara 1 - 142 mm untuk Prakiraan jumlah curah hujan untuk bulan AGUSTUS Tahun 2024 - Update dari Analisis Bulan Juni Tahun 2024 di wilayah Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan pantauan, perhitungan serta analisis aktivitas dan dinamika atmosfer sampai dengan awal bulan Juli Tahun 2024 dapat diprakirakan curah hujan pada bulan AGUSTUS Tahun 2024 sebagai berikut :




Tabel

KABUPATEN / KOTA KRITERIA KECAMATAN
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
Cari pada kolom di atas ini ⇧
Lalu tekan Enter → di Keyboard
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Arosbaya, Klampis, Kokop, dan Sepulu.
BANGKALAN 0 - 20 mm Sebagian: Geger.
BANGKALAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arosbaya, Geger, Klampis, Kokop, dan Sepulu.
BANGKALAN 21 - 50 mm Seluruh: Bangkalan, Blega, Burneh, Galis, Kamal, Konang, Kwanyar, Labang, Modung, Socah, Tanah Merah, Tanjungbumi, dan Tragah.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Cluring dan Muncar.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian: Pesanggaran, Siliragung, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bangorejo, Purwoharjo, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Glagah, Licin, Purwoharjo, Sempu, dan Singojuruh.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian: Bangorejo, Glenmore, Kabat, dan Wongsorejo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Cluring, Genteng, Giri, Kalibaru, Kalipuro, Muncar, Pesanggaran, Rogojampi, Siliragung, dan Tegaldlimo.
BANYUWANGI 21 - 50 mm Seluruh: Banyuwangi, Gambiran, Srono, dan Tegalsari.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Kalibaru.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian: Genteng, Giri, Kalipuro, dan Rogojampi.
BANYUWANGI 51 - 100 mm Sebagian Besar: Glagah, Glenmore, Kabat, Licin, Sempu, Singojuruh, dan Songgon.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Licin.
BANYUWANGI 101 - 150 mm Sebagian: Songgon.
BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Bakung, Binangun, Doko, Gandusari, Garum, Kademangan, Kanigoro, Kesamben, Nglegok, Panggungrejo, Ponggok, Sanankulon, Selopuro, Selorejo, Srengat, Sutojayan, Talun, Udanawu, Wates, Wlingi, Wonodadi, dan Wonotirto.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kedewan.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Balen, Bojonegoro, Kanor, Kasiman, dan Malo.
BOJONEGORO 0 - 20 mm Seluruh: Baureno, Bubulan, Dander, Gayam, Gondang, Kalitidu, Kapas, Kedungadem, Kepoh Baru, Margomulyo, Ngambon, Ngasem, Ngraho, Padangan, Purwosari, Sekar, Sugihwaras, Sukosewu, Sumberejo, Tambakrejo, Temayang, dan Trucuk.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Balen, Bojonegoro, Kanor, dan Kasiman.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian: Malo.
BOJONEGORO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kedewan.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Binakal, Grujugan, Klabang, Pakem, Prajekan, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian: Maesan dan Pujer.
BONDOWOSO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Cermee, Jambesari Darus Sholah, dan Tamanan.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Tamanan.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian: Cermee dan Jambesari Darus Sholah.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Binakal, Grujugan, Klabang, Maesan, Pakem, Prajekan, Pujer, Sempol, Sumber Wringin, dan Tlogosari.
BONDOWOSO 21 - 50 mm Seluruh: Bondowoso, Botolinggo, Curah Dami, Sukosari, Taman Krocok, Tapen, Tegalampel, Tenggarang, Wonosari, dan Wringin.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Sumber Wringin dan Tlogosari.
BONDOWOSO 51 - 100 mm Sebagian: Sempol.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bungah dan Manyar.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian: Dukun dan Kebomas.
GRESIK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Cerme, Duduksampeyan, Menganti, Panceng, dan Sidayu.
GRESIK 0 - 20 mm Seluruh: Balongpanggang, Benjeng, Driyorejo, Kedamean, Ujungpangkah, dan Wringinanom.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Duduksampeyan dan Menganti.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian: Cerme, Panceng, dan Sidayu.
GRESIK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Bungah, Dukun, Kebomas, dan Manyar.
GRESIK 21 - 50 mm Seluruh: Gresik, Sangkapura, dan Tambak.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian: Silo.
JEMBER 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bangsalsari, Jelbuk, Ledokombo, Panti, Puger, Sukowono, Sumber Baru, Sumberjambe, Tanggul, dan Tempurejo.
JEMBER 0 - 20 mm Seluruh: Ajung, Ambulu, Arjasa, Balung, Gumuk Mas, Jenggawah, Jombang, Kalisat, Kaliwates, Kencong, Mayang, Mumbulsari, Pakusari, Patrang, Rambipuji, Semboro, Sukorambi, Sumbersari, Umbulsari, dan Wuluhan.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bangsalsari, Jelbuk, Panti, Sukowono, Sumber Baru, dan Tanggul.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian: Ledokombo, Puger, Sumberjambe, dan Tempurejo.
JEMBER 21 - 50 mm Sebagian Besar: Silo.
JEMBER 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Ledokombo.
JOMBANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bandar Kedung Mulyo.
JOMBANG 0 - 20 mm Seluruh: Bareng, Diwek, Gudo, Jogo Roto, Jombang, Kabuh, Kesamben, Kudu, Megaluh, Mojoagung, Mojowarno, Ngoro, Ngusikan, Perak, Peterongan, Plandaan, Ploso, Sumobito, Tembelang, dan Wonosalam.
JOMBANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bandar Kedung Mulyo.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kandat, Mojo, dan Semen.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian: Banyakan, Kepung, dan Wates.
KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Grogol, Gurah, Kandangan, Kras, Ngasem, Puncu, Ringinrejo, dan Tarokan.
KEDIRI 0 - 20 mm Seluruh: Badas, Gampengrejo, Kayen Kidul, Kunjang, Ngancar, Pagu, Papar, Pare, Plemahan, Plosoklaten, dan Purwoasri.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gurah, Kandangan, dan Tarokan.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian: Grogol, Kras, Ngasem, Puncu, dan Ringinrejo.
KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyakan, Kandat, Kepung, Mojo, Semen, dan Wates.
KEDIRI 21 - 50 mm Seluruh: Ngadiluwih.
KOTA BATU 0 - 20 mm Seluruh: Batu, Bumiaji, dan Junrejo.
KOTA BLITAR 0 - 20 mm Seluruh: Kepanjenkidul, Sananwetan, dan Sukorejo.
KOTA KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Pesantren.
KOTA KEDIRI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Kota Kediri dan Mojoroto.
KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Mojoroto.
KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian: Kota Kediri.
KOTA KEDIRI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Pesantren.
KOTA MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Kartoharjo, Mangu Harjo, dan Taman.
KOTA MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Blimbing, Kedungkandang, Klojen, Lowokwaru, dan Sukun.
KOTA MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Magersari dan Prajurit Kulon.
KOTA PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bugulkidul, Gadingrejo, Panggungrejo, dan Purworejo.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Kanigaran dan Kedopok.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Mayangan.
KOTA PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Wonoasih.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Wonoasih.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Kanigaran, Kedopok, dan Mayangan.
KOTA PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Kademangan.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Dukuh Pakis, Mulyorejo, dan Tandes.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian: Benowo, Gayungan, Jambangan, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Sebagian Besar: Karang Pilang, Pakal, Rungkut, Sambikerep, Sukolilo, dan Wiyung.
KOTA SURABAYA 0 - 20 mm Seluruh: Gunung Anyar dan Lakarsantri.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Karang Pilang, Pakal, Rungkut, dan Sambikerep.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian: Sukolilo dan Wiyung.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Sebagian Besar: Benowo, Dukuh Pakis, Gayungan, Jambangan, Mulyorejo, Tandes, Tenggilis Mejoyo, dan Wonocolo.
KOTA SURABAYA 21 - 50 mm Seluruh: Asemrowo, Bubutan, Bulak, Genteng, Gubeng, Kenjeran, Krembangan, Pabean Cantian, Sawahan, Semampir, Simokerto, Suko Manunggal, Tambaksari, Tegalsari, dan Wonokromo.
LAMONGAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Glagah, Kalitengah, Karangbinangun, dan Solokuro.
LAMONGAN 0 - 20 mm Seluruh: Babat, Bluluk, Brondong, Deket, Karang Geneng, Kedungpring, Kembangbahu, Lamongan, Laren, Maduran, Mantup, Modo, Ngimbang, Paciran, Pucuk, Sambeng, Sarirejo, Sekaran, Sugio, Sukodadi, Sukorame, Tikung, dan Turi.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Glagah, Karangbinangun, dan Solokuro.
LAMONGAN 21 - 50 mm Sebagian: Kalitengah.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gucialit dan Sumbersuko.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian: Kunir dan Padang.
LUMAJANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Lumajang, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 0 - 20 mm Seluruh: Jatiroto, Kedungjajang, Klakah, Randuagung, Ranuyoso, Rowokangkung, dan Sukodono.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Lumajang, Tekung, dan Yosowilangun.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian: Candipuro.
LUMAJANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gucialit, Kunir, Padang, Pasirian, Pasrujambe, dan Sumbersuko.
LUMAJANG 21 - 50 mm Seluruh: Senduro dan Tempeh.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Tempursari.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian: Pasirian, Pasrujambe, dan Pronojiwo.
LUMAJANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Candipuro.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Candipuro dan Pasirian.
LUMAJANG 101 - 150 mm Sebagian Besar: Pronojiwo dan Tempursari.
MADIUN 0 - 20 mm Seluruh: Balerejo, Dagangan, Dolopo, Geger, Gemarang, Jiwan, Kare, Kebonsari, Madiun, Mejayan, Pilangkenceng, Saradan, Sawahan, Wonoasri, dan Wungu.
MAGETAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Magetan, Ngariboyo, Panekan, Plaosan, dan Sidorejo.
MAGETAN 0 - 20 mm Seluruh: Barat, Bendo, Karangrejo, Karas, Kartoharjo, Kawedanan, Lembeyan, Maospati, Nguntoronadi, Parang, Poncol, Sukomoro, dan Takeran.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ngariboyo, Panekan, Plaosan, dan Sidorejo.
MAGETAN 21 - 50 mm Sebagian: Magetan.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gedangan dan Sumbermanjing.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian: Kasembon, Poncokusumo, Turen, dan Wajak.
MALANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bantur.
MALANG 0 - 20 mm Seluruh: Bululawang, Dau, Donomulyo, Gondanglegi, Jabung, Kalipare, Karangploso, Kepanjen, Kromengan, Lawang, Ngajum, Ngantang, Pagak, Pagelaran, Pakis, Pakisaji, Pujon, Singosari, Sumber Pucung, Tajinan, Tumpang, Wagir, dan Wonosari.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Ampelgading dan Bantur.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian: Tirto Yudo.
MALANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dampit, Gedangan, Kasembon, Poncokusumo, Sumbermanjing, Turen, dan Wajak.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Dampit, Poncokusumo, dan Sumbermanjing.
MALANG 51 - 100 mm Sebagian Besar: Ampelgading dan Tirto Yudo.
MALANG 101 - 150 mm Sebagian Kecil: Ampelgading.
MOJOKERTO 0 - 20 mm Seluruh: Bangsal, Dawar Blandong, Dlanggu, Gedek, Gondang, Jatirejo, Jetis, Kemlagi, Kutorejo, Mojoanyar, Mojosari, Ngoro, Pacet, Pungging, Puri, Sooko, Trawas, dan Trowulan.
NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Patianrowo.
NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian: Lengkong.
NGANJUK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Baron, Gondang, Jatikalen, Kertosono, Loceret, Ngetos, dan Sawahan.
NGANJUK 0 - 20 mm Seluruh: Bagor, Berbek, Nganjuk, Ngluyu, Ngronggot, Pace, Prambon, Rejoso, Sukomoro, Tanjunganom, dan Wilangan.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gondang, Loceret, Ngetos, dan Sawahan.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian: Baron, Jatikalen, dan Kertosono.
NGANJUK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Lengkong dan Patianrowo.
NGAWI 0 - 20 mm Sebagian: Karanganyar, Ngrambe, dan Sine.
NGAWI 0 - 20 mm Sebagian Besar: Widodaren.
NGAWI 0 - 20 mm Seluruh: Bringin, Geneng, Gerih, Jogorogo, Karangjati, Kasreman, Kedunggalar, Kendal, Kwadungan, Ngawi, Padas, Pangkur, Paron, dan Pitu.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian: Widodaren.
NGAWI 21 - 50 mm Sebagian Besar: Karanganyar, Ngrambe, dan Sine.
NGAWI 21 - 50 mm Seluruh: Mantingan.
PACITAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Bandar dan Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian: Nawangan.
PACITAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Arjosari, Bandar, dan Tegalombo.
PACITAN 21 - 50 mm Seluruh: Donorojo, Kebonagung, Ngadirojo, Pacitan, Pringkuku, Punung, Sudimoro, dan Tulakan.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Arjosari dan Bandar.
PACITAN 51 - 100 mm Sebagian Besar: Nawangan.
PAMEKASAN 0 - 20 mm Seluruh: Batu Marmar, Galis, Kadur, Larangan, Pademawu, Pakong, Palengaan, Pamekasan, Pasean, Pegantenan, Proppo, Tlanakan, dan Waru.
PASURUAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Tosari.
PASURUAN 0 - 20 mm Seluruh: Bangil, Beji, Gempol, Gondang Wetan, Grati, Kejayan, Kraton, Lekok, Lumbang, Nguling, Pandaan, Pasrepan, Pohjentrek, Prigen, Purwodadi, Purwosari, Puspo, Rejoso, Rembang, Sukorejo, Tutur, Winongan, dan Wonorejo.
PASURUAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Tosari.
PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian: Ngrayun.
PONOROGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Badegan, Pudak, dan Slahung.
PONOROGO 0 - 20 mm Seluruh: Babadan, Balong, Bungkal, Jambon, Jenangan, Jetis, Kauman, Mlarak, Ngebel, Ponorogo, Pulung, Sambit, Sampung, Sawoo, Siman, Sooko, dan Sukorejo.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Badegan, Pudak, dan Slahung.
PONOROGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Ngrayun.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Gading, Krucil, dan Sumberasih.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian: Sumber dan Tiris.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gending, Kuripan, Maron, Sukapura, Tongas, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 0 - 20 mm Seluruh: Bantaran, Banyuanyar, Dringu, Leces, Lumbang, dan Tegalsiwalan.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gending, Kuripan, dan Tongas.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian: Maron, Sukapura, dan Wonomerto.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Gading, Krucil, Sumber, Sumberasih, dan Tiris.
PROBOLINGGO 21 - 50 mm Seluruh: Besuk, Kotaanyar, Kraksaan, Krejengan, Paiton, Pajarakan, dan Pakuniran.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian: Sreseh.
SAMPANG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Banyuates, Jrengik, dan Tambelangan.
SAMPANG 0 - 20 mm Seluruh: Camplong, Karang Penang, Kedungdung, Ketapang, Omben, Pangarengan, Robatal, Sampang, Sokobanah, dan Torjun.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Banyuates.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian: Jrengik dan Tambelangan.
SAMPANG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Sreseh.
SIDOARJO 0 - 20 mm Seluruh: Balong Bendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Porong, Prambon, Sedati, Sidoarjo, Sukodono, Taman, Tanggulangin, Tarik, Tulangan, Waru, dan Wonoayu.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Banyuglugur.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian: Mlandingan.
SITUBONDO 0 - 20 mm Sebagian Besar: Arjasa, Asembagus, Banyuputih, Besuki, Bungatan, Kendit, Situbondo, dan Suboh.
SITUBONDO 0 - 20 mm Seluruh: Jangkar, Kapongan, Mangaran, Panarukan, dan Panji.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Asembagus, Banyuputih, Bungatan, Kendit, dan Situbondo.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian: Arjasa, Besuki, dan Suboh.
SITUBONDO 21 - 50 mm Sebagian Besar: Banyuglugur dan Mlandingan.
SITUBONDO 21 - 50 mm Seluruh: Jatibanteng dan Sumbermalang.
SUMENEP 0 - 20 mm Sebagian Besar: Raas.
SUMENEP 0 - 20 mm Seluruh: Ambunten, Batang Batang, Batuan, Batuputih, Bluto, Dasuk, Dungkek, Ganding, Gapura, Gayam, Giligenteng, Guluk Guluk, Kalianget, Kota Sumenep, Lenteng, Manding, Masalembu, Nonggunong, Pasongsongan, Pragaan, Rubaru, Saronggi, dan Talango.
SUMENEP 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Raas.
SUMENEP 21 - 50 mm Seluruh: Arjasa, Kangayan, dan Sapeken.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Dongko, Kampak, dan Watulimo.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Sebagian Besar: Gandusari, Pule, dan Suruh.
TRENGGALEK 0 - 20 mm Seluruh: Bendungan, Durenan, Karangan, Pogalan, Trenggalek, dan Tugu.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Gandusari dan Suruh.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian: Pule.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Sebagian Besar: Dongko, Kampak, Munjungan, dan Watulimo.
TRENGGALEK 21 - 50 mm Seluruh: Panggul.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian Kecil: Watulimo.
TRENGGALEK 51 - 100 mm Sebagian: Munjungan.
TUBAN 0 - 20 mm Sebagian Kecil: Grabagan, Jatirogo, Senori, dan Soko.
TUBAN 0 - 20 mm Sebagian: Parengan, Rengel, Semanding, dan Tambakboyo.
TUBAN 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bancar dan Palang.
TUBAN 0 - 20 mm Seluruh: Plumpang dan Widang.
TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bancar dan Palang.
TUBAN 21 - 50 mm Sebagian Besar: Grabagan, Jatirogo, Parengan, Rengel, Semanding, Senori, Soko, dan Tambakboyo.
TUBAN 21 - 50 mm Seluruh: Bangilan, Jenu, Kenduruan, Kerek, Merakurak, Montong, Singgahan, dan Tuban.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian: Besuki.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Sebagian Besar: Bandung, Campur Darat, Sendang, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 0 - 20 mm Seluruh: Boyolangu, Gondang, Kalidawir, Karangrejo, Kauman, Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Pager Wojo, Pakel, Pucang Laban, Rejotangan, Sumbergempol, dan Tulungagung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Kecil: Bandung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian: Campur Darat, Sendang, dan Tanggung Gunung.
TULUNGAGUNG 21 - 50 mm Sebagian Besar: Besuki.


ISTILAH DAN PENGERTIAN DALAM PRAKIRAAN KLIMATOLOGI


  1. Curah Hujan (mm)

    Merupakan ketinggian air hujan yang terkumpul dalam tempat yang datar, tidak menguap, tidak meresap, dan tidak mengalir.

    Curah Hujan 1 (satu) millimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air setinggi satu millimeter atau tertampung air sebanyak satu liter.

  2. Curah Hujan Kumulatif (mm)

    Merupakan jumlah hujan yang terkumpul dalam rentang waktu kumulatif tersebut.

    Dalam periode musim, rentang waktunya adalah rata-rata panjang musim pada masing-masing Zona Musim (ZOM).

  3. Normal Curah Hujan

  4. Rata-rata Curah Hujan Bulanan


    Rata-rata Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode minimal 10 tahun.

    Provisional Normal Curah Hujan


    Provisional Normal Curah Hujan bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan dengan periode waktu yang dapat ditentukan secara bebas dan disyaratkan minimal 10 tahun.

    Normal Curah Hujan Bulanan


    Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan masing-masing bulan selama periode 30 tahun.

    Standar Normal Curah Hujan Bulanan


    Standar Normal Curah Hujan Bulanan adalah nilai rata-rata curah hujan pada masing-masing bulan selama periode 30 tahun, dimulai dari tahun 1901 s/d 1930, 1931 s/d 1960, 1961 s/d 1990, 1991 s/d 2020 dan seterusnya.

  5. Zona Musim (ZOM)

    Adalah daerah yang pos hujan rata-ratanya memiliki perbedaan yang jelas antara periode Musim Hujan dan Musim Kemarau.

    Daerah yang pola hujannya tidak memiliki perbedaan yang jelas antara Musim Kemarau dan Musim Hujan disebut Non ZOM.

    Luas suatu wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas suatu wilayah administrasi pemerintahan.

    Dengan demikian, satu wilayah ZOM bisa terdiri dari beberapa kabupaten dan sebaliknya satu wilayah kabupaten bisa terdiri dari beberapa ZOM.

    Berdasarkan normal curah hujan periode 1991 – 2020, wilayah Indonesia memiliki 699 ZOM yang secara umum terbagi menjadi tiga tipe zona musim (ZOM), secara terinci sebagai berikut:

    1. Tipe ZOM Monsunal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan terendah.

      Hujan tertinggi terjadi pada periode berlangsungnya monsun Asia, biasanya terjadi di sekitar awal atau akhir tahun. ZOM dengan tipe monsunal dibedakan lagi menjadi dua sub tipe, yaitu:

      1. Tipe ZOM Monsunal-1, berpola monsunal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Monsunal-2, berpola monsunal dan mempunyai dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
    2. Tipe ZOM Ekuatorial, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan dengan dua puncak hujan, tipe ini terdiri dari beberapa sub tipe:

      1. Tipe ZOM Ekuatorial-1, berpola ekuatorial dan hanya mempunyai satu musim, yaitu musim hujan sepanjang tahun (HST)
      2. Tipe ZOM Ekuatorial-2, berpola ekuatorial, dan mempunyai dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
      3. Tipe ZOM Ekuatorial-4, berpola ekuatorial, dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
    3. Tipe ZOM Lokal, adalah ZOM yang memiliki pola hujan tahunan berbeda dengan tipe monsun dan juga berbeda dengan tipe ekuatorial.

      Zom ini umumnya memiliki satu periode hujan tertinggi dan satu periode hujan rendah, namun hujan tertingginya tidak terjadi pada periode monsun Asia.

      Tipe ini terdiri dari:

      1. Tipe ZOM Lokal-1, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode musim hujan sepanjang tahun (HST).
      2. Tipe ZOM Lokal-2, berpola lokal dan mempunyai dua musim yaitu satu periode musim kemarau dan satu periode musim hujan.
      3. Tipe ZOM Lokal-4, berpola lokal dan mempunyai empat musim yaitu dua periode musim kemarau dan dua periode musim hujan.
      4. Tipe ZOM Lokal-5, berpola lokal dan hanya mempunyai satu musim, yaitu periode kemarau sepanjang tahun (KST).
    4. Penentuan Awal Musim

      Penentuan awal musim, baik musim hujan maupun musim kemarau didasarkan pada jumlah curah hujan yang dihitung per dasarian, dengan ketentuan sebagai berikut:

      Awal Musim Kemarau, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim kemarau, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Awal Musim Hujan, ditetapkan berdasar jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter dan diikuti oleh 2 (dua) dasarian berikutnya.

      Permulaan musim hujan, bisa terjadi lebih awal (maju), sama, atau lebih lambat (mundur) dari normal (Normal Curah Hujan 1991 – 2020).

      Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari.

      Dalam satu bulan dibagi menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu:

      1. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10.
      2. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20.
      3. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan.

      Penentuan awal musim dilakukan untuk tipe ZOM dengan lebih dari 1 musim sedangkan ZOM dengan tipe 1 musim tidak ditentukan awal musim.

  6. Sifat Hujan

    Merupakan perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang ditetapkan (satu periode Musim Kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode (1981 – 2010).

    Sifat Hujan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

    1. Atas Normal (AN):

      Jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata- ratanya

    2. Normal (N):

      Jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata- ratanya

    3. Bawah Normal (BN):

      Jika nilai curah hujan kurang dari 85 % terhadap rata-ratanya

  7. Puncak Musim Hujan

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERTINGGI selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim hujan adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

  8. Puncak Musim Kemarau

    Merupakan periode dimana terdapat jumlah curah hujan TERENDAH selama 3 (tiga) dasarian berturut-turut.

    Jika 3 (tiga) dasarian tersebut berada pada bulan yang berbeda, bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau adalah dimana 2 (dua) dasarian tersebut berada.

    Jika terdapat minimal 3 (tiga) dasarian bernilai 0 (nol) milimeter, maka bulan yang dinyatakan sebagai puncak musim kemarau diambil di tengah periode tersebut.

  9. Durasi Musim

    merupakan jumlah dasarian dari awal musim hingga akhir musim.

    Durasi musim dibagi dalam 11 kategori dengan minimal durasi adalah 3 dasarian hingga terpanjang adalah lebih dari 33 dasarian.

  10. Perbandingan Terhadap Normalnya

    Dilakukan untuk parameter prakiraan awal musim, puncak musim dan durasi musim

    Masing- masing parameter prakiraan tersebut dibandingkan dengan normal musim periode 1991-2020.

    Untuk parameter Awal dan Puncak, terdapat istilah :

    1. MAJU yaitu prakiraan datang lebih awal dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan datang sama dengan normalnya,

    3. MUNDUR yaitu prakiraan datang lebih lambat dibandingkan dengan normalnya.

    Sedangkan pada parameter Durasi Musim, terdapat istilah :

    1. LEBIH PENDEK yaitu prakiraan durasi terjadi lebih pendek dibandingkan normalnya

    2. SAMA yaitu prakiraan durasi terjadi sama panjangnya degan normalnya

    3. LEBIH PANJANG yaitu prakiraan durasi terjadi lebih panjang dibandingkan normalnya.

  11. Satu Periode Musim

    Satu periode musim kemarau adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan curah hujan kurang dari 50 mm per dasarian atau total ketiganya kurang dari 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus kurang dari 50 mm per dasarian).

    Satu periode musim hujan adalah periode yang ditemukan dalam pola hujan tahunan, dimana terdapat minimal tiga dasarian berturut-turut dengan Curah Hujan (CH) lebih atau sama dengan 50 mm per dasarian atau total ketiganya lebih atau sama dengan 150 mm (syarat curah hujan dasarian pertama harus lebih besar atau sama dengan 50 mm per dasarian).